Connect with us

Jurnalisme

Dinamika Media Lokal


Kritis tapi Etis, Terbaik dan Berpengaruh

SLOGAN kritis tapi etis melekat dengan Surat Kabar Priangan saat dilahirkan 15 Mei 1999 silam. Pilihan kata yang ramping dan mudah diingat. Tidak semata-mata menjadi semboyan, bila tidak mengandung makna menukik dalam. Priangan atau Parahyangan artinya tempat para dewa bermukim. Panorama indah paripurna, lantaran dihuni masyarakat yang ramah dan santun.

Para pendiri koran lokal ternama yang dinaungi Harian Umum Pikiran Rakyat itu telah memilih kata yang tepat. Selain merujuk pada sebuah kawasan geografis, Priangan sekaligus mengandung makna filosofis yang mengakar. Simbol yang intim dengan masyarakat.

SK Priangan: kritis tapi etis. Mengingatkan pada sawah, bukit-bukit, gunung, sungai, danau, dan kolam. Tanah subur, tempat berbagai jenis tumbuhan dan bunga-bunga bermekaran. Sungai, danau, dan kolam, tempat berbagai jenis ikan hidup memperkaya keanekaragaman hayati di tatar Parahiyangan.

Latar tempat yang mempengaruhi pandangan hidup. Termasuk cara menyikapi sebuah persoalan. Serumit apa pun masalahnya, dihadapi dengan sikap siger tengah. Senantiasa berupaya menyelesaikan banyak perkara dengan mengedepankan kejernihan hati dan pikiran. Bagaimana supaya caina herang, laukna beunang. Tindakan yang sejalan dengan slogan kritis tapi etis.

Kemudian, setelah SK Priangan bermetamorfosa menjadi Harian Umum Kabar Priangan, slogan kritis tapi etis pun turut berganti menjadi terbaik dan berpengaruh. Perubahan slogan itu menjadi pertanda langkah optimistis.

Sikap kritis tapi etis, bisa menjadi pondasi untuk mengundang simpati. Kejernihan menyuguhkan informasi yang berimbang, dengan sendirinya akan mempertajam kualitas konten sehingga menjadi media yang berwibawa. Kritis tapi etis, bisa diibaratkan sebagai hambalan atau pijakan pertama. Kemudian berproses, nete taraje nincak hambalan. Saling menguatkan. Setelah khatam menggelorakan sikap kritis tapi etis, menjadi yang terbaik dan berpengaruh adalah sebuah konsekuensi yang masuk akal.

Tak ada bedanya dengan perkembangan SK Priangan, yang semula berbentuk tabloid kemudian beralih rupa menjadi broadsheet dan sekarang menjadi lebih ramping lagi. Semasa format tabloid, sejak edisi perdana 15 Mei 1999 sampai dengan 3 Mei 2000 terbit mingguan, setiap hari Sabtu. Sejak edisi 6 Mei 2000, terbit menjadi dua kali seminggu setiap hari Rabu dan Sabtu. Kemudian terbit semakin rapat menjadi tiga kali seminggu, setiap Senin, Rabu, dan Sabtu. Rupanya langkah itu disambut baik para pembaca. Akhirnya, dengan penuh percaya diri terbit setiap hari.

Perubahan – slogan, format, dan nama – menjadi bagian dari perjalanan eksistensial Harian Umum Kabar Priangan dalam satu rangkaian yang tak bisa dipisahkan. Tesis, antitesis, sintesis. Dimaknai sebagai proses yang saling menguatkan ke arah yang lebih baik. Itulah anugrah dinamika yang patut disyukuri.

Kritis tapi etis, bisa diandaikan pohon yang mengakar di tanah Parahyangan yang subur, kemudian menyerap saripati budaya masyarakatnya. Lantas menghasilkan buah yang segar, hasil karya terbaik dan sangat berpengaruh.

Kritis tapi etis, proses penghayatan batin di dalam diri, sedangkan terbaik dan berpengaruh, pancaran aura. Kritis tapi etis adalah sebab, sedangkan terbaik dan berpengaruh adalah akibat.***


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jurnalisme

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: