Connect with us

Metrum

Ibu Kota Singaparna

GELIAT ekonomi di Singaparna, masih anteng-anteng saja. Sejak lama toko di sepanjang jalur utama masih dikelola langsung pengusaha pribumi. Belum tampak ada sentuhan mencolok warga keturunan. Tidak aneh bila sempat mengemuka, Singaparna — termasuk Mangunreja — ditandai sebagai kawasan anti-Tionghoa. Paling tidak, selama satu dasa warsa, kesan itu masih kuat.

Namun, sekarang mulai terasa tanda-tanda untuk kompromi. Terungkap saat dialog publik memandang Singaparna ke depan di Pondok Pesantren Darul Hikmah, tempo lalu.

Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Cipasung, KH. Abdul Chobir menenggarai kehadiran warga keturunan di daerah Singaparna, pada saatnya, tidak bisa dibendung lagi. Apalagi, jika warga pribumi tidak bisa mengambil peran dalam proses percepatan pertumbuhan perekonomian.

Status Ibu Kota Kabupaten Tasikmalaya yang kini disandang Singaparna, kian membuka ruang warga keturunan untuk ambil bagian. Tidak bisa ditawar lagi. Warga Singaparna harus rela berbagi peran.

Seperti halnya perpaduan budaya antara etnis Sunda dan Tionghoa selama ini. Sekian lamanya bergairah dalam akulturasi budaya. Bahkan dengan Agama Islam pun kultur Cina bisa berdamai.

Bukankah sosok Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah) melenggang saja saat menikahi Putri Ong Tin Nio? Simbol keharmonisan yang bisa jadi rujukan masyarakat Singaparna. Keterbukaan.

Tentu harus ada komitmen, agar tidak saling melanggar prinsip yang dianut masing-masing pihak. Umpamanya saja mempertegas batas, sektor ekonomi adalah wilayah muamalah, hubungan antar sesama. Wilayah yang bisa dikompromikan dengan leluasa. Sedangkan, bila menyangkut pandangan hidup, jangan ada celah.

Ekonomi adalah bagian dari kebudayaan — cara untuk menuai nafkah — yang selalu berkembang, berinteraksi dan saling memperngaruhi. Saat seni Barongsai tampil di Kota Tasikmalaya, sudah menunjukkan akulturasi yang bergairah. Bukan lagi, semata soal kesenian melainkan relasi entitas Sunda dan Tionghoa.

Kesenian, seperti halnya perekonomian. Keduanya bagian dari unsur kebudayaan yang selalu berkembang dan berubah sejalan dengan tingkah jaman.***

Diskusi di Facebook
Continue Reading
Baca juga...

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

The NextDev Talent Scouting dan The NextDev Academy 2020 Arena Inovasi Digital pada Masa Penuh Tantangan bit.ly/2JbZYG6

About 6 minutes ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via IFTTT

Advertisement
Advertisement WordPress.com
To Top