Connect with us

Lorong

Dilarang Sakit


“DI negeri yang sakit, orang miskin dilarang sakit”. Ungkapan ironi yang kerap terdengar dalam pementasan teater dan sajak tersebut terasa mempertanyakan Takdir. Tapi begitulah kenyataan yang sering diterima orang-orang papa saat harus menghadapi penyakit yang dideritanya. Tidak punya uang membuat kaum miskin tidak berdaya, terhina, dan hanya mampu mengelus dada.

Ironi itu pula yang kembali terdengar di negeri ini. Kali ini datangnya dari Kab. Ciamis. Salah seorang warganya, Eka Febriani (18) bersama bayinya, Arya Zaki Pratama, terpaksa “tersandera” di Ruang Bersalin RSUD Ciamis. Hingga Senin (28/12), warga yang mengontrak rumah di  Kampung Bolenglang RT 02/05, Kel. Kertasari, Kec. Ciamis, itu telah dua pekan berada di rumah sakit pemerintah tersebut.

Eka bukannya betah tinggal di ruang putih itu. Tapi dirinya tersandung biaya persalinan yang harus dibayar sebesar Rp 4 juta. Parahnya lagi, keluarga Eka pun tidak memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) karena persyaratan administrasinya tidak lengkap.

Tak pelak, kegembiraan atas kelahiran sang bayi yang mungil dan lucu malah membuatnya bingung.  Jaminan pembayaran yang diminta pihak rumah sakit terasa sangat berat karena suaminya, Yaya (26), menganggur. Tentu, dalam situasi seperti itu, jangankan uang jutaan, sepeser pun sangat sulit diperoleh. Eka tidak tahu kapan suaminya akan membawa uang. Sebab itu, kini Eka hanya bisa berdoa sehingga Allah SWT menolongnya.

Keluhan Eka tersebut tidak mendapat bantahan dari pihak RSU Ciamis. Kepala Ruang Kebidanan RSUD Ciamis Hj. Eli mengakui penahanan Eka  karena tidak bisa membayar biaya persalinan. Menurutnya, Eka masuk RSUD kategori umum sehingga harus membayar biaya persalinan.

Eli pun memberi solusi jitu. Keluarga pasien disarankan meminta bantuan ke Departemen Sosial. Solusi lainnya meminta pertolongan dari donatur. Katanya, “Selama belum bisa membayar Eka akan tetap dirawat. Kami hanya menempuh prosedur rumah sakit yang harus dijalankan”.  

Secara prosedural bisa jadi langkah pegawai pihak rumah sakit itu sangat benar. Namun dari situ pula terlihat bahwa lembaga tersebut kaku, text book, hanya menuruti hal-hal yang bersifat tertulis. Jawaban itu tidak memperlihatkan adanya rasa empati, pertimbangan, atau solusi yang lebih elegan atas Takdir kemanusiaan yang dihadapi orang semacam Eka.

Dari jawaban itu pula terlihat bahwa lembaga kesehatan pelat merah itu hanya profit oriented. Pihak rumah sakit tidak meyodorkan solusi yang memberikan pencerahan kepada sang pasien terkait SKTM atau fasilitas jaminan kesehatan bagi rakyat miskin lainnya. Padahal, sejatinya fungsi rumah sakit bukan semata-mata pelayanan medis, melainkan ada pula fungsi kemanusiaan seperti termaktub dalam Undang-undang Nomor 23/Tahun 1992 tentang Kesehatan.

Dari kasus ini pula seharusnya membuat Pemkab Ciamis lebih peka. Terhadap rumah sakit umum sebagai lembaga milik pemerintah daerah, jangan terlalu dibebani dengan pencapaian target pendapatan yang saklek. Apalagi bila Pemkab menyebut-nyebut pendapatan rumah sakit itu nantinya bertujuan untuk kesejahteraan rakyat lagi. 

Tak hanya itu. Kasus ini pun menunjukkan bahwa birokrasi dan pendataan soal fasilitas kartu pelayanan kesehatan terhadap warga miskin mesti dibenahi lagi. Mengapa keluarga miskin seperti Eka tidak memiliki SKTM. Di bagian administrasi mana persyaratan memiliki surat yang tidak lengkap itu. Bagi keluarga miskin, bila ada kemudahan dalam birokrasi untuk mendapatkan SKTM, mereka tentu tidak akan malas melakukan pengurusan kartu surat tersebut.

Mudah-mudahan kasus yang menimpa Eka adalah yang terakhir, setelah sebelumnya kasus seperti itu terjadi pula di sejumlah rumah sakit swasta di Ciamis dan daerah lain. Semua pihak mesti menyadari bahwa tidak ada orang yang ingin dilahirkan dalam kondisi miskin.  Kasus ini pun tidak akan terjadi bila Eka ditakdirkan hidup dengan mujur; menjadi orang kaya, karena bagi orang kaya apalah arti uang Rp 4 juta. Masalahnya, siapa yang kuasa menolak sakit?***


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lorong

  • Lorong

    Kesinambungan Bantuan Bencana

    MESTI dirancang program bantuan yang menyentuh kesinambungan hidup para pengungsi. Pemberdayaan ekonomi korban bencana menjadi sangat...

  • Lorong

    Hijrah: Lahir dan Batin

    HARI Jumat, 24 Juli 2015, malam terakhir awak redaksi berpacu dengan tenggat waktu di kantor lama,...

  • Lorong

    Fenomena Gunung Es Kekerasan pada Anak

    KASUS pembunuhan bocah Angeline di Bali menyita perhatian publik. Masih hangat juga, kasus penelantaran dan kekerasan...

  • Ekbis

    APBD Prorakyat

    SUDUT pandang yang berbeda antara komposisi belanja langsung dan belanja tidak langsung seringkali menjadi perdebatan birokrasi...

  • Lorong

    Impresi Laksana

    KAMI pernah merasakan kegetiran saat fluktuasi rupiah jumpalitan hingga titik terendah. Tahun 1997, deregulasi uang ketat...

  • Lorong

    Love Games

    DARI larik pertama sampai terakhir. Setiap kata dan ritma sama-sama menggairahkan. Cabikan bas Mark King langsung...

Terhangat

BÉDA rasa, kecap 'nangtung', 'dahar', saméméh dianteur ku kecap 'jung' jeung 'am'. Kecap anteuran ngagambarkeun mimiti migawé. Kecap 'dahar' bisa waé ditapsirkeun eukeur atawa geus dahar. Tapi mun 'am dahar', nu kacipta téh ngamimitian ngahuap. Sarua jeung trét nulis. #preposisi

About 14 hours ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Twitter for Android

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: