Connect with us

Teater/Film

Garapan Teater "Salapan"


PELAJAR sangat merindukan aktivitas lapangan. Ruang kelas tidak cukup untuk mengaktualisasikan diri. Mereka butuh tempat yang lebih leluasa. Selain intra, kurikulum pendidikan sangat membuka peluang aktivitas lapangan itu dalam kurikulum ekstra, yang populer disebut “eskul” di kalangan anak didik.

“Kami bisa total berekspresi di Teater ’9?,” cetus Nisya Afrilia, usai menggelar pertunjukan perdana eskul teater SMAN 9 Tasikmalaya itu di Gedung Kesenian Tasikmalaya, tiga hari maraton Jumat-Minggu (2-4/11/2012).

Naskah drama berbahasa Sunda “Muntangan Alip” karya terakhir R. Hidayat Suryalaga, berhasil ditafsirkan para aktor teater pemula itu. Padahal, naskah itu sarat dengan dialog filosopis yang boleh jadi asing bagi kalangan pelajar.

Sutradara Johan Jo, jebolan Teater Windu Tasikmalaya itu tampaknya harus bekerja keras untuk memahamkan teks drama itu kepada para pemeran. Lantaran, dari awal sampai akhir, dialog menyiratkan makna yang harus dicermati dan dihayati.

Proses kreatif yang dijalani, sejak memilih dan membedah naskah, pemeranan, pengelolaan pertunjukan, paling tidak akan merangsang setiap orang yang teribat untuk total dalam garapan. Tenaga dan pikiran harus dicurahkan.

PARA pendukung "Muntangan Alip" sebelum beraksi di panggung.

PARA pendukung “Muntangan Alip” sebelum beraksi di panggung.

Eskul teater, salah satu wahana strategis yang bisa digelorakan di sekolah. Para pengusungnya, tidak saja terwadahi ekspresinya di lingkungan sekolah semata. Tetapi, mereka pun bisa berjejaring dengan sekolah lain, bahkan kalangan lain yang luas. Saat menggarap naskah Muntangan Alip, Teater “9” dibantu komunitas teater lintas sekolah, seperti Teater Windu dan Teater Kappas SMA Pasundan 2 Tasikmalaya.

Manajemen pertunjukan yang diam-diam tertanam, akan mempertajam kapasitas individu para pelajar yang terlibat. Contoh kecil, bagaimana mereka harus menghadirkan penonton, agar pertunjukan yang dipanggungkan menjadi sangat bermakna.

Ratusan pelajar dari SMAN 1 Tasikmalaya, SMAN 5 Tasikmalaya, SMAN 9 Tasikmalaya, SMA Manarulhaq dan Bahrul Ulum, turut terlibat sebagai apresiator. Tentunya tidak mengalir begitu saja, atau sebuah kebetulan. Semuanya, harus diurus.

Selain memupuk kemampuan berjejaring, diam-diam juga menjaring para guru dan pihak sekolah yang memiliki komitmen untuk mengembangkan dirinya dan anak didiknya.

Selamat berkarya!


Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Teater/Film

  • Teater/Film

    Komunitas Belajar Film

    PENDIDIKAN yang didambakan melahirkan perubahan, diakui, tak selamanya sempurna. Ruang untuk menjajal kapasitas individu siswa semacam...

  • Lorong

    Angels and Demons

    MANUSIA membutuhkan agama dan ilmu pengetahuan. Kelembutan budi dan kecerdasan yang tak bisa lepas dari kehendak...

  • Teater/Film

    Ruang Perbedaan

      PANDANGAN kolektif warga, boleh jadi rujukan. Konvensi yang diakui publik. Sekalipun, tidak selamanya pandangan itu...

  • Teater/Film

    Gravity

    SENYAP. Puing-puing satelit, noktah kecil di ruang maha luas. Maut dan sepi tipis jaraknya. Dr. Ryan...

  • Teater/Film

    Sadar Potensi

    NONTON film animasi ini, paling tidak, penonton diajak untuk sadar poténsi. Berpikir objektif dan positif tentang...

  • Teater/Film

    Politic Show

    FILM tidak semata-mata dibuat untuk menghibur. Tetapi harus ada pesan yang disampaikan. The Hunger Games: Catching...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: