Connect with us

Buku

Idola-idola Oki Setiana Dewi


oki1-300x139GOSIP orang-orang tenar, selalu menarik. Bahkan sudah menjadi sarapan setiap hari di layar televisi. Kehidupan mereka yang ingar bingar, seperti magnet yang menyedot rasa ingin tahu orang banyak. Kisah remeh temeh sekalipun acapkali dibahas detil. Kisah cinta, pacaran, kawin, dan cerai. Peristiwa-peristiwa yang sebetulnya biasa saja. Tidak ada yang bisa diendapkan, kemudian dipetik hikmahnya.

Latar inilah yang kontras dari sosok Oki Setiana Dewi. Sebagai pesohor, dirinya layak  “digosipkan”. Perjalanan eksistensialnya cukup panjang, sebelum dengan berani memutuskan menjadi seorang jilbaber. Dunia film yang kini digelutinya, tidak serta merta diraih, tetapi melalui proses panjang. Pepatah kuno yang dikutip aktris dan penulis yang lahir di Batam, Kepulauan Riau, 13 Januari 1989 itu, paling tidak, bisa menjelaskan (baca: Pernik Cinta Oki Setiana Dewi: Sejuta Pelangi (halaman 37)). Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.

“Pepatah itu seakan-akan menari-nari di mataku kini. Karena semua orang sukses yang aku temui, pasti mengalami proses ‘berakit-rakit ke hulu itu’.”

Catatan itu ditulis Oki saat mengulas fragmen “Mimpi Manusia Bodoh” yang sekaligus menjadi pembuka buku Sejuta Pelangi. Kisah yang dikembangkan pemeran Ana dalam Ketika Cinta Bertasbih (KCB) itu dari perbincangan ringan dengan Gita Irawati, salah seorang teman diskusinya. Gita yang selama duduk di bangku SD terpuruk, saat masuk SMA langsung mencuat, menduduki rangking pertama. Kemudian menuntaskan magister hukum S-2 Universitas Indonesia dengan predikat cumlaude.

oki2Orang-orang di sekitar Oki, tampaknya tidak luput dari pencermatan. Seperti Prof. Helmi, seorang guru besar yang tulus. Siwi dan Dimas, yang menjadikan keterbatasan fisik mereka menjadi kekuatan. Seseorang, teman lain Oki yang terjerembab dalam pergaulan bebas, tetapi kemudian bangkit secara perlahan. Ada tokoh-tokoh lain, mulai dari Sandi sang penjual koran sampai Berti penderita hydrochepalus.

Latar tempat dalam Sejuta Pelangi pun beragam. Rumah, kampus, rumah sakit, jalanan, penjara wanita, dan penjara anak. Bukan saja tempat-tempat yang nyaman, tetapi lingkungan bersuasana muram pun ditelusuri Oki. Penjelajahan batin yang bisa memperkuat karakter seseorang ketika menghayati kenyataan yang terjadi di sekitarnya.

Saat membaca catatan harian si Bungsu, Ria Yunita, yang menjadi bagian dari fragmen Sejuta Pelangi, seperti ada yang dikukuhkan Oki. Sejatinya, orang-orang terdekat patut diberi tempat istimewa. Lantaran mereka tidak saja dekat secara lahir, tetapi juga secara batin. Berbeda ketika kita mengidolakan Super Junior, umpamanya, samasekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Emak, Nini, Ayah, Ibu, Si Bungsu, termasuk yang disebut-sebut dalam buku Sejuta Pelangi. Mereka adalah orang-orang yang layak menjadi Idola.

 )*Pengantar diskusi yang boleh diabaikan: “UPI Islamic Fair 2012” di Aula UPI Kampus Tasikmalaya, Rabu 20 Juni 2012

OKI SETIANA DEWI (lahir di Batam, Kepulauan Riau, 13 Januari 1989; umur 23 tahun) adalah seorang pemeran Indonesia yang memerankan tokoh Anna dalam film Ketika Cinta Bertasbih. Oki lahir dari pasangan berdarah Palembang, Suliyanto dan Yunifah Lismawati. Sejak usia 16 tahun, Oki telah merantau ke Jawa dan menetap di Depok. Alumni SMAN 1 DEPOK ini kemudian kuliah di Universitas Indonesia. Oki sempat bermain di beberapa FTV sebelum akhirnya memutuskan untuk berjilbab pada tahun 2005. Kariernya di dunia seni peran sempat terhenti, sebelum akhirnya memerankan karakter utama perempuan dalam cerita Ketika Cinta Bertasbih.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
5 Komentar

5 Komentar

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buku

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: