Connect with us

Komunitas

Behind The Scene #RokPungsat

ROK Pungsat sempat menjadi penanda topik diskusi Tasik Creative Community Forum(TCCF) seusai berbagi gagasan, Minggu (24/8/2014) di lantai 2 Ngopitiam Plasa Asia (belakang Clasic Karaoke). Penanda topik atau hashtag#RokPungsat itu dilontarkan pegiat komunitas, Uyung Aria saat berdikusi di grup facebook TCCF. Uyung memandang tanda-tanda orang kreatif tidak asyik sendiri, tetapi setiap aktivitas yang dilakukan langsung dirasakan masyarakat.

“Kedah langsung karaos mangpaatna kanggo masarakat. Janten urang teh katingal fungsina di masarakat secara langsung. Terlepas nanti mau dibilang ide kita kreatif atau tidak. Bisa juga pengenalan kepada masyarakat bahaya sampah plastik yang tidak bisa diurai tah engke (ditangani)TCCF1 TCCF, dengan membagikan brown bags sebagai pengganti penggunaan kantung plastik. Kantun we engke kumaha carana etabags bisa kita produksi secara massal dengan kreativitas urang,” katanya.

Langkah kreatif, menurut dia, bisa dimulai dari hal yang kecil. Jangan sampai terjebak oleh hal besar tetapi tidak terukur. “Urang mimitian tina hal alit we heula ang, Supados rada benten ti nu atos atos hehehe. Misal sampah kertas atau buku, plastik, yang tak terpakai kita kumpulkan, trus hasilnya kita jual n bikin buat modal awal pembuatan bags eta jadi reduce n recycle lah. Hehehe abi ge nuju alit mah alit we sami taros we kang Maul hehehehe,” papar Uyung.

Pegiat Bandung Creative City Forum (BCCF) Maul Yudiman yang hadir dan menjadi narasumber dalam diskusi TCCF, merespon usul Uyung Aria. “Usulan Om Uyung Aria sangat kongkrit untuk direalisasikan. Prung ah. Meni ararisin ningali runtah di unggal juru di Tasik. Duuuh Tasik nu Resik teh ka mana atuuh?” ujarnya menandaskan.

Soal #RokPungsat, Uyung menjabarkan sebagai singkatan yang menggambarkan aksi nyata. “Relawan Orang Kreatif, Pungut Sampah Tasik, disingkat Rok Pungsat, hahaha,” kata Uyung sambil ngagakgak.

Dia prihatin di sepanjang Jl. dr. Sukardjo ada TPS sementara tapi sudah ditutup bangunan permanen. “Jadi masyarakat sekarangg membuang sampah ke sungai. Di belakang Mayasari Plaza pun sekarang TPS-nya maju ke depan karena ada pembangunan di sana, hariwang Tasik jadi lautan sampah.” kata Uyung dengan nada agak meradang.

TCCF3Sementara itu, pemangku TCCF, Teguh Nugraha menyampaikan beberapa kesimpulan diskusi dan sharing TCCF yang digelar di Plasa Asia. Di antaranya, TCCF menjadi forum komunitas kreatif dengan visi mewujudkan Tasik menjadi kota kreatif. TCCF terdiri dari perkumpulan komunitas kreatif dan pegiat kreatif perorangan. Pengalaman (best practise) dari kota Bandung dan kota kreatif lainnya bisa menjadi salah satu acuan awal untuk konsep pengembangan kota kreatif dengan mengedepankan aspek ciri khas Tasik dan keunikan tasik sebagai karakter utama.

Even terdekat, menjelang HUT Kota Tasikmalaya semua komunitas akan membuat sebuah produk kegiatan bisa berupa event atau sebuah karya yang akan dikompilasi menjadi karya bersama. Sharing dan diskusi TCCF akan menjadi agenda rutin bulanan TCCF dengan topik tematik yang berbeda-beda dan mengundang beragam narasumber.TCCF2 TCCF diharapkan menjadi wadah yang bisa menjadi tempat bernaung komunitas kreatif. Secara legal ke depan akan dikembangkan dengan legalitas hukum yang jelas sebagai payung.

“Sinergi antar komunitas kreatif akan menjadi kekuatan TCCF untuk mewarnai kota Tasikmalaya dengan aura kreatif. Permasalahan yang diungkap peserta sharing menjadi catatan dan PR bagi TCCF untuk dapat dicarikan solusinya secara simultan dan gradual,” ujar Teguh.

Lanjutkan
Terkait...
Komentari

Tinggalkan Balasan

Komunitas

Ke Atas