Connect with us

DIARY

Iding Soemita Menembus Parlemen Suriname  


Koleksi Chan Choenni

Koleksi Chan Choenni

JAUH-JAUH hari, Iding Soemita sudah mengapungkan Diaspora Indonesia. Tahun 1925, Soemita diberangkatkan sebagai kuli kontrak ke Suriname. Ketika itu kondisi  Suriname senasib dengan Indonesia. Suriname adalah wilayah jajahan Belanda di Amerika Selatan berbatasan dengan Brazilia.

Latar itu, yang menggiring Soemita memijakkan kaki di Suriname. Lantaran, Suriname termasuk wilayah koloni penting Belanda yang menghasilkan beragam hasil perkebunan dan tambang.

Soemita termasuk orang yang  hanyut dalam gelombang imigrasi, imbas kondisi yang tidak menguntungkan, akibat ribuan buruh Afrika di Suriname mendapat kebebasan, sejak 1 Juli 1863. Sebagian besar buruh Afrika meninggalkan lahan perkebunan dan tambang di wilayah itu.

Krisis tenaga kerja itu, tentu sangat merugikan pemerintah kolonial Belanda.  Tujuh tahun berselang, mulai tahun 1890, Kolonial Belanda mengirim orang-orang dari Pulau Jawa untuk menjadi kuli kontrak di Suriname. Gelombang imigran pertama ditandai dengan keberangkatan 44 orang, terdiri dari 15 pasang suami-istri, 11 laki-laki, seorang perempuan, dan dua anak-anak. Mereka diangkut dengan Kapal Laut Prins Aleksander pada tanggal 9 Agustus 1890.

Selanjutnya, gelombang imigrasi berlanjut sampai tahun 1939 dengan jumlah total imigran 32.956 orang. Sebagian besar imigran berasal dari desa-desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, hanya sedikit yang berasal dari Jawa Barat.

Termasuk imigrasi kuli kontrak asal Tasikmalaya ke Suriname yang dimulai tahun 1897. Mereka datang ke Suriname secara bergelombang sampai dengan tahun 1939. Arsip Nasional Belanda mencatat, 284 orang kuli kontrak Suriname yang berasal dari Tasikmalaya. Mereka terdiri 114 laki-laki dan 70 orang perempuan, termasuk anak-anak. Mereka berasal dari berbagai distrik, seperti, Tasikmalaya, Singaparna, Banjar, Ciawi, Manonjaya, Panjalu, Taraju, Karangnunggal, Kawali, Indihiang, Rancah, Cikatomas, dan Pangandaran.

Para kuli kontrak asal Tasikmalaya dipekerjakan di lahan-lahan perkebunan tebu, perkebunan kakao (coklat), perkebunan kopi dan tambang bauxit. Mereka dipekerjakan tersebar diberbagai lahan perkebunan di Suriname, seperti, Marienburg & Zoelen, Waterloo en Hazard, Geyersvlijt, Alliance, Dodrecht, Rust en Werk, Paperport, Slootwijk, Belwaarde, Mon Souci, Catharina Sophia, Broederschap, Leliendaal en Sorgvliet, Ma Retraire, Susannasdaal, Verde de, Dankbaarheid, Johanesburg, Katwijk, La Liberte, Maasstroom, Nieuw Meerzorg, Vorige, Voorburg, dan Wederzorg (Ben. Commewijne). Namun, sebagian besar dari mereka ditempatkan di perkebunan Merienburg en Zoelen dan Waterloo en  Hazard.

Kuli kontrak asal Tasikmalaya pertama yang berangkat ke Suriname adalah, Artain bin Astamanggala (penduduk kampung Cidamar-Singaparna) dan Sapnan bin Tirto (penduduk desa Cipedes-Indihiang). Keduanya, berangkat pada tanggal 8 Agustus 1897. Bersama rombongan kuli yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Artain dan Sapnan berangkat dengan menggunakan kapal uap Koningin Wilhelmina en Prins Willem IV dari laut Jawa. Keduanya dikontrak untuk bekerja lima tahun di perkebunan Susannasdaal (Ben.Sur). Setelah lima tahun bekerja, mereka berdua tidak dikabarkan kembali ke Tasikmalaya. Bahkan, berdasarkan dokumen Arsip Nasional Belanda, keduanya memperpanjang kontaknya dan menetap di Suriname.

Para kuli kontrak yang berangkat ke Suriname umumnya masyarakat bawah dari kalangan petani dan pekerja kasar. Kesulitan ekonomi menjadi faktor utama yang mendorong mereka mengadu nasib kehidupan mereka di Suriname. Mereka berangkat melintasi lautan luas membawa sejuta harapan, yaitu kehidupan yang layak di tanah yang asing. Tidak sedikit, para kuli kontrak asal Tasikmalaya yang berangkat berpasangan, membawa anak, bahkan kerabatnya.

Mereka mendapatkan penghasilan cukup untuk bertahan hidup. Gaji yang diterima pekerja laki-laki usia diatas 16 tahun sebesar 60 sen; sementara, pekerja wanita usia diatas sepuluh tahun sebesar 40 sen setiap harinya. Setiap minggunya, mereka bekerjaenam hari. Setiap hari diwajibkan bekerja selama tujuh jam di kebun dan sepuluh jam di pabrik perkebunan.

Masa perjanjian kerja para kuli di Suriname adalah lima tahun. Setelah bekerja selama masa kontrak, mereka mendapatkan hak untuk kembali ke tanah air. Pemerintah Belanda menanggung biaya kepulangan mereka ke tanah air. Berdasarkan catatan Arsip Nasional Belanda, kuli kontrak asal Tasikmalaya, ada yang dilaporkan meninggal di Suriname; sebagian memanfaatkan haknya untuk kembali ke tanah air, dan sebagian lagi ada yang memilih menetap, berkeluarga dan memiliki keturunan di Suriname sampai hari ini.

Kuli kontrak asal Tasikmalaya hanyalah 284 orang diantara 32.956 orang imigran asal pulau Jawa. Mereka adalah kelompok kecil Sunda yang hidup berdampingan mayoritas Jawa di Suriname. Tampaknya, seluruh emigran Tasikmalaya meleburkan diri dalam budaya Jawa yang menjadi latar belakang budaya mayoritas.

Namun, kondisi tersebut bukan halangan bagi salah seorang kuli kontrak asal Tasikmalaya yang telah berhasil berkiprah dalam perjuangan politik masyarakat Jawa di Suriname. Sosok Iding Soemita menjulang di antara puluhan ribu buruh asal tanah Jawa. Dia menjadi bintang. Bukan saja mewakili buruh dari Jawa, tetapi sekaligus membanggakan Suku Sunda. Nama Tasikmalaya selalu melekat saat Iding Soemita diperbincangkan.

Layak dicermati, Iding Soemita menjadi orang yang diperhitungkan. Lahir di Cikatomas Tasikmalaya, 3 April 1908, wafat di Suriname, 18 Nopember 2001, pada usia 93 tahun.

Keberangkatan ke Suriname pada usia 17 tahun menjadi titik balik hidupnya. Soemita menjadi tokoh gerakan politik yang menggerakkan para petani. Dia menjadi salah seorang pendiri Persatuan Indonesia (PI) pada tahun 1946, kemudian bermetamorfosa menjadi Partai Politik Kaum Tani Persatuan Indonesia (KTPI) pada tahun 1949. Melalui organisasi ini, Iding Soemita menyuarakan hak-hak politik buruh Jawa di Suriname.

 

Warga kampung Bengkok distrik Cikatomas kab. Tasikmalaya itu tiba di Mariënburg, 25 Oktober 1925. Perjalanan Soemita di Suriname berbuah manis. Ia menjadi bagian dari sejarah politik kawasan itu. Dia menjadi  pemimpin politik pertama masyarakat Jawa di Suriname.

PI dan KTPI yang dibidaninya menggelorakan nilai-nilai Jawa tradisional dan kerinduan kepada pulau Jawa. Pada pemilihan untuk parlemen pertama, pada Pemilu tahun 1949 di distrik Commewijne, Soemita mendapatkan 2.325 suara. Sementara, dari 21 kursi parlemen, KTPI meraih dua kursi.

Dia melenggang ke Parlemen. Soemita sering ikut serta dalam perundingan dengan Belanda ihwal kemerdekaan Suriname. Perjuangan yang panjang dan melelahkan. Lantaran Suriname termasuk yang terlambat memperoleh kedaulatan. Soemita termasuk yang turut menghayati perjalanan eksistensial Suriname menuju kemerdekaan.

Tanda-tanda yang menggembirakan sudah mulai dirasakan, saat Pemerintah Belanda bersama beberapa wakil dari Suriname menandatangani sebuah memorandum yang isinya rencana pengakhiran penjajahan, 15 Desember 1954. Soemita termasuk yang turut berjuang bersama tokoh pergerakan lain.

Kembang harapan semakin bermekaran, saat digelar Konferensi Meja Bundar pada tahun 1961. Para wakil dari Suriname duduk bersama dipimpin Perdana Menteri Johan Adolf Pengel, menuntut dibentuknya sebuah pemerintahan sendiri. Dorongan itu semakin kuat, karena partai-partai yang sudah dibentuk menyuarakan tuntutan yang senada.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DIARY

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: