Connect with us

Lorong

Merdeka? Ya Gitu Dweh!


SARIPATI ”kemerdekaan hakiki” belum bisa diendapkan.  Meski ”kebebasan” lahiriah terpenuhi, na­mun faktanya orang ma­sih banyak yang merasa terbelenggu dan terpasung.

Itulah intisari Diskusi Terbatas Kelompok Penulis dan Pembaca Surat Kabar Priangan (KP2SP) yang digelar Sabtu (16/8/2008). (Tapi kayaknya masih aktual ya?)

Dosen UIN Sunan Gunung Djati, H. Mahpuddin Noor memandang masyarakat dituntut me­miliki tanggung jawab so­sial. Memperbaiki hidup dan kehidupan sesuai harapan dan cita-cita para pahlawan.

“Mewujudkan masyarakat yang tata tentrem kerta raharja. Baldatun toyibatun warobbun ghofur. Makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran,” katanya. Namun tampaknya perteng­karan di tingkat elit imbasnya sampai ke rakyat. “Pertanda kemer­dekaan belum bisa dimaknai secara hakiki. Kita belum mer­deka secara hakiki. Masih banyak yang rebutan jabatan. Pikir­an dan langkah kita, ber­sumber dari nafsu,” imbuhnya.

Saatnya yang tepat untuk otokritik. Menurutnya, sektor pendidikan bisa jadi titik awal keberangkatan untuk mengisi kemerdekaan. Ketimbang main rebut-rebutan.

Ketua Koalisi Politik Perem­pu­an Indonesia (KPPI), No­neng mengungkapkan hal se­nada. Konteksnya, posisi kaum perempuan kini. “Saya me­nyikapi, keterlibatan pe­rem­puan dalam politik masih dililit diskriminasi. Kaum pria beru­saha menggaet perempuan untuk menjadi caleg memenuhi  kuota 30 %. Namun, perempuan hanya dijadikan nomor sepatu atau vote getter semata,” katanya.

Dunia pendidikan pun, kata dia, masih terjajah oleh materi. Pendidikan seolah milik orang-orang kaya. Orang pintar yang miskin, sulit melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Apresiasi Ketua Wanita Islam Tasikmalaya, Hj. Yuyu Sri Rahayu, menyoroti fenomena bentuk perayaan kemerdekaan yang diekspresikan dalam berbagai cara. “Saya melihat banyak yang salah kaprah. Um­pamanya saja, karena mer­deka perempuan  mengeks­pre­sikan dirinya, dengan me­ngo­bral erotisme. Kesetaraan gender yang salah,” ujar Yuyu seraya berharap menjelang Pe­milu 2009,  perempuan jangan cuma dijadikan etalase saja.

Intelektual muda Tasikma­laya, Asep M. Tamam, lebih menyoroti kondisi mahasiswa Tasikmalaya yang cenderung larut dalam gerakan politik ketimbang gerakan intelektual.

Menurutnya, di Tasikmalaya aktivis politik mahasiswa lebih do­minan ketimbang  aktivis kajian. “Kampus-kampus di Tasik me­ne­lurkan aktivis-aktivis kam­pus dunia politik. Saya merindukan kampus-kampus itu penuh dengan kajian-kajian keilmuan. Tidak hanya politik,” tutur Asep.

Pentolan Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Tasikmalaya (FKMPT), R. H. Djadja Wiranatakusumah membenarkan kondisi saat ini yang memprihatinkan dan perlu segera dibenahi. HUT Kemerdekaan, menurut Djadja, momentum tepat untuk menggugah generasi mu­da. “Gugahlah rasa kebang­saan ini,” tandasnya.

Pasalnya, persatuan bangsa kini sedang terancam, seperti yang dikhawatirkan H. Teten Sudirman. “Saya mengkha­watirkan persatuan umat Islam saat ini. Dengan berdirinya banyak organisasi, baik politik mau pun massa. Kenapa bisa tercerai berai. Ini menandakan, ambisi pribadi masih dominan. Tidak ada pemikiran menya­tukan umat. Untuk mempersatukan itu ha­rus diberikan akidah yang kuat,” paparnya.

Pegiat pertanian dan pengamat sosial, Dr. Dedi Sufyadi pun setuju. “Asumsinya ke­mer­dekaan itu adalah kesejah­teraan,” katanya.  ”Masalahnya kita belum kafah saja. Kita belum kafah melaksanakan ajaran,” imbuhnya lagi.

Ia mengungkapkan  pula, tentang kondisi petani yang terhimpit. “Petani itu paling tidak merdeka. Kondisinya belum merdeka. Petani kita cenderung dipaksa untuk swasembada menanam ini dan itu. Bibit-bibitnya pun, petani dipaksa juga,” katanya.

Salah seorang penggagas Paguyuban Masyarakat Peduli Pendidikan Kota Tasikmalaya, Slamet Kartosumarto, memotret generasi muda yang mulai luntur rasa kebangsaannya. “Waktu Kabinet Syahrir melalui Menteri Penerangan. Moh Natsir. Setiap surat musti diawali dengan pekik Merdeka!” katanya.

Sekarang, saat lagu Indonsia Raya dikumandangkan, acapkali dicuekin. “ Roh nasionalisme itu sudah tidak ada. Begitu pula saat mengheningkan cipta. Dulu semua aktivitas berhenti. Sekarang, lagi-lagi dicuekin,” tandasnya.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lorong

  • Lorong

    Kesinambungan Bantuan Bencana

    MESTI dirancang program bantuan yang menyentuh kesinambungan hidup para pengungsi. Pemberdayaan ekonomi korban bencana menjadi sangat...

  • Lorong

    Hijrah: Lahir dan Batin

    HARI Jumat, 24 Juli 2015, malam terakhir awak redaksi berpacu dengan tenggat waktu di kantor lama,...

  • Lorong

    Fenomena Gunung Es Kekerasan pada Anak

    KASUS pembunuhan bocah Angeline di Bali menyita perhatian publik. Masih hangat juga, kasus penelantaran dan kekerasan...

  • Ekbis

    APBD Prorakyat

    SUDUT pandang yang berbeda antara komposisi belanja langsung dan belanja tidak langsung seringkali menjadi perdebatan birokrasi...

  • Lorong

    Impresi Laksana

    KAMI pernah merasakan kegetiran saat fluktuasi rupiah jumpalitan hingga titik terendah. Tahun 1997, deregulasi uang ketat...

  • Lorong

    Love Games

    DARI larik pertama sampai terakhir. Setiap kata dan ritma sama-sama menggairahkan. Cabikan bas Mark King langsung...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: