Connect with us

Edukasi

Menulis Lebih Imajinatif


H. Yedi Kusmayadi

UNTUK bisa sampai menjadi seseorang yang diinginkan, Ketua PGRI Kab. Tasikmalaya masa jabatan 2009-2014, H. Yedi Kusmayadi S.Pd, mempunyai cara tersendiri. Dirinya memilih untuk menuangkan kedalam bentuk tulisan, baik itu dalam bentuk cerpen maupun artikel. Menurutnya, menulis lebih imajinatif dan bisa menjadi tokoh apa saja sesuai dengan kehendak yang ia inginkan.

Dalam menulis cerpen misalnya, Yedi mengungkapkan, dirinya bisa saja menjadi tokoh seorang yang teramat protagonis bahkan menjadi antagonis. Bahkan tidak jarang beberapa hasrat terpendamnya menjadi terpenuhi dalam bentuk sebuah tulisan. “Disamping imajinatif yang bermain, daya nalar dan kemampuan kita secara perlahan menjadi terolah,” jelas ketua PGRI yang terpilih pada 26 November lalu.  

Terlahir di Desa Cintawangi Kec. Karangnunggal 49 tahun silam, menjadikan jalan hidup Yedi menjadi seorang pendidik sampai sekarang. Hampir 19 tahun ia mendedikasikan ilmunya hanya untuk mengajar didaerah pedesaan terpencil, tepatnya SD Bojongjaya Karangnunggal. Sampai akhirnya ia dialih tugaskan menjadi Sekbid di kecamatan pada pertengahan tahun 2000.        

Bagi pria yang kini masih bertugas diwilayah Tasik selatan ini, disamping bergelut dengan dunia pendidikan, menulis telah menjadi keseharian terutama dalam melepaskan penat rutinitas kerja. Bahkan beberapa buah penanya sempat diterbitkan dibeberapa majalah sunda serta koran lokal. “Kini saya telah merampungkan cerpon sunda yang akan diterbit bersambung pada sebuah majalah,” ujarnya.

Namun Yedi tidak memungkiri, terkadang perasaan malas menghinggapinya untuk menuntaskan tulisannya. Untungnya hal tersebut bisa lekas hilang dengan semangat dan dorongan keluarga tercinta. “Karena keluarga adalah semangat saya selama ini,” ujar ayah 2 anak ini.

Menurutnya, profesi guru sebenarnya mempunyai lahan yang luas dalam menuangkan tulisan. Disamping tulisan lepas seperti cerpen, tulisan berbagai artikel dan opini pendidikan pun bisa mengalir deras dari buah tangan pengalaman guru. Sehingga setiap guru bisa memberikan masukan terhadap perkemangan dunia pendidikan. “Terlebih sekarang telah ada kerjasama dengan HU Priangan, jadi lebih mudah untuk dipublikasikan,” tambahnya.

Peraih penghargaan guru teladan tingakat provinsi tahun 1998 ini menuturkan, jika setiap guru berani untuk menulis maka tidak mustahil dunia pendidikan akan lebih maju. Sebab berbagai pemikiran segar dan membangun akan terus muncul dari setiap goresan tinta para pelopor pendidikan ini.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edukasi

Terhangat

BÉDA rasa, kecap 'nangtung', 'dahar', saméméh dianteur ku kecap 'jung' jeung 'am'. Kecap anteuran ngagambarkeun mimiti migawé. Kecap 'dahar' bisa waé ditapsirkeun eukeur atawa geus dahar. Tapi mun 'am dahar', nu kacipta téh ngamimitian ngahuap. Sarua jeung trét nulis. #preposisi

About 14 hours ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Twitter for Android

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: