Connect with us

Lorong

Sejak Kapan Sunda Diberitakan?


sunda_kelapa

Padrão Sunda Kalapa (1522), sebuah pilar batu untuk memperingati perjanjian Sunda-Portugis, Museum Nasional Indonesia, Jakarta

 PRASASTI dianggap sumber berita otentik para sejarawan. Itulah masalahnya. Sumber rujukan prasasti di Jawa Barat boleh dibilang terbatas. Lumrah bila ada ruang kosong tanpa jejak, sehingga sempat muncul keraguan tentang sejarah kerajaan yang pernah berkuasa di Jawa Barat. Pertanyaan serius pernah dilontarkan Nugroho Notosusanto dan timnya saat menyusun Sejarah Nasional Indonesia yang pertamakali diterbitkan tahun 1975. Kekosongan berita otentik dalam bentuk prasasti, menjadi salah satu persoalan.

 

Kerajaan yang selama ini dianggap berdiri sendiri, boleh jadi, sebetulnya merupakan perjalanan estapet satu kerajaan bernama Tarumanagara setelah runtuh menjelang akhir abad VII Masehi. Nama-nama yang sekarang dianggap sebagai nama kerajaan, diduga hanya nama ibukota atau pusat kerajaan Tarumanagara yang berpindah-pindah. Artinya diduga, Kerajaan Sunda, sampai keruntuhannya pada tahun 1579, telah mengalami perpindahan ibu kota, mulai dari Galuh dan berakhir di Pakwan Pajajaran. Paling tidak, pandangan itu salah satunya bertolak dari prasasti yang ditemukan dalam jumlah terbatas di Jawa Barat. Informasi tentang nama kerajaan yang ditemukan dalam prasasti pun tidak rinci.

 

Ada juga sumber asing yang menyebut nama Sunda, seperti dari Berita Portugis yang berasal dari Tome Pires (1513). Menyebut-nyebut regno de cumda (kerajaan Sunda) telah melakukan hubungan dagang dengan Portugis. Diperkuat Antonio Pigafetta (1522) yang memberitakan Sunda sebagai daerah penghasil lada. Dua sumber asing ini, secara gamblang menyebut nama kerajaan Sunda di Jawa Barat.

 

Sedangkan sumber lokal yang dianggap sumber pertama menyinggung nama Sunda sebagai sebuah kerajaan, tertulis  tertulis dalam Prasasti Kebon Kopi II tahun 458 Saka (536 Masehi). Prasasti itu ditulis dalam aksara Kawi, namun, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kuno. Dalam prasasti itu ada kalimat … ba(r) pulihkan haji sunda… yang artinya: “mengembalikan raja Sunda”. Bisa ditafsirkan, sebelumnya telah ada raja Sunda. Batu peringatan itu mencatat ucapan ucapan Rakryan Juru Pangambat, bahwa tatanan pemerintah dikembalikan kepada kekuasaan raja Sunda.

 

Sayang, prasasti ini sudah hilang. Pakar F. D. K. Bosch, yang sempat mempelajarinya, menulis bahwa prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu, menyatakan seorang “raja Sunda” naik tahta dan menanggalkan peristiwa ini tahun 932 Masehi.

Rujukan lainnya kerajaan Sunda adalah Prasasti Sanghyang Tapak yang terdiri dari 40 baris yang ditulis pada 4 buah batu. Empat batu ini ditemukan di tepi sungai Cicatih di Cibadak, Sukabumi.

 

Prasasti-prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Kawi. Sekarang keempat prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta, dengan kode D 73 (Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi prasasti (menurut Pleyte): Perdamaian dan kesejahteraan. Pada tahun Saka 952 (1030 M), bulan Kartika pada hari 12 pada bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, hari pertama, wuku Tambir. Hari ini adalah hari ketika raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramattunggadewa, membuat tanda pada bagian timur Sanghiyang Tapak ini. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk melanggar aturan ini. Dalam bagian sungai dilarang menangkap ikan, di daerah suci Sanghyang Tapak dekat sumber sungai. Sampai perbatasan Sanghyang Tapak ditandai oleh dua pohon besar.

 

Jadi tulisan ini dibuat, ditegakkan dengan sumpah. Siapa pun yang melanggar aturan ini akan dihukum oleh makhluk halus, mati dengan cara mengerikan seperti otaknya disedot, darahnya diminum, usus dihancurkan, dan dada dibelah dua.

 

Selain dalam bentuk batu tulis, nama Sunda juga disebut-sebut dalam naskah kuno  Carita Parahyangan (akhir abad XVI) dan Siksakanda(ng) Karesian berangka tahun 1440 Saka (1518 M).

 

Bukti-bukti itulah yang dianggap memperkuat daerah Jawa Barat dikenal dengan nama Sunda. Sedangkan nama-nama lain yang selama ini dianggap nama kerajaan, adalah nama pusat kerajaan atau ibukota. Seperti yang disitir buku Sejarah Nasional Indonesia, nama Galuh dan Pajajaran (dalam prasasti ditulis Pakwan Pajajaran), ditafsirkan sebagai nama suatu tempat yang dianggap menjadi ibukota kerajaan Sunda yang berpindah-pindah sampai beberapa kali. (dari berbagai sumber)


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lorong

  • Lorong

    Kesinambungan Bantuan Bencana

    MESTI dirancang program bantuan yang menyentuh kesinambungan hidup para pengungsi. Pemberdayaan ekonomi korban bencana menjadi sangat...

  • Lorong

    Hijrah: Lahir dan Batin

    HARI Jumat, 24 Juli 2015, malam terakhir awak redaksi berpacu dengan tenggat waktu di kantor lama,...

  • Lorong

    Fenomena Gunung Es Kekerasan pada Anak

    KASUS pembunuhan bocah Angeline di Bali menyita perhatian publik. Masih hangat juga, kasus penelantaran dan kekerasan...

  • Ekbis

    APBD Prorakyat

    SUDUT pandang yang berbeda antara komposisi belanja langsung dan belanja tidak langsung seringkali menjadi perdebatan birokrasi...

  • Lorong

    Impresi Laksana

    KAMI pernah merasakan kegetiran saat fluktuasi rupiah jumpalitan hingga titik terendah. Tahun 1997, deregulasi uang ketat...

  • Lorong

    Love Games

    DARI larik pertama sampai terakhir. Setiap kata dan ritma sama-sama menggairahkan. Cabikan bas Mark King langsung...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: