Connect with us

Lorong

Ancaman Budaya Menonton


DARI sekitar 220 juta penduduk  Indonesia, minat baca masyarakat cuma 0,0001 persen. Saat ini Indonesia menempati peringkat ke-38 dari 40 negara berkembang lainnya.

Hasil survey yang diungkapkan Ketua Dewan Pembina Yayasan untuk Jabar, Nety Ahmad Heryawan itu jadi tamparan keras. Padahal, membaca bisa menjadi indikasi sampai sejauh mana masyarakat bisa melahirkan gagasan. Kapasitas menuangkan gagasan tak bisa dilepaskan dari aktivitas membaca. Tidak heran, bila kemampuan menulis masyarakat kita terkena imbasnya.

 

Kalangan yang mengenyam dunia pendidikan tinggi sekalipun, tidak sedikit yang gagap menulis. Kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas membaca yang kurang. Menyedihkan. Membuat karya tulis saja, sering kita mendengar, para mahasiswa muruhkeun pada orang lain.

 

Pendidikan yang bisa memperkaya gagasan merupakan strategi terpenting memerangi kemiskinan. Pembangunan sekolah di pelosok, termasuk salah satu langkah yang menggembirakan. Mudah-mudahan saja, peresmian gedung sekolah dan madrasah Kampung Pasirjeungjing dan Cibaeud, Desa Lengkongjaya, Kecamatan Cigalontang, menjadi pertanda bagus.

 

Sejurus dengan komitmen yang dilontarkan istri Gubernur itu. Negara maju harus didukung oleh kualitas SDM yang cerdas. Salah satu indikasinya, minat baca yang tinggi. Tidak dipungkiri, dunia pendidikan, minat baca yang tinggi, dan kualitas SDM adalah tiga pilar yang saling terkait.

 

Salah satu gejala sosial yang musti dicermati, intervensi teknologi televisi yang sangat cepat, telah mengantar masyarakat melompat dari budaya tutur, ke budaya menonton. Kita tidak sempat membangun budaya membaca. Kondisi ini, tampaknya harus menjadi bahan kajian bersama.

 

Budaya menonton menjadi arus yang melawan tradisi membaca. Kondisi ini bisa terjadi, karena kemampuan menggagas masyarakat masih lemah. Televisi, salah satu wujud seni menggagas yang dilahirkan  setelah melalui tradisi membaca dan menulis yang matang.

 

Bisa dibayangkan, bila bangsa ini tidak menggelorakan minat baca dan mempertajam tradisi menulis sejak dini. Kemampuan menuangkan gagasan keteteran. Puaskah menjadi penikmat gagasan-gagasan bangsa lain?***


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lorong

  • Lorong

    Kesinambungan Bantuan Bencana

    MESTI dirancang program bantuan yang menyentuh kesinambungan hidup para pengungsi. Pemberdayaan ekonomi korban bencana menjadi sangat...

  • Lorong

    Hijrah: Lahir dan Batin

    HARI Jumat, 24 Juli 2015, malam terakhir awak redaksi berpacu dengan tenggat waktu di kantor lama,...

  • Lorong

    Fenomena Gunung Es Kekerasan pada Anak

    KASUS pembunuhan bocah Angeline di Bali menyita perhatian publik. Masih hangat juga, kasus penelantaran dan kekerasan...

  • Ekbis

    APBD Prorakyat

    SUDUT pandang yang berbeda antara komposisi belanja langsung dan belanja tidak langsung seringkali menjadi perdebatan birokrasi...

  • Lorong

    Impresi Laksana

    KAMI pernah merasakan kegetiran saat fluktuasi rupiah jumpalitan hingga titik terendah. Tahun 1997, deregulasi uang ketat...

  • Lorong

    Love Games

    DARI larik pertama sampai terakhir. Setiap kata dan ritma sama-sama menggairahkan. Cabikan bas Mark King langsung...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: