Connect with us

Ekbis

Harga RSH Minta Ditinjau Ulang


TASIK, Priangan – Pemerintah diharapkan untuk segera meninjau ulang harga Rumah Sederhana Sehat (RSH) bersubsidi. Pasalnya harga Rumah Sehat Sederhana atau rumah subsidi pemerintah sebesar Rp 55.000.000 yang berlaku saat ini dinilai sudah tidak sebanding dengan harga material atau alat-alat bangunan saat ini yang terus mengalami lonjakan harga.

Belum lagi harga pembebasan tanah yang setiap waktu mengalami kenaikan. Pernyataan tersebut disampaikan sekretaris Realestet Indonesia (REI) Cab. Priangan Timur Oting Rustandi

Dikatakan Oting, dengan kondisi tersebut sudah sepantasnya pemerintah melakukan penyesuaian harga rumah sehat sederhana bersubsidi sebesar 15 hingga 20 persen dari harga sekarang. Bila tidak disesuaikan, pengembang tentunya sangat kesulitan untuk membangaun RSS dengan kualitas baik, ” ujarnya.

Permasalahan lain kata Oting, pengajuan penyusaaian haraga RSH kepada pemerintah prosesnya cukup lama bahkan bisa memakan waktu hinga 2 (dua) tahun.

“Nah selama kurun waktu tersebut biasanya komponen bangunan bisa mengalami kenaikan. jadi kadang sudah tidak sesuai lagi walaupun pemerintah sudah menaikan harga jual. Itu sebabnya kenapa pengembang di kota-kota besar biasanya tidak terlalu tertarik main di RSH” kata Oting.

Adapun lanjut Oting, potensi penyerapan rumah sehat sederhana di daerah seperti di kota-kota kabupaten pasarnya masih cukup bagus ketimbang rumah komersil.

Dengan harga jual yang cukup terjangkau, tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal khusussnya untuk masyarakat menengah ke bawah.

“Peminatnya kebanyakan keluarga muda baik dari kalangan pegawai negri maupun suwasta. namun mayoritas mereka adalah PNS yang baru lulus,” katanya.

Di wilayah Priangan Timur sendiri kata Oting, dari sekitar 15 pengembang yang ada selama tahun 2009 kemarin telah berhasil membangun Rumah Sederhana Sehat subsidi pemerintah kurang lebih sekitar 800 unit atau sebesar 80 persen dari target sebanyak 1000 unit.

“Kenapa tak bisa mencapai target yaitu tadi, kendalanya sangat beragam mulai dari mahalnya harga komponen bangunan, mahalnya harga pembebasan tanah termasuk naiknya biaya pengurusan perijinan, pemasangan listrik dan pemasangan saluran air (PDAM),” ujar Oting. E-13***

dolarPEMERINTAH diharapkan untuk segera meninjau ulang harga Rumah Sederhana Sehat (RSH) bersubsidi. Pasalnya harga Rumah Sehat Sederhana atau rumah subsidi pemerintah sebesar Rp 55.000.000 yang berlaku saat ini dinilai sudah tidak sebanding dengan harga material atau alat-alat bangunan saat ini yang terus mengalami lonjakan harga. 

 

Belum lagi harga pembebasan tanah yang setiap waktu mengalami kenaikan. Pernyataan tersebut disampaikan sekretaris Realestet Indonesia (REI) Cab. Priangan Timur Oting Rustandi.

 

Dikatakan Oting, dengan kondisi tersebut sudah sepantasnya pemerintah melakukan penyesuaian harga rumah sehat sederhana bersubsidi sebesar 15 hingga 20 persen dari harga sekarang.

 

“Bila tidak disesuaikan, pengembang tentunya sangat kesulitan untuk membangaun RSS dengan kualitas baik, ” ujarnya. Permasalahan lain kata Oting, pengajuan penyusaaian haraga RSH kepada pemerintah prosesnya cukup lama bahkan bisa memakan waktu hinga 2 (dua) tahun.

 

“Nah selama kurun waktu tersebut biasanya komponen bangunan bisa mengalami kenaikan. jadi kadang sudah tidak sesuai lagi walaupun pemerintah sudah menaikan harga jual. Itu sebabnya kenapa pengembang di kota-kota besar biasanya tidak terlalu tertarik main di RSH” kata Oting.Adapun lanjut Oting, potensi penyerapan rumah sehat sederhana di daerah seperti di kota-kota kabupaten pasarnya masih cukup bagus ketimbang rumah komersil. Dengan harga jual yang cukup terjangkau, tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal khusussnya untuk masyarakat menengah ke bawah.

 

“Peminatnya kebanyakan keluarga muda baik dari kalangan pegawai negri maupun suwasta. namun mayoritas mereka adalah PNS yang baru lulus,” katanya.Di wilayah Priangan Timur sendiri kata Oting, dari sekitar 15 pengembang yang ada selama tahun 2009 kemarin telah berhasil membangun Rumah Sederhana Sehat subsidi pemerintah kurang lebih sekitar 800 unit atau sebesar 80 persen dari target sebanyak 1000 unit.

 

“Kenapa tak bisa mencapai target yaitu tadi, kendalanya sangat beragam mulai dari mahalnya harga komponen bangunan, mahalnya harga pembebasan tanah termasuk naiknya biaya pengurusan perijinan, pemasangan listrik dan pemasangan saluran air (PDAM),” ujar Oting. 

 

 

 

ill. bibomedia.com


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekbis

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: