Connect with us

Lorong

Bijih Besi untuk Rakyat


APAPUN alasannya, investasi pada akhirnya, harus memberikan dampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.  Baik itu serapan tenaga kerja atau nilai keuntungan bersih yang bisa diraup.

Dilema penambangan pasir besi, terus berlangsung. Sejumlah kalangan. Lantaran, sampai sejauh ini belum ada data pasti, perihal angka yang masuk ke pundi-pundi daerah. Bupati Tasikmalaya, H. Uu Ruzhanul Ulum, mengaku belum menerima laporan detil ihwal itu.

Bukan bermaksud meniadakan dampak positif penambangan selama ini. Tenaga kerja, memang bisa diserap dan diberdayakan. Namun, di pihak lain sekelompok masyarakat merasa  terusik, karena berdampak negatif pada eksistensi lingkungan hidup.

Meskipun pasir bijih besi itu diekspor, tetapi dinilai kurang menguntungkan. Berbeda halnya bila pasir bijih besi itu diolah di tempat itu juga. Sekaligus dibangun dengan pabrik pengolahannya.

Wacana itu jauh-jauh hari sudah diwacanakan. Pertimbangannya, bila ada tempat pengolahan di kawasan penambangan, paling tidak bisa meminimalisir dampak lingkungan yang dikeluhkan masyarakat selama ini.

Artinya, bijih besi tidak usah dikeruk dengan pasirnya, cukup saripati besinya saja yang diangkut. Kemudian, wacana lain yang diharapkan menjadi solusi tengah, setelah dibangun pengolah bijih besi, kemudian dipertajam dengan membangun pelabuhan.

Asumsinya, bila pasir besi itu hendak diekspor bisa melalui jalan laut. Tidak seperti sekarang, melalui jalan darat diangkut dengan truk yang berpotensi mengelupas jalan raya.

Masalah bertambah pelik, saat truk pengangkut besi melintasi daerah otonom lain. Tempo lalu, Kabupaten Cilacap menyentil Kabupaten Tasik, soal sharing. Alasannya masuk akal. Kabupaten Cilacap termasuk kawasan yang dilalui truk-truk pengangkut pasir besi, sehingga bisa dipandang menjadi bagian dari bisnis proses penambangan pasir bijih besi.

Konflik horizontal yang bisa tersulut bukan saja antar masyarakat yang diuntungkan dan tidak diuntungkan di sekitar penambangan, melainkan bisa meluas lintas wilayah.

Langkah Pemerintah Daerah sebetulnya sudah diupayakan melalui rambu-rambu Izin Eksploitasi yang dilengkapi dengan Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), namun rupanya tidak bisa menjamin, pasalnya perizinan bisa saja lolos.  Tentu, Pemerintah harus lebih bijak mengambil langkah dan belajar dari bahaya laten  ketidakadilan sebagai pemicu konflik yang bisa terjadi kapan saja.

Langkah alternatif yang dipandang bisa menjadi solusi tengah, adalah mencari investor yang memiliki komitmen melakukan pengembangan dari hulu sampai ke hilir. Tidak saja menguras sumber daya alam, dikirim ke luar negeri. ***


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lorong

  • Lorong

    Kesinambungan Bantuan Bencana

    MESTI dirancang program bantuan yang menyentuh kesinambungan hidup para pengungsi. Pemberdayaan ekonomi korban bencana menjadi sangat...

  • Lorong

    Hijrah: Lahir dan Batin

    HARI Jumat, 24 Juli 2015, malam terakhir awak redaksi berpacu dengan tenggat waktu di kantor lama,...

  • Lorong

    Fenomena Gunung Es Kekerasan pada Anak

    KASUS pembunuhan bocah Angeline di Bali menyita perhatian publik. Masih hangat juga, kasus penelantaran dan kekerasan...

  • Ekbis

    APBD Prorakyat

    SUDUT pandang yang berbeda antara komposisi belanja langsung dan belanja tidak langsung seringkali menjadi perdebatan birokrasi...

  • Lorong

    Impresi Laksana

    KAMI pernah merasakan kegetiran saat fluktuasi rupiah jumpalitan hingga titik terendah. Tahun 1997, deregulasi uang ketat...

  • Lorong

    Love Games

    DARI larik pertama sampai terakhir. Setiap kata dan ritma sama-sama menggairahkan. Cabikan bas Mark King langsung...

Terhangat

BÉDA rasa, kecap 'nangtung', 'dahar', saméméh dianteur ku kecap 'jung' jeung 'am'. Kecap anteuran ngagambarkeun mimiti migawé. Kecap 'dahar' bisa waé ditapsirkeun eukeur atawa geus dahar. Tapi mun 'am dahar', nu kacipta téh ngamimitian ngahuap. Sarua jeung trét nulis. #preposisi

About 14 hours ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Twitter for Android

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: