Connect with us

Metrum

Hanya Nama


WAWUH munding. Kenal wajah tidak tahu nama, sering dialami, tetapi kenal nama tak tahu wajah tentunya aneh.

Warga kota yang setiap hari melewati plang jalan bertuliskan nama-nama tokoh, tentu sangat akrab dengan nama-nama penting itu. Jalan Sutisna Senjaya yang lebih akrab dengan Sutsen, sering dilalui. Tetapi, ketika ditanya siapakah Sutsen itu? Umumnya geleng-geleng kepala. Abah Sutisna Senjaya dikenal sebagai tokoh pers dan NU.

Sama halnya dengan Ikik Wiradikarta yang dikukuhkan sebagai pengganti nama jalan Kalektoran pun gamblang tertulis di kawasan Masjid Agung Tasikmalaya. Tetapi, sedikit yang tahu kiprahnya mengelola Koran Balaka yang terbit tahun 1930-an.

Begitu pula Jalan Mayor SL Tobing, yang beririsan dengan Jl. Ir. H.Juanda dan Jl. Jendral AH. Nasution. Padahal nama jalan itu sangat populer. Tidak semata-mata jalan itu dipertemukan dengan jalan yang langsung menembus jantung kota, Jalan KH. Zainal Mustopa.

Bahkan, di tikungan Cidolog Mangunreja tugu yang menyebut-nyebut nama SL Tobing dibangun semasa Bupati Tasikmalaya, Suljana. Prasasti itu pun ditandatangani Jendral A.H. Nasution.

Tugu di atas tanah 1,5 meter persegi bertitimangsa 28 Pebruari itu, seharusnya menjadi simbol penting yang dimaknai sebagai tanda penghargaan terhadap fakta sejarah yang melatarinya.

Konon di kawasan itu terjadi pertarungan sengit, saat agresi militer Belanda pertama. Pasukan yang dipimpin Kepala SIAE Umum Tentara Belanda, Jen­deral Buurman Van Vreeden dihadang para pejuang Indonesia. Peristiwa itu terjadi pertengahan September 1947.

Mayor SL. Tobing menjadi aktor heroik dalam pencegatan tentara Belanda di tikungan Cidolog itu. Tertuang dalam prasasti itu, Tentara Indonesia Kompi Lukito yang dipimpin Mayor S.L Tobing mengacaukan konvoi pasukan Belanda. Dokumen serta stempel Tentara Belanda jatuh ke tangan Tentara Indonesia.

Tugu itu dibangun untuk melanggengkan pesan perjuangan. Namun sayang, nasibnya terbengkalai. Kondisinya mengkhawatirkan. Tugu itu, menurut warga sudah beberapa kali berpindah tempat.

Apalah arti sebuah tugu atau plang jalan bila dipandang dari lahiriah semata. Untuk apa dibangun, bila amanat yang hendak disampaikan tidak pernah dihayati? Apakah cukup sebagai penanda wilayah saja? Tentu saja tidak.

Nama-nama jalan dan tugu yang bertebaran di sekitar, saatnya dimaknai dan dibatinkan. Tak kenal maka tak sayang. Lambat laun kehilangan jejak sejarah. Menyedihkan.**


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Metrum

  • Metrum

    Orasi dan Puisi

    TAK ada angin tak ada hujan perbincangan para aktivis mahasiswa menukik tajam pada naluri paling dasar....

  • Metrum

    Rekognisi Desa

    LARIK-LARIK nyanyian Desaku karya Liberty Manik masih terngiang hingga kini. Lagu itu jadi andalan saat disuruh...

  • Metrum

    Berkarya dan Mengabdi

    PERJALANAN tak cuma menempuh jarak, tetapi juga menata gerak dan waktu yang menentukan titik balik eksistensi....

  • Metrum

    Dialog Semesta

    BERDIALOG dengan semesta. Sepintas seperti orang gila. Bahkan sangat tipis dengan kesesatan. Lalu sering disalahpahami dan...

  • Metrum

    Intelektual Organik

    DESA adalah kekuatan. Ungkapan itu tajam. Menjadi larik dalam sebuah nyanyian Iwan Fals. Membuka mata banyak...

  • Metrum

    Gara-gara Konflik

    KEDAMAIAN tak mengenal kebohongan. Pertarungan sejatinya menjadi ruang artikulasi yang sehat. Arena mengasah batin. Melahirkan kesatria....

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: