Connect with us

Metrum

"Kambing Hitam" dalam Lukisan

image

SEBANYAK 18 lukisan Acep Zamzam Noor dipamerkan di Gedung Kesenian Tasikmalaya. Pameran yang bertajuk “Kambing Hitam” itu berlangsung sebulan penuh, 28 Pebruari sampai 28 Maret 2001.

Menurut pegiat Komunitas Budaya Tasikmalaya (KOBUTA), Enung Sudrajat, pameran ini digelar sebagai sarana untuk berkomunikasi antara seniman dengan masyarakat. Dengan berkesenian, ada permenungan.

“Indahnya kalau kita dapat bersatu dalam komunitas budaya,” katanya. Dalam budaya, menurut Enung, ekspresi yang meledak-ledak bisa mencair dan menjadi sesuatu yang halus. Beda halnya dengan politik, yang halus bisa meledak dan menjadi buas kapan saja.

“Kambing Hitam” dipilih Acep Zamzam Noor sebagai tema sentral dalam pameran itu. Label ini diambil dari salah satu lukisannya: “Orasi Kambing Hitam”. Lukisan yang berukuran 120 x 100 cm dengan media cat akrilikik ini dianggap mewakili kondisi sekarang. Bukan saja situasi lokal; tapi juga Indonesia.

“Sebenarnya lukisan-lukisan ini merespon situasi yang berlangsung di Indonesia. Meskipun tidak secara langsung; tidak secara vulgar,” kata Acep. “Kendatipun wujudnya sekedar ungkapan kesaksian,” lanjutnya lagi.

Seperti yang tampak dalam lukisan “Kenapa Aku Bijak”. Menurut kesaksian Acep dalam lukisan itu, setiap orang saat ini, semuanya merasa menjadi orang yang bijak. “Padahal ngawur semua,” tuturnya kepada PRIANGAN.

Ada dua kekuatan yang tampak dalam lukisan-lukisan Acep Zamzam Noor. Selain kesenimanannya dalam melukis, kekuatan kepenyairannya juga muncul. Penyatuan dua tenaga ini, menjadikan lukisannya memiliki “jiwa tampak” yang khas Acep Zamzam Noor. Tanda-tanda ini dapat ditangkap dari lukisan-lukisannya.

Ada wacana yang digumamkan Acep di sana. Dalam lukisannya juga memuat anasir sastra. Lukisan yang berinisial “Bendera” menuliskan serangkaian kalimat dengan tipografi puisi: /pemimpin bagi mimpi buruk; komandan bagi dukacita; imam bagi keputusasaan; panglima bagi pasukan yang kebingungan/.

“Ketika mendekati sebuah karya seni apapun, selalu dengan pendekatan ingin mengerti,” jelas Acep. Menurutnya, setiap karya seni sudah pasti bisa dinikmati.

Namun ketika melangkah pada pemahaman, barulah muncul masalah.
Tidak dipungkiri, jika sebuah lukisan ditampilkan dalam bentuk abstrak, sulit untuk diapresiasi oleh umumnya masyarakat. Kondisi seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi.

“Harus ada maksud baik dari kedua belah pihak,” kata penyair antologi ‘Tamparlah Mukaku’ ini. “Umpamanya si seniman mengadakan pameran. Itu salah satu upaya maksud baik, bukan?”. Dia sudah membuka diri, karyanya untuk dinikmati oleh masyarakat.

Di kota-kota besar, seperti Jakarta, Jogja, dan Bandung, apresiasi terhadap seni rupa lebih hidup ketimbang di daerah. Sebab infrastrukturnya sudah mulai jalan. “Yang mau beli lukisan sudah banyak. Beda halnya dengan di sini.” Di daerah, menurut Acep, mana sempat memikirkan seni.

“Masyarakat masih berkutat memikirkan nasi. Seni itu dianggapnya hanya hiburan saja. Dan hiburan itu dipersempit lagi: yang hanya bisa tertawa.” katanya.

Di sela pameran tampil juga Majelis Dangdut Tasikmalaya (MADAT) menampilkan pedangdut-pedangdut muda. Sebelumnya, Acong dari Teater Ambang Wuruk dan Penyair Saeful Badar menyuguhkan pembacaan puisi.

Posted from WordPress for Android

Diskusi di Facebook
Continue Reading
Komentar

Tinggalkan Balasan

Advertisement WordPress.com
To Top