Connect with us

Metrum

Buih dan Mutiara


mutiaraSELAMAT datang Ramadan. Mari kita sambut dengan gembira. Kegembiraan berbasis puasa. Menahan diri dari segala kuasa yang terkutuk.

Ramadan bukan buih yang menari di permukaan. Ramadan adalah mutiara yang diam di kedalaman. Buih lenyap dalam sekejap. Mutiara tidak.

Orang bisa mengaku berpuasa, setelah menyelinap di balik semak. Selepas merokok atau minum kopi. Ngemil. Bahkan makan. Nyémén namanya.

Sulit membedakan orang berpuasa atau tidak. Lantaran wujud puasa tak tampak. Berbeda dengan salat dan naik haji yang tampak dalam gerak.

Demikian pula syahadat yang disuarakan. Ikrar. Tampak pula, lantaran diucapkan dan disaksikan. Verbal. Terdengar. Menggetarkan sukma.

Sedangkan puasa, tak terdeteksi. Tanpa gerak dan suara. Menahan diri menempuh jalan yang sunyi. Tidak terungkap. Silent but powerfull.

Orang yang tidak berpuasa sulit diendus. Kecuali bila seseorang dengan terbuka makan dan minum di tempat umum. Jarang yang begitu. Risih.

Tak tahan ingin merokok tinggal menyelinap. Berbekal parfum, baunya bisa hilang. Lantas kembali berbaur dengan orang-orang di jalan lurus.

Puasa cenderung menyentuh perasaan. Menahan diri dari rasa lapar dan dahaga. Berempati, merasakan kaum sulit. Miskin kebutuhan dasar.

Kata kuncinya menahan diri. Namun seringkali diwarnai ironi tak berkesudahan. Selama beribadah puasa, malah menjadi lebih konsumtif.

Anehnya, harga kebutuhan pokok melambung. Harga daging sapi yang diwanti-wanti Presiden tak melampaui Rp 80.000 / kg. Faktanya meleset.

Di pasar harga daging sapi mencapai Rp 170.000 per kilogram. Tapi tetap saja laku. Malah kebutuhan daging, ini dan itu makin meningkat.

Bukan daging saja. Kebutuhan lain juga makin menjadi-jadi. Terutama sandang dan pangan. Bahkan, petasan pun turut terdongkrak.

Katanya puasa. Tapi konsumtif begitu. Bukankah substansi puasa adalah menahan diri? Mengapa jadi loba kahayang? Uforia setiap magrib.

Menyambut Ramadan dengan gembira sangat dianjurkan. Bergembira dengan bersahaja. Bergembira cukup dalam hati. Jangan terlalu dramatis.

Bergembira banyak cara. Bergembira tidak seperti buih menari di permukaan. Melainkan seperti mutiara yang diam di kedalaman.


Continue Reading
Advertisement
Komentar

Tinggalkan Balasan

Metrum

  • Metrum

    Pesan Fabel

    Sejak dini dikenalkan pada imajinasi. Fiksi lama yang tersebar luas secara lisan. Hewan berperilaku seperti manusia....

  • Metrum

    Persimpangan Jalan Media

    Menjelang Hari Pers Nasional Ada dua pandangan saling menghampiri. Karena semakin dekat, keduanya bisa saling mempengaruhi....

  • Metrum

    Puisi di Ruang Publik

    Bayangkan, hidup kita tanpa kesenian. Tanpa musik, nyanyian, dan tarian. Bayangkan, jika hidup tanpa tontonan, tanpa...

  • DIARY

    Soempah Pemoeda Milenial

    Diskusi terfokus ikhwal relevansi Soempah Pemoeda era milenial, digelar di Redaksi H.U. Kabar Priangan, Senin (29/10/2018)....

  • DIARY

    Menyambungkan Rasa

    Menyambungkan rasa itu penting. Butuh totalitas. Apalagi saat kita bergerak di dunia yang harus dihayati dan...

Advertisement WordPress.com

Disadari atau tidak, majas melekat dengan keseharian. Saat ngobrol di kedai kopi, lahir perbandingan untuk menjelaskan gagasan. Kiasan mengalir, mempertegas efek. Menghidupkan imajinasi.… instagram.com/p/Bt8eGDDBe9l/…

Yesterday from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Instagram

To Top