Connect with us

Sosbud

Raksasa Zakat yang Menakutkan


DIKABARKAN dana infak yang dikelola Badan Amil Zakat (BAZ) Sumedang tersendat-sendat. Ditenggarai sekitar Rp 430 juta dana yang ditarik dari penyelenggaraan infak seribu tak tentu rimbanya. Hal itu terungkap, saat Ketua BAZ, Ali Badjri, menyalurkan santunan kepada 450 orang guru ngaji non-PNS di Islamic Centre Sumedang, Sabtu (11/8/2012). Sampai saat ini ia pun masih “mengejar” kupon-kupon infak seribu yang belum disetorkan.

Kondisi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, memang tak kunjung mencapai tahap yang diidamkan. Padahal, melalui kajian yang bisa dipertanggungjawabkan, bila pengelolaan zakat, infak, dan sedekah sesuai dengan syariat, akan menjadi kekuatan kapital yang sangat dahsyat.

Seperti yang terungkap dalam opini Kabar Priangan yang ditulis Dosen Institut Agama Islam Darussalam (IAID), Ciamis, Titin Yuniartin, zakat adalah kekuatan ekonomi yang bisa menjamin kesejahteraan rakyat.

Berbicara tentang potensi zakat, jika kita beasumsi bahwa  Indonesia berpenduduk 204,8 juta jiwa, diperkirakan 83% umat Islam atau lebih kurang 166 juta jiwa. Dengan asumsi penduduk yang telah berkewajiban menunaikan zakat adalah mereka yang pengeluarannya di atas Rp. 200.000 per kapita per bulan, maka jumlahnya mencapai 18,7 % (SUSENAS 1999). 18.7 % dari 166 juta jiwa adalah sekitar 30 juta jiwa.

Jika dikurangi dengan berbagai kriteria, maka rata-rata harta yang wajib dizakati dari harta (mâl) adalah 20 dinar emas murni (1 dinar = 4,25 gram) atau setara dengan 85 gram emas. Jika harga emas sekarang  Rp 300.000 per gram, maka zakat dapat dihimpun dari sektor ini setiap tahun adalah 2,5% x 85 x 300.000 x 30.000.000 = Rp 19.125.000.000.000.  Apabila ditambah dengan zakat perniagaan, pertanian, peternakan serta zakat emas dan perak, juga infak, sedekah, kafarat, fidyah, wakaf dan lain-lainnya, maka umat Islam memiliki potensi dana yang sangat besar, dan dapat digunakan untuk membantu umat Islam yang kurang mampu.

Sehingga kebutuhan dasar umat Islam dapat terpenuhi secara layak dan baik serta kemiskinan setidaknya bisa diminimalisir.

Tapi mengapa tak bisa berjalan sesuai dengan proyeksi ideal? Apakah karena akan menjadi raksasa ekonomi yang sangat menakutkan? Wallahu alam.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosbud

  • Sosbud

    BBM Ampuh

    PENGARUH naiknya harga bakar minyak (BBM) ternyata ampuh. Mengatrol harga-harga komoditas lain. Tetapi tidak bila harga...

  • Sosbud

    Sekadar Hari Antikorupsi

    HARI Antikorupsi Dunia, Selasa (9/12/2014), jadi momentum refleksi semua pihak. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota...

  • Sosbud

    Media Sunda Lawas ti Tasikmalaya

    KABEUNGHARAN inteléktual urang Tasikmalaya, di antarana ngaréngkol dina ngokolakeun média. Lian ti koran Sipatahoenan anu gumelar...

  • Sosbud

    Bupati jeung Puisi

    GEDONG Kasenian Tasikmalaya (GKT) diadegkeun taun 1998 kalawan istiméwa. Minangka pangbagéa pamaréntah pikeun para seniman. Sanajan...

  • Sosbud

    Wan Orlet: Soal Becak

    WAWAN Rudiat atau lebih dikenal dengan Wan Orlet, hatinya tak sekeras dunianya. Sehari-hari bergelut dengan dunia...

  • Sosbud

    Tradisi "Enam" Penyair Tasikmalaya

    BERGELUT dengan kata, tidak lantas membuat seseorang dinobatkan menjadi pu­jangga. Setiap saat orang menggunakan bahasa untuk...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: