Connect with us

Lorong

Diskusi Terfokus Refleksi Hardiknas


 

BEM Se-Tasik & PMII Bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya

 

diskusi-terfokus

Diskusi Terfokus bersama PMII tempo lalu
Sejak merdeka, Indonesia sudah memiliki 26 menteri yang mengurus bab pendidikan. Menteri pertama dijabat Ki Hajar Dewantara 19 Agustus 1945. Saat itu namanya Menteri Pengajaran. Sebelum jadi Kantor Kementerian Pendidikan Nasional — sejak era Kabinet Reformasi Pembangunan, 23 Mei 1998 — lembaga kementerian ini sudah beberapa kali bersalin rupa. Paling berbekas, ketika pejabatnya disebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). 

Menurut catatan, tahun 1949 ketika Ali Sastroamidjojo menduduki jabatan itu, Menteri Pengajaran berubah namanya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sebutan itu bertahan hingga tahun 1956.  Saat dijabat RM. Suwandi namanya pun diganti menjadi Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan. Namun setahun berikutnya dikembalikan lagi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ketika dijabat Sarino Mangunpranoto. Tidak bertahan lama, tahun itu juga namanya sudah ada embel-embel Menteri Muda.

Lantas, dari tahun 1962 hingga penghujung era Orde Baru namanya kembali menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Terakhir atribut kementrian itu ditangani Wiranto Arismunandar.

Kantor Kementerian Pendidikan Nasional yang dikenal hingga sekarang sejak era reformasi, sudah dijabat lima orang, Juwono Soedarsono, Yahya Muhaimin, Abdul Malik Fadjar, Bambang Sudibyo, dan Mohammad Nuh.

Lumrah bila ada kalangan yang menilai, kebijakan setiap Menteri selalu berubah. Lantaran, yang menjabatnya pun setiap era selalu berganti. Ihwal itu kita anggap wajar saja. Tampaknya tak perlu memperuncing persoalan yang sudah kompleks dengan tudingan dan gugatan, apalagi memaki-maki. Ada pepatah, sesuatu yang dimulai dengan kemarahan akan berakhir dengan penyesalan.

Saat ini, ada baiknya masyarakat turut mengawal dengan proaktif. Termasuk, membangun komitmen kuat, agar akses pendidikan bisa dinikmati seluruh rakyat tanpa kecuali. Memantau ketat agar celah korupsi di dunia pendidikan bisa dipersempit.

Pro kontra Ujian Nasional tempo lalu cukup menyita energi. Sekarang, saatnya tenaga kita hemat. Pasalnya, ada persoalan serius yang musti ditangani dengan pikiran yang segar dan tenang. Diskusi Terfokus di Redaksi Kabar Priangan bersama Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) se-Tasikmalaya, akan membedah masalah pendidikan di Kota Tasikmalaya, langsung ke jantungnya. Usai Upacara Hari Pendidikan Nasional, Kepala Dinas Pendidikan Kota, Drs. H. Endang Suherman, M.Pd, rencananya langsung bergegas ke Kantor Redaksi Kabar Priangan, Selasa (4/5).

Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lorong

  • Lorong

    Kesinambungan Bantuan Bencana

    MESTI dirancang program bantuan yang menyentuh kesinambungan hidup para pengungsi. Pemberdayaan ekonomi korban bencana menjadi sangat...

  • Lorong

    Hijrah: Lahir dan Batin

    HARI Jumat, 24 Juli 2015, malam terakhir awak redaksi berpacu dengan tenggat waktu di kantor lama,...

  • Lorong

    Fenomena Gunung Es Kekerasan pada Anak

    KASUS pembunuhan bocah Angeline di Bali menyita perhatian publik. Masih hangat juga, kasus penelantaran dan kekerasan...

  • Ekbis

    APBD Prorakyat

    SUDUT pandang yang berbeda antara komposisi belanja langsung dan belanja tidak langsung seringkali menjadi perdebatan birokrasi...

  • Lorong

    Impresi Laksana

    KAMI pernah merasakan kegetiran saat fluktuasi rupiah jumpalitan hingga titik terendah. Tahun 1997, deregulasi uang ketat...

  • Lorong

    Love Games

    DARI larik pertama sampai terakhir. Setiap kata dan ritma sama-sama menggairahkan. Cabikan bas Mark King langsung...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: