Connect with us

Jurnalisme Kasih Sayang

Jurnalisme

Jurnalisme Kasih Sayang

image

PUTRI-PUTRIKU tumbuh. Rasanya baru kemarin, mereka kuayun dan kuciumi. Si Sulung — Vangka — kini sudah jangkung, melebihi ibunya. Adiknya — Nilla — tahun ini duduk di bangku SMP. Mereka adalah hasil karya terbesar sepanjang hidupku. Darah daging yang melanjutkan estafeta kehidupan.

Seringkali kecemasan membayangi di setiap belokan jalan. Cemas, lantaran takut kehilangan peran sebagai orangtua yang bertanggung jawab. Orangtua yang betul-betul menjadi tambatan. Mendidik dan menghidupi. Cemas, lantaran tidak sedikit remaja-remaja seusianya salah jalan.

Saat tersiar kabar seorang remaja perempuan — pelajar SMP — jadi mucikari, wajah kedua putriku langsung berkelebat. Jantungku sedikit berguncang. Kasus itu bisa menimpa siapa saja, bukan? Di mana saja dan kapan saja. Di kota santri sekalipun. Seks dan sadisme tak pernah kompromi. Naluri dasar itu setiap saat bisa tidak terbendung. Sangat buas.

Perlahan, kecemasan itu mengendur. Diam-diam menjadi syukur. Kecemasan dimengerti sebagai pertanda manusiawi. Itulah cinta tersamar di kedalaman bawah sadar yang menampar mukaku.

Belajar menghayati berbagai peristiwa yang dialami orang di sekitar. Di sini dan di sana. Itulah jurnalisme.

Posted from WordPress for Android

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement WordPress.com
To Top