Connect with us

Metrum

Ekowisata di Tepi Samudra

image

INI hanya sebuah potret. Mengambil objek sekadarnya. Sama sekali tidak menggunakan teknik serius. Hanya asal jepret saja.

Jangan tanya tentang kualitas. Namanya juga iseng. Walau begitu bisa saja terkena hukum “iseng-iseng berhadiah”. Bisa saja terjadi.

Anggap saja hiburan. Melepas kebuntuan sejenak. Maklum, zaman sekarang sedang serba sulit. Di segala sektor dililit masalah yang tak kunjung selesai.

Ekonomi sedang jumpalitan. Budaya sedang digempur nilai-nilai baru. Politik, katanya sedang dilanda kegaduhan. Lagu Bujangan “Koes Ploes” sekarang sulit menemukan cara menghibur orang-orang yang sedang kembang-kempis. Larik ‘hati senang, walau tak punya uang‘ tak lebih hanya sebuah mitos. Hati tetap saja berdebar-debar.

Banyak motivator yang bicara dan langsung menyihir. Semangat langsung bangkit. Tetapi kerapkali ungkapan yang menggerakkan itu berlaku sesaat. Lantaran disuguhi fakta yang banyak meninggalkan residu. Sulit untuk mengawali langkah.

Kondisi itu pernah dialami Saptoyo. Aktivis lingkungan yang kini memakmurkan kawasan Pantai Clungup Malang itu, pernah mengalami masa kelam. Hutan mangrove dan terumbu karang di kampung kelahirannya hancur. Sampai tahun 2005 Saptoyo kehilangan keindahan kampung tempat dirinya dilahirkan.

Pantai diranjah. Hutan mangrove dibabat orang. Terumbu karang hancur lantaran terusik para pencari ikan yang gegabah.

Sapto — sapaan akrabnya — merasa terpanggil untuk memulihkan kembali kawasan pantai itu. Bersama warga dia berjuang. Semula banyak yang bergabung, sedikitnya ada 78 orang yang ikut ketika itu. Tetapi perlahan berguguran. Karena berbeda haluan. Sapto bergeming. Dia terus bergerak.

Pernah dituding gila. Bahkan penganut aliran sesat. Setiap malam dia mencari benih ke lorong-lorong pengap. Disangkanya sedang bertirakat dan memuja. Namun Sapto tetap bertahan.

Sekarang, Sapto menjadi orang penting di pantai itu. Ekowisata di tepi Samudera Indonesia, Pantai Clungup berada di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur semakin bersinar.

Bhakti Alam Sendang Biru yang dikelolanya kini melenggang membanggakan. Perbincangan bersama putrinya, Lia Putrinda di puncak bukit Jogjogan, Parigi Pangandaran menuai inspirasi.

Catat, kata Putri. Kawasan konservasi Pantai Clungup bukan tempat wisata biasa, tetapi ekowisata. Tempat untuk refleksi dan merawat alam dengan penuh kecintaan.***

Lanjutkan
Komentari

Tinggalkan Balasan

Metrum

  • DIARY

    Soempah Pemoeda Milenial

    Diskusi terfokus ikhwal relevansi Soempah Pemoeda era milenial, digelar di Redaksi H.U. Kabar Priangan, Senin (29/10/2018)....

  • DIARY

    Menyambungkan Rasa

    Menyambungkan rasa itu penting. Butuh totalitas. Apalagi saat kita bergerak di dunia yang harus dihayati dan...

  • DIARY

    Gerakan Membaca Koran

    Serikat Perusahaan Pers (SPS) Jawa Barat langsung ancang-ancang menggelorakan kampanye gerakan membaca koran seusai menggelar Musyawarah...

  • Metrum

    Deja Vu Tasikmalaya

    Beberapa hari seusai Kota Tasikmalaya merayakan sweet seventeen, saya berkunjung ke Singaparna, ibu kota Kabupaten Tasikmalaya....

  • Metrum

    I will be missing You #TerimakasihPath

    KECERIAAN Friendster dan kehangatan Multiply telah berlalu. Layanan mikroblog dan blog dalam jaringan itu sudah bubar...

  • Lorong

    Pulitik Daun Hanjuang

    NGARANNA ogé hajat. Satutas lekasan mah layar-layar diturunkeun. Keun urang teundeun di handeuleum sieum, tunda di...

Terhangat

Ke Atas