Connect with us

Sosbud

Tradisi "Enam" Penyair Tasikmalaya


Anggie Sri Wilujeng

Anggie Sri Wilujeng

BERGELUT dengan kata, tidak lantas membuat seseorang dinobatkan menjadi pu­jangga. Setiap saat orang menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, toh tidak kemudian semua jadi sastrawan atau penyair. Padahal, sastra menggunakan perangkat bahasa sebagai media. Di dalamnya termasuk ungkapan sehari-hari yang biasa digunakan untuk berbincang-bincang.

Seseorang yang bertutur kata baik dan indah pun tidak serta merta disebut sastrawan. Sekalipun memiliki pengetahuan mendalam tentang sastra. Ia mungkin hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja, menjadi pengamat, atau paling tidak cukup penikmat saja. Kalau semua jadi sastrawan, siapakah yang akan menjadi apresiator. Sekalipun seorang sastrawan sesungguhnya sekaligus menjadi seorang apresiator yang baik.

Ada proses yang harus dilalui untuk menjadi kreator dan mengukuhkan diri menjadi pelaku di dunia sastra. Komunitas yang inten dan serius, bisa berperan penting untuk melegitimasi eksistensi kepenyairan seseorang. Tradisi diskusi dan pembacaan puisi bersama, salah satu proses yang bisa mengukuhkan orang menjadi penyair yang teruji. Sepin­tas, ada kesan semacam “pembaptisan”. Namun selama dijalani dengan sehat, tak perlu menjadi perdebatan. Komunitas bisa mendorong proses kreatif melahirkan karya yang berkualitas.

Perjuangan untuk menggelorakan tradisi menulis puisi, telah lama digulirkan Sanggar Sastra Tasikmalaya (SST). Apalagi, ada mitra Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) yang dimotori Majalah Sastra Horison ketika itu.

Di kalangan pecinta sastra Tasik, ada “Tradisi Enam” yang sudah bergulir beberapa kali. Ada enam orang penyair yang harus menyer­ahkan karya-karyanya untuk didiskusikan, dan tentu saja dibaca­kan. Diawali dengan “Enam Penyair Menembus Langit“, “Enam Penyair Membentur Tembok” kemudian dilanjutkan dengan “Enam Penyair Memi­num Aspal“.

Lantas menyusul “Enam Penyair Mengisap Knalpot” menampilkan Anggie Sri Mulyati, Dwi Feb, Dian Jaka Sudrajat, Iwan Koeswanna, Maizer Alzou, dan Semmi Ikra Anggara. Puisi-puisi mereka dibahas Dosen Fakultas Sastra Univer­sitas Padjadjaran, Drs. Abdul Hamid, MHum. Karya intuitif dibedah dengan pisau akademisi.

Puisi yang disodorkan para penyair, berupaya menempatkan stilis­tika atau penggunaan bahasa dan gaya bahasa dalam puisi mereka.  Meskipun, ada juga yang beberapa di antaranya yang belum mengena. Lantaran, terlalu boros menggunakan kata atau tidak berupaya menampilkan ungkapan-ungkapan yang lebih baru dan segar.

Umpamanya saja, puisi Dian Jaka Sudrajat , Tolong Aku Tuhan. Cinta jenis kelamin yang sering terjadi diung­kapkan terlalu terang. Karena asosiasi atau tautan makna yang diungkapkan aku lirik, sudah biasa diungkapkan banyak orang.

Sungguh mereka tiba-tiba
Menawarkan padaku dua bunga
Tanpa kuketahui lebih dulu isi kuntum hatinya
Yang murni. Tapi jika itu baik bagiku
Maka tolong, Tuhan, tunjukanlah…

Tiga bait puisinya, dengan larik-larik yang cukup gemuk, terkesan mubazir, karena terlalu mengakomodir penjelasan-penjelasan yang  verbal. Terutama pada bait ketiga puisi itu. Tolong antarkan ke sini, Tuhan Harum setangkai bunga belahan jiwa  / Agar hatiku merasa tenang dan damai / Agar aku lengkap menjadi manusia/ Menuju totalitas pengabdian hidup di bumi ini.

Jika bait ketiga ini dihilangkan, barangkali kekuatan puisi itu akan terbantu. Namun Dian berhasil memperlakukan puisi Sampai Kapankah. Metafora yang diungkapkan mengena.

Sepanjang hari kita mengkabuhi
Pulau usia demi usia
Yang senantiasa mendampar­kan
Perjalanan napas hidup kita
Di belantara ini.

Atau dalam puisi Dua Cahaya. Diksinya lebih ketat. Temanya sama, yakni tentang cinta kasih. Begitu pula dengan puisi  Aku Datang Lagi. Namun pengungkapan puisi-puisi tadi terkesan lebih intens ketimbang puisi Tolong Aku Tuhan.

Puisi-puisi Maizer Alzou, menarik untuk dicermati. Pilihan kata yang digunakannya menimbulkan efek tertentu. Puisi  Habitat Di Negeriku, indikasi yang harus dipertahankan, bahkan diper­tajam. Awalnya menangkap kesan-kesan yang dibawa ke dalam. Lantas dikeluarkan menggambarkan kenyataan aktual.

Di negeriku,
orang berbaju loreng telah menjadi almarhum
karena bintang di bahunya telah kabur
kembali ke langit

Di sini,
Gedung DPR telah menjadi tempat karoke
Ratusan orang bernyanyi
dengan lagu kebangsaannya masing-masing

Negeriku, negeri kasih sayang
kasih sayang untuk UANG!

Bandingkan dengan puisinya yang bertajuk “Dari“:  pagi ini kau tak dibangunkan oleh cinta/Tak pamit pada fajar/Subuhmu membisu/orang-orang ada rapat dengan nurani./Singgah di pagi,/kau tak ada/Tenggelam dalam remix rasa/dan banjir darah./Numpang  lewat pada siang,/macet. Katanya,/ada tabrakan antar jiwa…

Karakter puisi Maizer perlu mendapat perhatian khusus. Menyimak beberapa karyanya, harapan untuk mencapai kepenyairan yang serius terbuka lebar. Pilihan kata yang diformulasikan Maizer, tampak lebih “dewasa”. Salah satunya bisa disimak dalam Bukan Orang Normal: Untuk aku yang ingin hilang ingatan/demi prajurit dalam darahku/yang kehilangan sirkulasi waktu/akhir cerita telah mem­buat hatiku jadi pengadilan//Esokmu terbias pada wujud kotoran siang/yang diteropongkan hari ini/dan aku lihat pada karnaval kebekuan//Nanti nafasmu akan muntah/seperti mataku menertawakan­ku//Telapak hujan mendindingi waktu/dan dadaku akan tetap lengas

Sedangkan kekuatan Anggie Sri Mulyati terletak pada cara menutur­kan impresinya tentang hidup. Simak beberapa pilihan kata yang cukup intensif: ‘di pundak waktu’, ‘tubuh malam’, ‘mimpi memang­gil’ (Dalam Keheningan); ‘perbincangan matahari’, ‘biarkan doa-doa bersetubuh’ (Menuju Keheningan); ‘luka yang membangunkanku’, sajak-sajak cinta picisan yang dibangun air’ (Kenangan).

Dwi Feb menawarkan puisi-puisi pendeknya yang didominasi tema cinta, dalam puisi-puisi Calon Permaisuriku, Metamor Cinta 1 dan 2. Semmi Ikra Anggara larut dalam gaya hiperbolanya.

Puisi Iwan Koeswanna agak lain. Seperti dalam lukisan, puisinya terkesan menangkap objek-objek yang sempat dipandangnya. Lantas diungkapkan dengan terpatah-patah. Menangisi nasib pada warna yang kering/Meteran kayu dan kain berjejeran ke tembok/Ada yang sebelahan dengan tangga/Warnanya berdebu menumpuk modal-modal  berkilo-kilo/Apa yang hendak dikata perasaan sabar harus menye­bar/Melekat pada mata kaki (Begitu Juga 0987654321).

Ada kesan diksi yang dipilih membetot langsung pada bentuk-bentuk tiga dimensi di seputar kita, seperti dalam puisi lainnya, “Masih Belum Jelas“: Sewaktu kutatap sebuah palu memukuli timah panas/Hatiku semakin tidak jelas memahami sebuah kursi…


Lanjutkan
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosbud

  • Sosbud

    BBM Ampuh

    PENGARUH naiknya harga bakar minyak (BBM) ternyata ampuh. Mengatrol harga-harga komoditas lain. Tetapi tidak bila harga...

  • Sosbud

    Sekadar Hari Antikorupsi

    HARI Antikorupsi Dunia, Selasa (9/12/2014), jadi momentum refleksi semua pihak. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota...

  • Sosbud

    Media Sunda Lawas ti Tasikmalaya

    KABEUNGHARAN inteléktual urang Tasikmalaya, di antarana ngaréngkol dina ngokolakeun média. Lian ti koran Sipatahoenan anu gumelar...

  • Sosbud

    Bupati jeung Puisi

    GEDONG Kasenian Tasikmalaya (GKT) diadegkeun taun 1998 kalawan istiméwa. Minangka pangbagéa pamaréntah pikeun para seniman. Sanajan...

  • Sosbud

    Wan Orlet: Soal Becak

    WAWAN Rudiat atau lebih dikenal dengan Wan Orlet, hatinya tak sekeras dunianya. Sehari-hari bergelut dengan dunia...

  • Sosbud

    Cahaya Bulan di Buruan

    DULU, tak usah repot mencari taman tempat bermain. Lantaran nyaris di setiap rumah, ada buruan. Pekarangan...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: