Connect with us

Metrum

Hijrah Kala

PERAYAAN tahun baru dari masa ke masa selalu disambut dengan hangat. Fakta itu tak bisa dibantah. Menembus ruang dengan latar kultur beragam. Lantaran peristiwa perayaan itu selalu berulang dan massal, kemudian menjadi intim dengan masyarakat.

Tahun baru Masehi yang kini menjadi kalender populer, membuktikan akulturasi budaya telah terjadi tanpa disadari. Diam-diam tapi secara perlahan menghujam dengan kuat. Lalu secara perlahan pula diakui. Bahkan pada akhirnya masyarakat merasa memiliki dan rela menghayatinya.

Tanpa canggung lagi, larut dalam pusaran. Setiap peristiwa yang dilakoni secara massal dan senantiasa terulang tertanam ke dalam alam bawah sadar. Semula tidak biasa, kemudian menjadi lumrah. Jadi konvensi. Permufakatan atau kesepakatan umum yang melahirkan adat atau tradisi. Dianggap sudah sewajarnya.

Tapi konvensi tak selamanya kokoh. Sejarah pemikiran manusia terus bergerak. Pada momentum tertentu konvensi yang sudah dianggap hukum itu bisa goyah. Pembaruan muncul menggantikan pandangan lama yang dihayati masyarakat dalam kurun waktu tertentu.

Pembaruan atau inovasi tak bisa lepas dari konvensi. Ketegangan antara keduanya selalu ada. Perbedaan pandangan sudah jadi perkara lama. Pergaulan budaya yang sehat malah acapkali diwarnai polemik. Pro dan kontra. Tanpa harus memicu konflik dan kebencian berkepanjangan.

Perbedaan adalah hikmah yang akan mengurai segala persoalan penuh makna. Bak benih yang ditebar di lahan subur, kemudian berbuah kebijaksanaan. Menuai hikmah pada waktunya. Pertanda hidup terus berlanjut. Semua bergaul, termasuk pemikiran dan pandangan hidup.

Perayaan tahun baru tidak luput dari pandangan hidup yang melatarbelakanginya. Kultur dan agama. Tahun baru Islam 1 Muharam juga fenomenal. Santri-santri turun ke jalan, bergembira menyambut Hijriyah. Tahun baru Cina pun menebar harapan selamat dan sejahtera. Gong Xi Fa Chai.

Apa pun latar belakangnya, menyambut pergantian tahun bukan semata-mata merayakan tahun baru, tetapi ada yang lebih penting. Menyadari ada penanda waktu. Tan hana nguni tan hana mangke. Tak ada masa kini tanpa masa lalu. Bertafakur dan bersyukur. Refleksi dan aksi.

Lanjutkan
Komentari

Tinggalkan Balasan

Metrum

  • Metrum

    Puisi di Ruang Publik

    Bayangkan, hidup kita tanpa kesenian. Tanpa musik, nyanyian, dan tarian. Bayangkan, jika hidup tanpa tontonan, tanpa...

  • DIARY

    Soempah Pemoeda Milenial

    Diskusi terfokus ikhwal relevansi Soempah Pemoeda era milenial, digelar di Redaksi H.U. Kabar Priangan, Senin (29/10/2018)....

  • DIARY

    Menyambungkan Rasa

    Menyambungkan rasa itu penting. Butuh totalitas. Apalagi saat kita bergerak di dunia yang harus dihayati dan...

  • DIARY

    Gerakan Membaca Koran

    Serikat Perusahaan Pers (SPS) Jawa Barat langsung ancang-ancang menggelorakan kampanye gerakan membaca koran seusai menggelar Musyawarah...

  • Metrum

    Deja Vu Tasikmalaya

    Beberapa hari seusai Kota Tasikmalaya merayakan sweet seventeen, saya berkunjung ke Singaparna, ibu kota Kabupaten Tasikmalaya....

  • Metrum

    I will be missing You #TerimakasihPath

    KECERIAAN Friendster dan kehangatan Multiply telah berlalu. Layanan mikroblog dan blog dalam jaringan itu sudah bubar...

Ke Atas