Connect with us

Lorong

Gizi Buruk dan Kejujuran


rainydaySALAH satu yang menjadi indikator sukses daerah otonom adalah kesehatan warganya. Komponen kesehatan menjadi salah satu sektor utama di samping pendidikan dan daya beli masyarakat. Istilah teknis versi pemerintah, sering disebut dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

IPM muncul dalam bentuk angka, dari data yang telah diolah berdasarkan pendalaman ketiga sektor itu. Kesehatan, pendidikan, dan ekonomi masyarakat, menjadi tolok ukur utama.

Soal akurasi data, kita simpan dulu. Hasil penelitian setiap daerah otonom di seluruh tanah air, sangat terbuka untuk diperdebatkan. Daerah Ciamis dan Tasikmalaya, termasuk daerah yang pernah menjalani program Program Pendanaan Kompetensi – Indeks Pembangunan Manusia (PPK-IPM), beberapa tahun lalu. Program itu, di antaranya dituntut menghasilkan angka Indeks Pembangunan Manusia, setelah menggenjot program pemberdayaan masyarakat di tiga sektor (pendidikan, kesehatan, dan ekonomi) dalam tempo satu tahun.

Bahkan, bila berjalan mulus, program itu diperpanjang hingga dua tahun. Puluhan miliar, digelontorkan untuk menjalankannya. Baiklah, kita tidak usah mengungkit berapa nilai uang program-program yang digelindingkan pemerintah. Tetapi, yang harus dipertajam adalah bagaimana mempertanggungjawabkan program itu.

Lantaran, bagaimana pun, program-program pemerintah pada hakekatnya menggunakan uang rakyat juga. Bila masyarakat meminta pertanggungjawaban, sangat wajar. Bahkan, sudah menjadi keniscayaan.

Salah satunya, mengapa kasus-kasus gizi buruk masih terus terdengar. Apakah, program-program yang dijalankan selama ini betul-betul telah tepat pada sasaran? Ataukah, hanya menjadi modus sekadar untuk mencari sumber pendanaan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain? Termasuk di antaranya, mencari rabat dari program yang dijalankan itu.

Sehingga data yang dihasilkan tidak bisa dipertanggungjawabkan akurasinya. Angka IPM yang dilaporkan tidak berdasar pada fakta di lapangan. Tidak jauh berbeda dengan laporan-laporan bergaya ‘asal bapak senang’.

Temuan kasus gizi buruk di Ciamis tempo hari menjadi sorotan langsung Bupati Engkon Komara. Ia meminta agar para petugas mempertajam pendataan kasus gizi buruk. Lantaran, boleh jadi, laporan yang selama ini diterima umumnya bernada manis.

Data di Kota Tasikmalaya, dari jumlah balita 84.378 jiwa, sekitar 13,5 % atau sekitar 11.391 balita menderita gizi buruk. Kondisi itu terungkap dari lokakarya kecil-kecilan, bertajuk Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan. Dari ajang lokakarya seperti itu saja bisa ditemukan data yang sangat penting. Boleh jadi, akurasinya bisa dipertanggungjawabkan dari pada program rutin tahunan berdana besar. ***


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
3 Komentar

3 Komentar

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lorong

  • Lorong

    Kesinambungan Bantuan Bencana

    MESTI dirancang program bantuan yang menyentuh kesinambungan hidup para pengungsi. Pemberdayaan ekonomi korban bencana menjadi sangat...

  • Lorong

    Hijrah: Lahir dan Batin

    HARI Jumat, 24 Juli 2015, malam terakhir awak redaksi berpacu dengan tenggat waktu di kantor lama,...

  • Lorong

    Fenomena Gunung Es Kekerasan pada Anak

    KASUS pembunuhan bocah Angeline di Bali menyita perhatian publik. Masih hangat juga, kasus penelantaran dan kekerasan...

  • Ekbis

    APBD Prorakyat

    SUDUT pandang yang berbeda antara komposisi belanja langsung dan belanja tidak langsung seringkali menjadi perdebatan birokrasi...

  • Lorong

    Impresi Laksana

    KAMI pernah merasakan kegetiran saat fluktuasi rupiah jumpalitan hingga titik terendah. Tahun 1997, deregulasi uang ketat...

  • Lorong

    Love Games

    DARI larik pertama sampai terakhir. Setiap kata dan ritma sama-sama menggairahkan. Cabikan bas Mark King langsung...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: