Connect with us

Teater/Film

Visualisasi Kritik Sosial dalam Film-film Pendek Komunitas Kreatif Tasikmalaya


 I

dheaFILM-FILM berdurasi pendek yang disuguhkan komunitas kreatif, Skata, Kanaba, Soca Tasikmalaya, dan Pondok Media, perlahan menukik ke penghayatan kenyataan secara audio visual. Proses kreatif yang patut disambut dengan sukacita. Betapa perlakuan kreatif terhadap peristiwa-peristiwa aktual 1), ternyata tumbuh, bahkan bermekaran di Tasikmalaya.

Sebut saja Soca Tasikmalaya, komunitas yang didampingi Yayasan Kampung Halaman Jogjakarta itu intens menggarap ‘video diary‘ atau catatan harian yang divideokan. Beberapa film pendek karya Soca yang ditayangkan dalam pemutaran film “Tasik Bercerita” di ajang Syukuran Waktu, Jumat (30/12/2011), menggambarkan peristiwa gempa Tasikmalaya dari sudut pandang warga.

Di antaranya film “Rumah Kedua” yang menuturkan sudut padang seorang remaja, Indah (17), tentang kamar kesayangan yang luluh lantak akibat gempa berskala 7,3 SR ((2/9/2009). Film berdurasi 05.14 itu tidak saja berhasil menggambarkan suasana lahiriah, tetapi juga suasana batiniah yang mendalam. Narasi Indah yang khas remaja, memperkuat gambar dalam sebuah alur peristiwa. Keharuan yang tidak berlarut-larut karena disikapi dengan cerdas dan optimistis. Film “Rumah Kedua” ini senada dengan “Rumah Kolam”. Kali ini bukan remaja yang bicara tetapi seorang Ibu bernama Yayah, yang mengungsi ke kolam bersama keluarganya. Rumah kolam beratap terpal.

“Masjid Manonjaya”, ketika dikabarkan rusak akibat gempa, tentu tidak akan sekuat digambarkan langsung melalui gambar. Setiap ruang dan sudut bangunan masjid lama itu terkesan seperti di depan mata. Tidak usah membayangkan dengan mengernyitkan dahi. Disuguhkan melalui bahasa gambar kesannya lebih mendalam. Video ini digarap dengan gaya reportase seperti halnya yang dilakukan media televisi mainstream.

Kalau film-film pendek tentang gempa diangkat dari fakta, kompilasi Aku, Video, dan Puisi, lebih ke interpretasi puisi. Di antaranya, menafsirkan puisi ternama Acep Zamzam Noor, Melika Hamaudy. Sebelumnya puisi ini pun telah dimusikalisasi Kontra dengan irama hiphop. Film ini sekaligus membuktikan selain dimusikalisasi, puisi juga bisa divisualisasikan.

 II

Film-film yang digarap Sanggar Kreasi Anak Tasikmalaya (Skata), umumnya, memusatkan perhatian pada kehidupan masyarakat kecil. Dimotori Heri yang lebih akrab disapa Panji, Skata berbaur dengan anak jalanan, pengamen, dan warga selama berproses menggarap film pendek. Justru inilah yang membuatnya istimewa. Proses kreatif yang melekat dengan denyut masyarakat secara langsung.

Salah satunya, Diary Sahdea, kreativitas yang terus berproses. Sekalipun proses pembuatan filmnya sudah tuntas. Ada yang istimewa, dan boleh jadi lebih berharga ketimbang proses pembuatan film-film yang berorientasi komersial murni. Skata memposisikan diri sebagai produser, kreator, dan pemasar sekaligus. Polanya tidak jauh berbeda dengan manajemen rumah produksi film yang sekarang berkiprah di dunia pertelevisian dan bioskop.

Namun, nilai yang tidak dimiliki rumah-rumah produksi itu adalah totalitas untuk memperjuangkan rakyat kecil. Diary Sahdea diproduksi Skata, sebagai wujud pembelaan terhadap kaum lemah. Sosok Sahdea diangkat ke dalam film bukan semata-mata untuk menghibur. Tetapi, juga mengajarkan bagaimana mengampanyekan kepedulian terhadap orang-orang yang dililit kesulitan.

Diary Sahdea menyodorkan informasi yang gamblang tentang penderitaan di tengah-tengah orang-orang yang bersukacita. Sahdea, bocah yang ceria, tidak tampak bahwa dia sangat menderita ketika buang hajat besar. Lantaran, kotoran harus dibuang melalui saluran air kencing. Baru berusia tujuh hari Dea harus dioperasi untuk membuat lubang anus. Usia empat tahun Dea dioperasi lagi, namun tidak membuahkan hasil. Kotoran masih keluar melalui saluran depan sampai sekarang.

Informasi itu dihimpun Skata, kemudian dituangkan ke dalam film berdurasi 2:36 itu. Film singkat itu belum selesai, dan bagi Skata sesungguhnya justru kelarnya pembuatan Diary Sahdea, menjadi pertanda proses kreatif baru dimulai.

 1) Pandangan John Grierson ketika menanggapi film-film karya Robert Flaherty, terutama Nanook of the North. Film yang berdurasi kurang lebih 1,5 jam itu tidak lagi ‘mendongeng’ ala Hollywood. Grierson kemudian menyampaikan pandangannya bahwa apa yang dilakukan oleh Flaherty tersebut merupakan sebuah perlakuan kreatif terhadap kejadian-kejadian aktual (the creative treatment of actuality).


Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Teater/Film

  • Teater/Film

    Komunitas Belajar Film

    PENDIDIKAN yang didambakan melahirkan perubahan, diakui, tak selamanya sempurna. Ruang untuk menjajal kapasitas individu siswa semacam...

  • Lorong

    Angels and Demons

    MANUSIA membutuhkan agama dan ilmu pengetahuan. Kelembutan budi dan kecerdasan yang tak bisa lepas dari kehendak...

  • Teater/Film

    Ruang Perbedaan

      PANDANGAN kolektif warga, boleh jadi rujukan. Konvensi yang diakui publik. Sekalipun, tidak selamanya pandangan itu...

  • Teater/Film

    Gravity

    SENYAP. Puing-puing satelit, noktah kecil di ruang maha luas. Maut dan sepi tipis jaraknya. Dr. Ryan...

  • Teater/Film

    Sadar Potensi

    NONTON film animasi ini, paling tidak, penonton diajak untuk sadar poténsi. Berpikir objektif dan positif tentang...

  • Teater/Film

    Politic Show

    FILM tidak semata-mata dibuat untuk menghibur. Tetapi harus ada pesan yang disampaikan. The Hunger Games: Catching...

Terhangat

BÉDA rasa, kecap 'nangtung', 'dahar', saméméh dianteur ku kecap 'jung' jeung 'am'. Kecap anteuran ngagambarkeun mimiti migawé. Kecap 'dahar' bisa waé ditapsirkeun eukeur atawa geus dahar. Tapi mun 'am dahar', nu kacipta téh ngamimitian ngahuap. Sarua jeung trét nulis. #preposisi

About 14 hours ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Twitter for Android

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: