Connect with us

Metrum

Dialog Semesta

BERDIALOG dengan semesta. Sepintas seperti orang gila. Bahkan sangat tipis dengan kesesatan. Lalu sering disalahpahami dan tidak diminati. Kata penyair Acep Zamzam Noor, banyak cara berdialog dengan alam semesta. Di antaranya mengelus-elus batu akik sambil santai mereguk kopi.

Cara berdialog seorang penyadap dengan pohon sangat khas. Penuh kelembutan. Memperlakukan pohon layaknya bidadari. Merayu dengan puisi. Resonansi puisi yang seringkali dianggap mantra atau jampi-jampi. Di luar nalar. Manusia bicara dengan pohon aren atau karet. Tidak wajar.

Bagaimana mungkin tumbuhan memiliki keinginan? Bagaimana mungkin hewan punya kegemaran? Bagaimana mungkin tumbuhan dan hewan punya hobi?

Seorang teman bercerita dengan meyakinkan. Tumbuhan pasti punya keinginan. Binatang pasti punya kegemaran. Mereka mesti diperlakukan adil.

Bandingkan tumbuhan rambat peria, antara yang sering disuguhi musik dangdut dan jazz. Buahnya yang satu keriting, yang satu lagi lurus. Bandingkan antara tanaman cabai yang suka dimaki-maki dan dipuji-puji. Pernah diteliti. Hasilnya pun berbeda. Ternyata cabai punya jiwa.

Campur tangan semesta acapkali diabaikan makhluk paling mulia. Manusia. Padahal seisi alam raya sangat berpengaruh dalam hidup keseharian.

Begitulah kata sang penyuluh pertanian. Jika ingin menjadi petani atau peternak sukses, pahami tumbuhan dan hewan. Mereka punya perasaan.***

Diskusi di Facebook
Continue Reading
Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Tinggalkan Balasan

Advertisement WordPress.com
To Top