Connect with us

Buku

Kesebangunan, Stilistika, dan Tipografi


 I

SAYA ingin memulai dari puisi-puisi karya Qeis Surya Sangkala. Bukan lantaran penyairnya seorang perempuan, tetapi karena paling produktif dibanding John Heryanto dan Ade Afiat. Dari 66 puisi yang terkumpul dalam buku Tiga Penyair Jalanan, ada 30 puisi Qeis Surya Sangkala, kemudian 20 puisi John Heryanto dan 16 puisi Ade Afiat. Andai saja puisi-puisi yang menghuni buku bersampul coklat itu disuruh vooting, tentu John dan Ade kalah suara, telak. Demokratis, bukan?

II

Umumnya, orang pertamakali membedakan puisi dari tipografi. Bila ada serangkaian kalimat berlarik dan berbait, tidak ragu lagi. Itulah puisi. Apalagi ekspresi puitis semula lazim ditemukan dalam sebuah kalimat yang memiliki kesebangunan jumlah suku kata dan rima akhir. Seperti mantra. Tetapi sekarang ujaran sehari-hari yang dirangkai sedemikian rupa pun ternyata bisa dianggap sebagai puisi. Simak puisi Qeis, Tragedi Mavi Marmara.

Yang menurunkan air hujan di mataku adalah kau, yang
mengibarkan kebusukan
sampai ke lembah gema takkan kau dengarkan teriakan jeritan mereka
karena kau memang jahanam, keji…
terkutuk kau orang-orang Yahudi
di hamparan atas nama kitab, kau nyalakan dengan darah api
membuat kerusakan yang begitu dzolim
dan akar-akar hati, remuk redam mendayung lampaui
bercak derai kekejamanmu
Tragedi Mavi Marmara mungkinkah ini sebuah musim?
semoga Tuhan menyediakan neraka yang berbahan bakar
batu untukmu Yahudi

Larik demi larik dalam puisi Tragedi Mavi Marmara (TMM), sudah melepaskan unsur kesebangunan baik suku kata maupun rima. Dibebaskan lepas. Tapi masih ada upaya untuk menghadirkan ekspresi puitis melalu metafora, seperti yang ditulis dilarik pertama: Yang menurunkan air hujan di mataku adalah kau…
Bandingkan bangunan puisi TMM bila dipaparkan seperti teks tanpa bait:

YANG menurunkan air hujan di mataku adalah kau, yang mengibarkan kebusukan, sampai ke lembah gema. Tak kan kaudengarkan teriak jeritan mereka, karena kau memang jahanam, keji. Terkutuk kau orang-orang Yahudi. Di hamparan atas nama kitab, kaunyalakan dengan darah api, membuat kerusakan yang begitu dzolim. Dan akar-akar hati, remuk redam mendayung lampaui bercak derau kekejamanmu. Tragedi Mavi Marmara, mungkinkah ini sebuah musim? Semoga Tuhan menyediakan neraka yang berbahan bakar batu untukmu Yahudi. Laa illahaa ilallahu, laa illahaa ilallahu.
“Alloh akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (QS. Albaqarah ayat 15)

Metafora, telah disepakati sebagai salah satu unsur pembangun puisi, selain simile, personifikasi, metonimi, dan gaya bahasa lain. Nuansanya cukup kental ditemukan dalam beberapa puisi ketiga penyair. Simak puisi John Heryanto, Surat Tanah pada Hujan (STpH).

Terimalah aku sebagai kekasih
Atau sebagai rumah kediaman
Selepas perburuan nasibmu
Yang meledak pada pertempuran cuaca
Akan aku teguk haus
Setiap tetes lukamu yang mengalir deras nanah

Sedangkan dendam lukamu
Telah berkarat di dalam dada
Menjadi petir dan halilintar
Yang bergulung menyambar
Lalu bersekutu dengan angin
Menyerang kota-kota

Tanah kepada hujan melayangkan permohonan agar diterima menjadi kekasih. Tanah dan hujan dimanusiakan, keduanya bahkan bersekutu dengan petir dan angin. Personifikasi tampaknya disukai John. Tanah rela menerima permukaan, sekalipun digerayangi juga ditiduri (Kutanahkutanah); Matahari tersungkur ditusuk malam (Bulan di Atas Level); awan menjatuhkan gerimis (Bersama Gerimis); mega bercerita tentang matahari (Cerita Langit), debur ombak yang berlarian (Laut); sinar matahari menggigit pelangi (Melati di Pucuk Hati).

Puisi Ade Afiat pun tidak luput dari upaya untuk menghadirkan metafora. Beberapa judul puisinya bahkan langsung menohok. Boleh jadi konsepnya ingin menghadirkan efek yang lebih kuat, seperti dalam Senandung Rindang Pohon, Peraduan Bertahtakan Cinta, Cerita Angin di Ruang Bisu, dan Senyum Anak Matahari Memanggang Sunyi.

Rupanya, dalam puisi Ade masih dihadirkan unsur pembangun puisi yang paling dasar, yakni unsur bunyi, meskipun belum seluruhnya konsisten. Tapi cukup berhasil dalam bait terakhir puisi Senyum Anak Matahari Memanggang Sunyi:

di panti
anak matahari
menangisi diri
menatap sepi

Bait terakhir ini terasa fokus. Bahkan, dalam puisi itu empat larik itu sudah cukup mewakili. Baiklah, sebagai proses kreatif tak ada salahnya menuangkan apa pun yang terbersit dalam pikiran. Namun, suatu ketika harus pandai pula menahan diri. Tak elok bila terlalu mengumbar kata, tetapi malah mengaburkan fokus atau bisa pula menjadi pengulangan yang tidak perlu.

III

Apa pun kata orang tentang puisi, mari kita santai-santai saja. Toh, pada akhirnya, seperti yang diungkapkan Wellek dan Waren, dalam Theory of Literature, fungsi puisi adalah setia pada dirinya sendiri.  ***

Pengantar Diskusi  Tadarus Puisi putaran III di Saung Oi Trotoart, Sabtu (27/11).


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buku

Terhangat

BÉDA rasa, kecap 'nangtung', 'dahar', saméméh dianteur ku kecap 'jung' jeung 'am'. Kecap anteuran ngagambarkeun mimiti migawé. Kecap 'dahar' bisa waé ditapsirkeun eukeur atawa geus dahar. Tapi mun 'am dahar', nu kacipta téh ngamimitian ngahuap. Sarua jeung trét nulis. #preposisi

About 14 hours ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Twitter for Android

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: