Connect with us

Lorong

Kenapa Galian C?


Galian_CPARA pengusaha tambang, galian, dan sejenisnya harus berkaca pada seorang penyadap pohon kawung. Hingga sekarang  mereka masih menjalankan kearifan. Kesadaran menghormati alam sudah berlangsung sejak lama secara turun temurun.

 

Cermati saja. Suatu saat, seorang penyadap dengan khusyu melantunkan nyanyian sebelum menyentuh pohon yang akan diambil sarinya. Seolah dia mengajaknya berbincang-bincang. Lantas, meminta agar Sang Pohon merelakan intisari getah diambil demi menyambung hidup dirinya.

 

Nyanyian itu menyerupai puisi kuno. Isinya menggambarkan perlakuan ramah lingkungan. Memandang sang pohon bak bidadari cantik yang harus diperlakukan istimewa. Alam tidak semestinya dieksploitasi secara membabi buta.

 

Tetapi, seringkali kita menemukan kondisi alam yang hancur, akibat dieksploitasi para penambang. Tempo lalu, penggalian pasir bijih besi di Tasik Selatan, dipersoalkan masyarakat. Kemudian di kawasan batas kota, bahkan di tengah kota, pengusaha Galian C pun jadi sorotan.

 

Di Kabupaten Sumedang, umpamanya, pengusaha galian C dituntut untuk berkontribusi dan memiliki kepedulian terhadap pembangunan di daerah setempat. Mereka jangan cuma cari keuntungan, tetapi harus peduli mendukung program pembangunan daerah.

 

Sedikitnya ada 12 pengusaha galian C yang beroperasi di lereng Gunung Tampomas. Namun hingga saat ini, menurut dia, belum bisa dirasakan kontribusinya oleh masyarakat sekitar secara langsung. Bahkan, aktivitas mereka cenderung berdampak pada berbagai persoalan. Misalnya, sejumlah ruas jalan dari dan menuju lokasi galian C menjadi rusak. Artinya, eksploitasi yang dilakukan tidak dibarengi dengan langkah arif untuk menjaga lingkungan sekitar.

 

Kondisi ini, cenderung menjadi persoalan di mana pun aktivitas penggalian atau penambangan berlangsung. Dampaknya, langsung dirasakan masyarakat. Jalan rusak, salah satu dampak yang paling mengemuka, selain terganggunya kawasan resapan air. Tidak ada salahnya, menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal yang pernah atau masih dianut oleh masyarakat. Para petani di desa, tukang kebun, para penyadap, di kampung-kampung, boleh jadi masih menjalankan tradisi yang mengisyaratkan sikap ramah lingkungan.

 

Tentu bukan berarti orang harus kembali kepada teknologi kuno, melakukan aktivitas dengan perangkat sederhana atau kembali manual, menggunakan tangan. Bukan pula menolak modernitas, lalu kembali kepada sesuatu yang serba kuno.

 

Spirit kearifan lokal, tetap relevan dihayati sampai kapan pun. Meski, jaman sudah sangat canggih, namun nilai-nilai budaya lokal ada saatnya dipanggil kembali. ***


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lorong

  • Lorong

    Kesinambungan Bantuan Bencana

    MESTI dirancang program bantuan yang menyentuh kesinambungan hidup para pengungsi. Pemberdayaan ekonomi korban bencana menjadi sangat...

  • Lorong

    Hijrah: Lahir dan Batin

    HARI Jumat, 24 Juli 2015, malam terakhir awak redaksi berpacu dengan tenggat waktu di kantor lama,...

  • Lorong

    Fenomena Gunung Es Kekerasan pada Anak

    KASUS pembunuhan bocah Angeline di Bali menyita perhatian publik. Masih hangat juga, kasus penelantaran dan kekerasan...

  • Ekbis

    APBD Prorakyat

    SUDUT pandang yang berbeda antara komposisi belanja langsung dan belanja tidak langsung seringkali menjadi perdebatan birokrasi...

  • Lorong

    Impresi Laksana

    KAMI pernah merasakan kegetiran saat fluktuasi rupiah jumpalitan hingga titik terendah. Tahun 1997, deregulasi uang ketat...

  • Lorong

    Love Games

    DARI larik pertama sampai terakhir. Setiap kata dan ritma sama-sama menggairahkan. Cabikan bas Mark King langsung...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: