Connect with us

Sosbud

Hajat Laut tanpa Kepala Kerbau


TASIK, PriLM – Sudah lima tahun, perayaan Hajat laut atau Syukur Laut Nelayan Pamayangsari, Desa, Cikawungading, Kec. Cipatujah, Kab. Tasikmalaya dalam larung sesaji ke tengah laut tanpa kepala kerbau. Padahal tahun-tahun sebelumnya larung sesaji ke tengah laut wajib disertai potongan kepala kerbau.

Hal itu dilakukan sebagai bentuk  syukur para nelayan atas melimpahnya tangkapan ikan di perairan Pamayangsari.

Sejak lima tahun terakhir, tradisi larung kepala kerbau dihilangkan, karena dianggap kurang sejalan sengan syariat Islam. Termasuk pada hajat laut yang digelar Minggu (27/12) kemarin, tradisi tersebut tidak dilakukan. Hanya saja  “ngalarung” ke tengah laut masih dilakukan meskipun hanya melepas jampana kosong yang sudah dihias.

“Sengaja kita hilangkan semua tradisi yang tidak sejalan dengan syariat Islam, karena hajat laut yang kita lakukan sebagai bentuk syukur kita kepada Allah atas karunia yang telah diberikan pada kita Nelayan, tidak mesti dengan kepala kerbau,” ungkap Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kab. Tasikmalaya, Dedi Mulyadi kemarin.

Meskipun larung sesaji tanpa disertai kepala kerbau, tangkapan ikan nelayan Pamayangsari ternyata malah melimpah. Buktinya pada tahun 2000 silam saat hajat laut kerap disertai dengan kepala Kerbau tangkapan ikan nelayan tiap tahunya hanya 184 ton. Namun sekarang pada tahun 2009 tangkapan ikan nelayan mencapai 804 ton per tahun.

“Hajat laut ini perlu dilestarikan sebagai budaya leluhur, tetapi prosesinya diselaraskan dengan syiar agama Islam. Karena jelas meskipun tanpa kepala kerbau, tangkapan ikan nelayan malah melimpah,” ungkap Asisiten Administrasi Ekonomi dan Pembangunan, Budi Utarma.

Ia pun mengatakan laut untuk bekal hidup samudra membawa keraharjaan bagi masyarakat, untuk itu manfaatkan potensi laut yang ada untuk keraharjaan masyarakat, tetapi syukur kepada allah jangan dilupakan. Prosesi hajat laut nelayan tahun ini berjalan lancar, meskipun Bupati Tasikmalaya, H T Farhanul Hakim tidak hadir dalam kegiatan tersebut. Padahal tahun-tahun sebelumnya Ia kerap hadir dalam hajat tahunan tersebut.

Sebagai gantinya, Asda 2 Kab. Tasikmalaya, H Budi Utarma, Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kab Tasikmalaya, H Maman Suhilman Dali dan Kadis Pariwisata dan Kebudayaan, Endang Z Alfian hadir dalam kesempatan itu. Tradisi larung sesaji dalam hajat laut nelayan Pamayangsari dimulai dengan pagelaran longser sebagaimana tradisi “jaman baheula”. Ki lengser ikut “ngabageuakuen gegeden” yang datang dari “dayeuh” untuk melarung sesaji.

Ratusan warga dari berbagai daerah di Cipatujah tumplek menyaksikan acara ritual tahunan tersebut. Mereka berduyun-duyun turun ke pantai untuk menyaksikan ritual larung jempana, sehingga lokasi pantai Pamayangsari penuh sesak oleh kerumuman masyarakat.

“Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun dari “karuhun” kita yang patut kita lestarikan. Hajat laut sendiri sebagai wujud syukur kita kepada Allah atas banyaknya nikmat yang telah dia berikan kepada para nelayan,” ungkap Kadis Pariwisata dan Kebudayaan, Endang Z. Alfian.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosbud

  • Sosbud

    BBM Ampuh

    PENGARUH naiknya harga bakar minyak (BBM) ternyata ampuh. Mengatrol harga-harga komoditas lain. Tetapi tidak bila harga...

  • Sosbud

    Sekadar Hari Antikorupsi

    HARI Antikorupsi Dunia, Selasa (9/12/2014), jadi momentum refleksi semua pihak. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota...

  • Sosbud

    Media Sunda Lawas ti Tasikmalaya

    KABEUNGHARAN inteléktual urang Tasikmalaya, di antarana ngaréngkol dina ngokolakeun média. Lian ti koran Sipatahoenan anu gumelar...

  • Sosbud

    Bupati jeung Puisi

    GEDONG Kasenian Tasikmalaya (GKT) diadegkeun taun 1998 kalawan istiméwa. Minangka pangbagéa pamaréntah pikeun para seniman. Sanajan...

  • Sosbud

    Wan Orlet: Soal Becak

    WAWAN Rudiat atau lebih dikenal dengan Wan Orlet, hatinya tak sekeras dunianya. Sehari-hari bergelut dengan dunia...

  • Sosbud

    Tradisi "Enam" Penyair Tasikmalaya

    BERGELUT dengan kata, tidak lantas membuat seseorang dinobatkan menjadi pu­jangga. Setiap saat orang menggunakan bahasa untuk...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: