Connect with us

Komunitas

Konsolidasi Gerakan Kecil

Pernah mengalami. Berbeda cerita dengan cuma katanya. Pengalaman mestinya menjadi bahan baku pantulan jiwa. Refleksi. Dibatinkan menjadi pelajaran yang didasari sumber langsung dari lahan subur. Merangkai cerita yang mengalir. Dinikmati sebagai hiburan dan dihayati menjadi ajaran.

Layaknya sebuah karya seni. Pengalaman juga memiliki dua sisi. Docere dan delectare. Selain bisa menghibur juga menjadi bahan baku perenungan diri. Kenangan indah atau buruk. Perjalanan yang mematangkan kedirian. Paling tidak orang bisa meriwayatkan dirinya sendiri dalam sejarah.

Behubungan dengan beragam karakter. Ada seniman, aktivis, politisi, birokrat, pengusaha, pekerja pemerintah atau swasta, dan berbagai sosok lain. Tentu selama bergaul tidak semua baik-baik saja. Lantaran dasarnya, setiap orang memiliki ego. Masing-masing membutuhkan pengakuan.

Pada titik ini sebenarnya proses memaknai hidup sedang berlangsung. Saling memartabatkan manusia. Egosistem menjadi ekosistem. Benturan personal sulit dihindari. Dinamika. Namun lambat laun memperkuat kepribadian kolektif. Kompromi antara nilai subjektif dan objektif. Ada irisan.

Letupan emosi. Ketersinggungan. Misalnya dalam bentuk dominasi senioritas. Kecenderungan menguasai. Mengambil alih peran orang. Syahwat ditokohkan. Lumrah terjadi. Seiring waktu akan menemukan bingkai yang tepat. Selama menjaga kesadaran kolektif membangun organisasi yang sehat.

Kesepakatan bersama yang tumbuh secara organisasi, lambat tapi pasti. Pengakuan berdasarkan konvensi itu akan menjadi pondasi komunitas. Bersama-sama demi mencapai tujuan. Together is one. Saling percaya. Sisi ini gampang-gampang sulit. Membangun kepercayaan. Mesti dikonsolidasi.

Konsep harus dikonsolidasikan. Konten harus dikonsolidasikan. Konsep dan konten ini akan menjadi haluan. Selama memiliki konsep dan konten, komunitas tak akan kehilangan peran. Selama itu pula peran bakal terdistribusi menjadi pemberdayaan. Arahnya bisnis. Model bisnis komunitas.

Orang-orang yang memegang teguh cita-cita gagasan, biasanya akan bertahan. Sekalipun dukungan ekosistem acap kali tersendat. Kesetiaan akan menguatkan tujuan. Ketulusan akan berbuah rumusan. Patokan langkah yang tegas. Bermental baja. Tidak mudah terbawa arus kepentingan sesaat.

Kawah candradimuka tidak melulu mesti besar. Cukup dalam himpunan kecil. Bahkan, komunikasi yang berkualitas bisa dimulai dari dua-tiga orang. Selanjutnya saling menularkan. Cukup efektif. Bukan untuk menciptakan pengikut. Namun diharapkan mencetak sosok tangguh dan berpengaruh.

Cukup. Gerakan berkecukupan. Tidak usah berlebihan. Literasi mulai dari diri sendiri. Menyentuh kesadaran. Simpati saja belum cukup. Keikutsertaan rasa larut dalam kondisi yang bisa mengidentifikasi dirinya menjadi bagian dari sekelompok orang yang lebih luas. Merasa. Berempati.

Diskusi di Facebook
Continue Reading
Baca juga...

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RT @kapoltv Kapan Saja Kekerasan Bisa Terjadi di Mana Saja ift.tt/3AjmcLv

About 4 days ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Twitter for Android

Advertisement
Advertisement WordPress.com
To Top