Connect with us

Sosbud

Nguniang ti Indihiang Nanjung di Bandung


Koko Koswara

Koko Koswara

AWAL tahun 2004 Mang Koko, betul-betul ”menghadiri langsung” undangan masyarakat Tasikmalaya. Bagaimana mungkin? Bukankah seniman besar yang dilahirkan di Indihiang tahun 1917 itu sudah wafat tahun 1985 silam?

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Meskipun sudah tiada, namun karya-karyanya masih berdenyut hingga sekarang. Kawih Badminton, Maen Bal, Buruh Leutik, Beus Kota, dan Resepsi — dari sekian banyak karyanya — masih sering dilantunkan orang.

Namun ironis, kadang-kadang orang tidak tahu penggubah lagu-lagu legendaris itu. Termasuk di kalangan kaum muda Tasik. Sejatinya orang Tasik bangga memiliki seniman sekaliber Mang Koko.

Diakui, kecenderungan di kalangan remaja gaung Mang Koko nyaris tenggelam. ”Generasi kita terputus,” ungkap salah seorang putra Mang Koko, Tatang Benyamin, Rabu (24/12/2003). Ia prihatin, nasib ”musisi” klasik Sunda yang seolah-olah tenggelam. ”Berbeda dengan musisi- musisi klasik Barat, yang terus hidup di kalangan para pelajar hingga sekarang,” katanya.

Boleh jadi, kegagapan kalangan muda mengenal seni daerah, akibat kurikulum yang mengusung seni daerah beberapa dekade ke belakang mulai dikurangi bobotnya. Lantas, dialihkan ke pelajaran kesenian modern yang akarnya dari Barat. Kondisi itu, diperparah dengan kapasitas guru kesenian dan bahasa daerah yang masih keteteran.

”Bagaimana bisa menyampaikan informasi ihwal seni Sunda, jika gurunya pun tidak mengenal. Sebetulnya, antusiasme kaum muda terhadap kesenian Sunda cukup kuat. Mereka ingin mendekati kesenian daerah. Tapi kebingungan harus kepada siapa mereka bertanya,” kata Tatang. Saat mendengar di Tasik akan digelar karya- karya Mang Koko, seperti gayung bersambut. Pasalnya, di Bandung pun sudah dirancang page- laran untuk mengenang almarhum. Pagelaran di Bandung, imbuh dia, bertajuk Nguniang ti Indihiang Padungdung Nanjung di Bandung.

”Ancang-ancang digelar bulan Februari,” katanya. Ia merasa terpanggil untuk mengetahui kemasan pagelaran yang sedang dirancang. ”Ada semacam tanggung jawab moral. Apalagi dikaitkan dengan pelajar yang tampaknya belum mengenal karya-karya Mang Koko,” katanya.

Berbeda halnya dengan generasi sebelumnya yang sudah mengenal karya-karya Mang Koko. Proses pengenalan kepada para pelajar perlu ke- masan khusus. Jangan sampai setelah menikmati pertunjukkan, kesan yang ditangkap mereka jelek. ”Mereka harus benar-benar merasa kagum setelah menonton pagelaran karya-karya Mang Koko,” katanya.

Kepala Seksi Seni Budaya pada Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Cucu Suryani, mengungkapkan, pihaknya akan berupaya merancang pagelaran yang jitu. Materi acara yang akan digelar, rampak kacapi, kaulinan barudak, anggana dan rampak sekar, dipungkas dengan pe- nampilan ”Glamour” (Kanca Indihiangan) dari Bandung. ”Semula pagelaran akan dilangsungkan akhir bulan ini di Gedung Kesenian Tasikmalaya. Namun karena pertimbangan disesuaikan dengan kalender pendidikan, diundurkan menjadi tanggal 20 Januari 2004,” katanya. Pagelaran karya-karya Mang Koko, kata dia, salah satu wujud inventarisasi kekayaan seni daerah di Kota Tasik.

”Alhamdulillah, tampaknya, kegiatan ini mendapat dukungan banyak pihak,” katanya. Cucu yakin, para pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya, akan turut me- nyokong dengan sepenuh hati. Sedangkan, Ketua Panglawungan Pangarang Kiwari (Langari), Nazaruddin Azhar, memandang penghargaan terhadap Mang Koko tidak cukup dengan menggelar karya-karyanya. Menurutnya, ada penghargaan lain yang bisa diberikan kepada seniman besar itu. Umpamanya, kawasan Indihiang bisa dijadikan sebagai kesaksian sejarah.

”Kesaksian itu mungkin bisa diwujudkan dengan menjadikan Mang Koko dan segala hal yang terpaut dengan proses kreatif dijadikan nama jalan,” katanya. Salah seorang penggiat kesenian di lingkungan sekolah, Drs. Eri Kustiaman, sepakat jika pengajuan Mang Koko menjadi nama jalan segera ditindaklanjuti ke Pemerintah Kota.

”Ada beberapa calon jalan yang dipandang tepat untuk dinamai Mang Koko dan atribut lain yang ada kaitan dengan dirinya. Di antaranya, Kaum, Pasanggrahan, Ciumbeng, dan Nagrog,” katanya. Jika penamaan jalan itu terwujud, akan semakin mengukuhkan. Mang Koko tak pernah ”mati”.


4 Komentar

4 Komentar

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosbud

  • Sosbud

    BBM Ampuh

    PENGARUH naiknya harga bakar minyak (BBM) ternyata ampuh. Mengatrol harga-harga komoditas lain. Tetapi tidak bila harga...

  • Sosbud

    Sekadar Hari Antikorupsi

    HARI Antikorupsi Dunia, Selasa (9/12/2014), jadi momentum refleksi semua pihak. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota...

  • Sosbud

    Media Sunda Lawas ti Tasikmalaya

    KABEUNGHARAN inteléktual urang Tasikmalaya, di antarana ngaréngkol dina ngokolakeun média. Lian ti koran Sipatahoenan anu gumelar...

  • Sosbud

    Bupati jeung Puisi

    GEDONG Kasenian Tasikmalaya (GKT) diadegkeun taun 1998 kalawan istiméwa. Minangka pangbagéa pamaréntah pikeun para seniman. Sanajan...

  • Sosbud

    Wan Orlet: Soal Becak

    WAWAN Rudiat atau lebih dikenal dengan Wan Orlet, hatinya tak sekeras dunianya. Sehari-hari bergelut dengan dunia...

  • Sosbud

    Tradisi "Enam" Penyair Tasikmalaya

    BERGELUT dengan kata, tidak lantas membuat seseorang dinobatkan menjadi pu­jangga. Setiap saat orang menggunakan bahasa untuk...

Terhangat

BÉDA rasa, kecap 'nangtung', 'dahar', saméméh dianteur ku kecap 'jung' jeung 'am'. Kecap anteuran ngagambarkeun mimiti migawé. Kecap 'dahar' bisa waé ditapsirkeun eukeur atawa geus dahar. Tapi mun 'am dahar', nu kacipta téh ngamimitian ngahuap. Sarua jeung trét nulis. #preposisi

About 14 hours ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Twitter for Android

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: