Connect with us

Sosbud

Lukisan Seniman Tasik Laku Rp 40 Juta


SUASANA lelang lukisan lumayan bergairah, di eks Gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (30/12/2012).

SUASANA lelang lukisan lumayan bergairah, di eks Gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (30/12/2012).

SEMBILAN belas lukisan karya Seniman Tasik terjual saat dilelang, usai pembukaan Syukur Waktu II. Gelar budaya dan Pentas Seni Akhir Tahun itu dibuka Wali Kota Tasikmalaya, H. Budi Budiman, Sabtu (30/12/2012) di eks Gedung DPRD Pemkab Tasikmalaya.

Lelang lukisan ditaksir senilai Rp 40 juta itu pertanda menggembirakan. Apalagi lukisan-lukisan itu diboyong oleh para pejabat Pemerintah Kota Tasikmalaya. Walikota Tasikmalaya, langsung menawar lukisan karya Yusa Widiyana, selanjutnya lukisan-lukisan lain laris manis dalam kisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 2.075.000.

H. Budi Budiman mengungkapkan apresiasi digelarnya ajang itu. Ia berjanji akan memperhatikan ruang publik, tempat berekspresi seniman Kota Tasikmalaya dengan serius. Seniman yang cenderung kritis, menurutnya, harus diberi tempat yang representatif.

“Kita tahu, sikap kritis seniman tak pernah dibarengi dengan sikap anarkistis. Kita tak pernah mendengar ada seniman yang melakukan perusakan di kota ini. Seni justru bisa melembutkan hati,” katanya.

Ketua Komunitas Cermin, Ashmansyah Timutiah menuturkan, Syukur Waktu adalah momen refleksi dan evaluasi kebudayaan tentang perkembangan realitas cipta dan karya seni sepanjang tahun. Kemasan kado kaledioskop seni budaya Tasikmalaya akhir tahun Syukur Waktu II kali  ini bertema ‘Membangun Tasikmalaya Sebagai Etalase Budaya Guna Menuju Tasikmalaya Yang Berbudaya, Bermartabat dan Beridentitas,” ujar seniman yang akrab disapa Acong itu.

Berbagai acara yang digelar dalam pentas seni dan budaya itu di antaranya peluncuran antologi penyair Tasikmalaya yang disunting Nazarudin Azhar dan Soni Farid Maulana — Kampung Bulan — sekaligus pembacaan puisi oleh para penyairnya. Selain itu, digelar pula karnaval budaya, pemutaran film dokumenter, pertunjukan seni tradisional beluk, terebang gebes, dan performing art dari berbagai komunitas kesenian Kota Tasikmalaya.


1 Komentar

1 Komentar

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosbud

  • Sosbud

    BBM Ampuh

    PENGARUH naiknya harga bakar minyak (BBM) ternyata ampuh. Mengatrol harga-harga komoditas lain. Tetapi tidak bila harga...

  • Sosbud

    Sekadar Hari Antikorupsi

    HARI Antikorupsi Dunia, Selasa (9/12/2014), jadi momentum refleksi semua pihak. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota...

  • Sosbud

    Media Sunda Lawas ti Tasikmalaya

    KABEUNGHARAN inteléktual urang Tasikmalaya, di antarana ngaréngkol dina ngokolakeun média. Lian ti koran Sipatahoenan anu gumelar...

  • Sosbud

    Bupati jeung Puisi

    GEDONG Kasenian Tasikmalaya (GKT) diadegkeun taun 1998 kalawan istiméwa. Minangka pangbagéa pamaréntah pikeun para seniman. Sanajan...

  • Sosbud

    Wan Orlet: Soal Becak

    WAWAN Rudiat atau lebih dikenal dengan Wan Orlet, hatinya tak sekeras dunianya. Sehari-hari bergelut dengan dunia...

  • Sosbud

    Tradisi "Enam" Penyair Tasikmalaya

    BERGELUT dengan kata, tidak lantas membuat seseorang dinobatkan menjadi pu­jangga. Setiap saat orang menggunakan bahasa untuk...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: