Connect with us

Metrum

Nikahi Aku

SEORANG ibu tega membuang bayi, menjadi tamparan bagi siapa pun yang memegang teguh norma. Tetapi dalam kondisi tertentu orang acapkali tergelincir. Banyak faktor yang bisa memicu kekalutan terjadi.

Naluri seorang ibu tidak mungkin didustai. Kehadiran seorang bayi, sejatinya menjadi kabar gembira yang paling dinanti. Namun kegembiraan itu akan berubah menjadi kabar buruk bila janin yang tumbuh dalam rahim memang tidak diingini.

Selain, karena persoalan teknis — umpamanya rencana menunda kehamilan — ada yang lebih menakutkan. Sang bayi lahir lantaran hasil hubungan tidak sah, melanggar norma alias haram. Artinya, tidak didasari konvensi masyarakat yang normal atau ketentuan yang mengikat semua warga masyarakat.

Hubungan gelap yang tidak dilandasi tanggung jawab melahirkan kepanikan. Akal sehat lumpuh. Bagaimana pun sanksi sosial akan menjadi tekanan batin yang berat. Kondisi seseorang yang dianggap tidak normal, akan disoroti. Tidak semua orang bisa menghadapi hukuman itu.

Sebetulnya ada celah untuk mencari solusi tengah. Seorang perempuan yang dihamili di luar perkawinan yang sah bisa menuntut. Membicarakan persoalan dengan jernih. Bila sang pria bersedia menikahi, selesai urusan. Paling tidak, bisa menutupi aib kendati pun status anak yang dilahirkan akan mengundang perdebatan.

Normalisasi — ayah, ibu, dan anak — yang tersandung hubungan tidak sah, setidaknya bisa menutupi peluang kasus buang bayi. Tentu tidak gampang. Sang pria acapkali tidak mau bertanggung jawab. Bisa karena faktor sikap atau karena masalah lain. Bila menemui jalan buntu, konflik batin pun terjadi. Akal sehat tercerabut. Sang ibu, akhirnya nekat, membuang bayi.

Di Kabupaten Garut, dalam kurun 10 hari, terjadi tiga kasus ibu membuang bayi. Pertama kisah penyerahan balita perempuan berumur 1,5 tahun. Diduga yang memberikan bayi itu yakni oleh ibunya sendiri kepada tukang parkir di jalan Guntur, Kecamatan Garut Kota, Senin (25/5/2015) lalu.

Kasus berikutnya, terjadi pada Rabu (3/6/2015) lalu, dengan ditemukannya bayi perempuan yang diduga dibuang oleh ibunya. Bayi itu ditemukan di Kampung Cipicung, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi. Bayi yang diperkirakan berusia 7 hari itu dibuang di teras depan rumah warga setempat dengan kondisi sehat. Kemudian Kamis (4/6/15), bayi perempuan ditemukan ditepi sungai Cimanuk, Kampung Jangkurang, Kelurahan Sukamantri, Kecamatan Garut Kota.

Ini preseden buruk.

Lanjutkan
Terkait...
Komentari

Tinggalkan Balasan

Metrum

  • Metrum

    Puisi di Ruang Publik

    Bayangkan, hidup kita tanpa kesenian. Tanpa musik, nyanyian, dan tarian. Bayangkan, jika hidup tanpa tontonan, tanpa...

  • DIARY

    Soempah Pemoeda Milenial

    Diskusi terfokus ikhwal relevansi Soempah Pemoeda era milenial, digelar di Redaksi H.U. Kabar Priangan, Senin (29/10/2018)....

  • DIARY

    Menyambungkan Rasa

    Menyambungkan rasa itu penting. Butuh totalitas. Apalagi saat kita bergerak di dunia yang harus dihayati dan...

  • DIARY

    Gerakan Membaca Koran

    Serikat Perusahaan Pers (SPS) Jawa Barat langsung ancang-ancang menggelorakan kampanye gerakan membaca koran seusai menggelar Musyawarah...

  • Metrum

    Deja Vu Tasikmalaya

    Beberapa hari seusai Kota Tasikmalaya merayakan sweet seventeen, saya berkunjung ke Singaparna, ibu kota Kabupaten Tasikmalaya....

  • Metrum

    I will be missing You #TerimakasihPath

    KECERIAAN Friendster dan kehangatan Multiply telah berlalu. Layanan mikroblog dan blog dalam jaringan itu sudah bubar...

Terhangat

PERSITAS has reached the top Manager Kent's PERSITAS have won the Cup for the Regular Div.17! #Official Website konami.com/wepes/mobile/p… pic.twitter.com/VQDhYXqY9r

About 2 days ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via PES CLUB MANAGER

Ke Atas