Connect with us

Lorong

Titik Rawan Jamkesmas


jamkesmasRSUD Kota Banjar kecolongan. Seorang pasien yang tidak terdata sebagai penerima Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) disulap seorang oknum perawat.

Kasusnya berawal saat seorang pasien biasa harus membayar tagihan sebesar Rp 24,5 juta akhir Maret lalu. Rupanya, sang oknum menangkap peluang itu, setelah si pasien korban kecelakaan lalu lintas itu tampak gelisah. Ongkos rumah sakit sebesar itu, dipandang lumayan besar. Saat dibisiki pembayaran bisa direkayasa, seminimal mungkin, tentu saja merasa mendapat angin segar.

Perawat nakal itu, langsung mengendus kesempatan pada saat yang tepat. Orang yang sedang kesulitan, seringkali tak sempat berpikir ulang terhadap resiko yang bisa terjadi kemudian. Yang penting, saat itu dirinya bisa meloloskan diri dari lilitan masalah.

Ternyata betul saja, ulah itu menyisakan residu yang berbuntut panjang. Muslihat perawat yang dinilai berani itu akhirnya bisa diendus. Dokumen yang meriwayatkan proses perawatan sang pasien di rumah sakit, tiba-tiba hilang.

Lantas muncul dokumen baru yang direkayasa atas nama orang lain yang direkayasa menjadi atas namanya. Dokumen fiktif itu dibuat tidak cuma-cuma. Perawat meminta bagian sebesar Rp 13 juta, dan kedua belah pihak sepakat. Akhirnya diproses, dan berhasil.

Ada kecurigaan, perawat itu tidak bekerja sendiri. Pasalnya, alur kerja di RSUD saling terkait satu sama lain. Bila betul dilakukan sendirian, betapa beraninya. Bisa saja terjadi, kasus itu tidak terjadi di satu-dua kali. Pasalnya, peluang dan kesempatan acapkali sangat terbuka.

Lumrah pula bila ada anggapan Jamkesmas tidak seratus persen berjalan mulus. Data fiktif sering terdengar membayangi pelaksanaanya.

Penyelewengan saat pasien diproses kasusnya sudah ada yang terbongkar di RSUD Banjar tempo lalu. Belum lagi, peluang saat memproses laporan pertanggungjawaba kegiatan program.

Sebetulnya, pada tahap ini pun patut dicermati. Lantaran, peluang untuk memanipulasi data untuk dilaporkan sebagai klaim dana ke Kementrian Kesehatan bisa terjadi. Data-data nama penerima Jamkesmas bisa saja dimainkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Peluang itu sangat terbuka. Bila penerima Jamkesmas tidak menggunakan haknya karena tidak pernah sakit, namanya bisa saja dicatut kemudian dilaporkan klaimnya. Modusnya sederhana saja, bukan? ***


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lorong

  • Lorong

    Kesinambungan Bantuan Bencana

    MESTI dirancang program bantuan yang menyentuh kesinambungan hidup para pengungsi. Pemberdayaan ekonomi korban bencana menjadi sangat...

  • Lorong

    Hijrah: Lahir dan Batin

    HARI Jumat, 24 Juli 2015, malam terakhir awak redaksi berpacu dengan tenggat waktu di kantor lama,...

  • Lorong

    Fenomena Gunung Es Kekerasan pada Anak

    KASUS pembunuhan bocah Angeline di Bali menyita perhatian publik. Masih hangat juga, kasus penelantaran dan kekerasan...

  • Ekbis

    APBD Prorakyat

    SUDUT pandang yang berbeda antara komposisi belanja langsung dan belanja tidak langsung seringkali menjadi perdebatan birokrasi...

  • Lorong

    Impresi Laksana

    KAMI pernah merasakan kegetiran saat fluktuasi rupiah jumpalitan hingga titik terendah. Tahun 1997, deregulasi uang ketat...

  • Lorong

    Love Games

    DARI larik pertama sampai terakhir. Setiap kata dan ritma sama-sama menggairahkan. Cabikan bas Mark King langsung...

Terhangat

BÉDA rasa, kecap 'nangtung', 'dahar', saméméh dianteur ku kecap 'jung' jeung 'am'. Kecap anteuran ngagambarkeun mimiti migawé. Kecap 'dahar' bisa waé ditapsirkeun eukeur atawa geus dahar. Tapi mun 'am dahar', nu kacipta téh ngamimitian ngahuap. Sarua jeung trét nulis. #preposisi

About 14 hours ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Twitter for Android

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: