Connect with us

Metrum

Belajar Berterimakasih

indoor-crime-sceneIRONIS dan tragis.  Pemilik hotel yang dikenal baik budi itu harus tewas ditangan karyawan yang konon paling dimanja. Pagi hari buta, Ali bin Warji (45) ditusuk pisau dapur gara-gara persoalan sepele. Entah apa yang berkelebat dalam benak Kiki (21), karyawan Ali Beach Hotel yang bekerja di “Ali Beach Hotel” sejak 15 Januari lalu.

Walaupun karyawan baru, Kiki diperlakukan cukup istimewa. Ia sempat jatuh sakit, dan diantar Ali ke dokter. Bahkan, dibelikan hape. Tetapi kebaikan itu tidak ada artinya, saat Kiki gelap mata gara-gara tak diijinkan pulang kampung ke Cidamar Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Karena belum genap satu bulan bekerja di hotel itu.

Bila betul karena gara-gara itu, yang mendorong Kiki menyambar pisau dapur — lantas menusuk Ali dengan membabi buta — sama sekali tidak bisa diterima akal sehat.

Kebencian memuncak yang ditindaklanjuti dengan melenyapkan nyawa orang, melukiskan amarah yang tak mampu dibendung. Kebencian yang tiba-tiba saja merasuk. Karena, sebelumnya tidak ditenggarai ada masalah serius antara korban dan pelaku.
Apalagi, justru sang korban, dipandang orang telah bermurah hati kepada si pelaku. Nu asih dipulang tai, kata orang. Kiki yang seharusnya berterimakasih, karena diberdayakan di hotel milik Ai, malah membalas dengan air tuba.

Peristiwa mengenaskan di pantai Pangandaran, bisa di­tafakuri. Acapkali orang lupa bersyukur dan berterimakasih. Kebaikan orang, sering dianggap angin yang berlalu begitu saja. Padahal, dalam setiap perbuatan berlaku hukum karma.

Orang-orang yang berbuat baik, layak dihargai setinggi-tingginya. Lantaran, sikap menghargai setimbang dengan nilai kedirian seseorang. Menghargai orang sama artinya dengan menghargai diri sendiri.

Acapkali terlupa. Sejatinya manusia paling berlimpah dianugrahi nikmat Sang Mahapencipta yang pengasih dan penyayang. Tetapi tidak sedikit yang mengingkarinya. Manusia memang pandai berhitung, namun tak banyak yang pandai bersyukur.

Anugrah kenikmatan malah sering membuat terlena. Lupa, sekecil apa pun anugrah yang diterima pasti ada asal muasalnya. Bagaimana bisa bersyukur dengan khusyu, bila masih meremehkan kebaikan orang-orang.

Mari belajar berterimakasih.***

ilustrasi 123rf.com

Lanjutkan

Metrum

  • Metrum

    Puisi di Ruang Publik

    Bayangkan, hidup kita tanpa kesenian. Tanpa musik, nyanyian, dan tarian. Bayangkan, jika hidup tanpa tontonan, tanpa...

  • DIARY

    Soempah Pemoeda Milenial

    Diskusi terfokus ikhwal relevansi Soempah Pemoeda era milenial, digelar di Redaksi H.U. Kabar Priangan, Senin (29/10/2018)....

  • DIARY

    Menyambungkan Rasa

    Menyambungkan rasa itu penting. Butuh totalitas. Apalagi saat kita bergerak di dunia yang harus dihayati dan...

  • DIARY

    Gerakan Membaca Koran

    Serikat Perusahaan Pers (SPS) Jawa Barat langsung ancang-ancang menggelorakan kampanye gerakan membaca koran seusai menggelar Musyawarah...

  • Metrum

    Deja Vu Tasikmalaya

    Beberapa hari seusai Kota Tasikmalaya merayakan sweet seventeen, saya berkunjung ke Singaparna, ibu kota Kabupaten Tasikmalaya....

  • Metrum

    I will be missing You #TerimakasihPath

    KECERIAAN Friendster dan kehangatan Multiply telah berlalu. Layanan mikroblog dan blog dalam jaringan itu sudah bubar...

Ke Atas