Connect with us

Edukasi

Dari Diskusi Terbatas ke Workshop


Dari Diskusi Terbatas ke Workshop
Membedah Hasil Survey Pelayanan Pendidikan
CIPEDES, PriLM – Peran orang tua dalam pendidikan dipandang masih lemah. Hasil survey yang dilakukan Yayasan Sumbangsih Nuansa Indonesia Tasikmalaya (YSNIT) di antaranya menemukan kondisi rendahnya pemahaman orangtua dalam perannya sebagai pendukung peningkatan mutu pendidikan.
“Tidak sedikit orangtua yang masih belum paham tentang biaya rutin sekolah,” ujar Divisi Media YSNIT, Dini Amarillah Fajrin, dalam Diskusi Terbatas Hasil Temuan Survey Pelayanan Pendidikan di Aula Redaksi HU Priangan, Rabu (18/2).
Pelibatan orang tua dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah pun, imbuh Dini, dinilai minim. Kondisi itu memperparah pengetahuan orang tua tentang peran dan fungsinya dalam penyelenggaraan sekolah masih kurang. “Seperti keterlibatan dalam Rapat Sekolah ataupun penyusunan RAPBS),” katanya.
Intinya, perlu mempertajam partisipasi, tranparansi, dan akuntabilitas di dunia pendidikan. “Perlu ada workshop untuk mempertajam kapasitas masyarakat. Kita bisa mulai dari komite sekolah,” timpal akademisi A. Chahyanto yang turut serta dalam diskusi itu.
Pandangan senada dilontarkan Atang Setiawan, dari Lembaga Kajian Hak Azasi Manusia (LKHAM). Workshop ini bisa jadi pilihan untuk menindaklanjuti rekomendasi hasil survey YSNIT. “Kalau sudah siap forum harus segera mempersiapkan, rencana tindak lanjut,” katanya.
Hasil diskusi yang melibatkan Dewan Pendidikan Kota Tasikmalaya, Lembaga Kajian Kebijakan Daerah, Lembaga Kajian Hak Asasi Manusia (LKHAM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), akademisi dan Harian Umum Priangan, sepakat untuk menindaklanjuti diskusi terbatas itu dengan menggelar workshop pemberdayaan komite sekolah dan orang tua murid.

Membedah Hasil Survey Pelayanan Pendidikan

CIPEDES, PriLM – Peran orang tua dalam pendidikan dipandang masih lemah. Hasil survey yang dilakukan Yayasan Sumbangsih Nuansa Indonesia Tasikmalaya (YSNIT) di antaranya menemukan kondisi rendahnya pemahaman orangtua dalam perannya sebagai pendukung peningkatan mutu pendidikan.

“Tidak sedikit orangtua yang masih belum paham tentang biaya rutin sekolah,” ujar Divisi Media YSNIT, Dini Amarillah Fajrin, dalam Diskusi Terbatas Hasil Temuan Survey Pelayanan Pendidikan di Aula Redaksi HU Priangan, Rabu (17/2).Pelibatan orang tua dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah pun, imbuh Dini, dinilai minim. Kondisi itu mempengaruhi kapasitas peran orang tua dan fungsinya dalam penyelenggaraan sekolah.

“Seperti keterlibatan dalam Rapat Sekolah ataupun penyusunan RAPBS),” katanya.Intinya, perlu mempertajam partisipasi, tranparansi, dan akuntabilitas di dunia pendidikan. “Perlu ada workshop untuk mempertajam kapasitas masyarakat. Kita bisa mulai dari komite sekolah,” timpal akademisi A. Chahyanto yang turut serta dalam diskusi itu.

Pandangan senada dilontarkan Atang Setiawan, dari Lembaga Kajian Hak Azasi Manusia (LKHAM). Workshop ini bisa jadi pilihan untuk menindaklanjuti rekomendasi hasil survey YSNIT. “Kalau sudah siap forum harus segera mempersiapkan, rencana tindak lanjut,” katanya.

Penguatan kapasitas kelembagaan komite sekolah, dipandang Dedi Key dari Elkabid, sangat mendesak. “Karena tidak berdayanya komite sekolah menyebabkan fungsi pengawasan dalam penyelenggaraan pendidikan menjadi mandul,” katanya.

Hasil diskusi yang melibatkan Dewan Pendidikan Kota Tasikmalaya, Lembaga Kajian Kebijakan Daerah (Elkabid), Lembaga Kajian Hak Asasi Manusia (LKHAM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), akademisi, A. Chahyanto, dan Harian Umum Priangan, sepakat untuk menindaklanjuti diskusi terbatas itu dengan menggelar workshop pemberdayaan komite sekolah dan orang tua murid.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edukasi

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: