Connect with us

Kliping

Maman Mares Mengaku Diteror

TASIK, PriLM – Direktur PT Mares Jaya Utama, H Maman Abdulrochman terpidana kasus mark up pembangunan gedung dewan mengaku belakangan ini banyak yang meneror menyusul ungkapannya di Priangan yang dimuat beberapa hari ini.

Teror tersebut Ia terima melalui SMS juga telepon sehingga nomor HP-nya untuk sementara waktu tidak diaktifkan karena takut dengan ancaman-ancaman yang disampaikan si peneror.
“Memang banyak yang neror makanya Hp saya untuk sementara dimatikan, kalau ada keperluan ya menggunakan nomor lain atau pinjam,” ujarnya.

Teror tersebut muncul setelah dirinya menyatakan kesiapannya untuk membongkar kasus pembangunan gedung dewan yang hingga kini bermasalah.

Sebelumnya H Maman mengaku adanya aliran dana sebesar Rp 1,2 milyar yang diserahkan kepada anggota DPRD sebagai uang pelicin. Selain itu Ia juga mengaku surat perjanjian kontrak kerja juga telah dipalsukan oleh pihak Pemkot Tasikmalaya yang juga siap untuk membuka kembai kasus tersebut karena jelas dirinya meras didzalimi.

Di tempat terpisah, mantan anggota DPRD Kota Tasikmalaya, Ade Ruhimat yang mengetahui proses rehab gedung DPRD Kota Tasikmalaya mendesak agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera turun ke Kota Tasikmalaya.

Langkah perlu untuk menuntaskan adanya dugaan aliran dana ke anggota dewan sehingga kasus dugaan mark up pembangunan gedung dewan bisa tuntas dan tidak menggantung seperti sekarang ini.

“Seharusnya KPK secepatnya turun ke Kota Tasikmalaya untuk menuntaskan kasus gedung dewan agar tidak menggantung seperti sekarang ini,” ungkapnya Selasa (22/12) kemarin. Ade pun mengatakan pada proses rehab gedung dewan banyak kejanggalan dan dirinya salah satu anggota dewan yang menentangnya.
Dijelaskan Ade, pada tahap awal anggaran untuk rehab gedung dewan sebesar Rp 4 miliar. Namun di tengah perjalanan ditambah menjadi Rp 8 miliar.

“Waktu itu saya menantang keras terhadap adanya perubahan tersebut karena jelas irasional. Mengapa irasional pembangunan itu hanya rehab yang paling kentara anggaran untuk instalasi listrik ditetapkan sebesar Rp 400 juta. Padahal dengan anggaran 10 juta juga sudah bisa terpasang, jelas itu sangat irasional,” ungkapnya.

Diskusi di Facebook
Continue Reading
Advertisement
Terkait
Terimakasih telah berkunjung

Tinggalkan Balasan

To Top