Connect with us

Metrum

Marwah Galunggung


tamasya

DI Galunggung, nuju nongkrong sareng rerencangan ameng.

TIGAPULUH desa di kaki gunung Galunggung luluh lantak. Subuh pukul 05.00 WIB, Tasikmalaya bergetar 5 April 1982 silam. Waktu itu terakhir kali Gunung Galunggung meletus. Cendawan hitam berkelun hingga mencapai ketinggian 10 kilometer. Berbulan-bulan gunung termasyhur itu berstatus bahaya. Baru dinyatakan aman, setelah sepuluh bulan berlalu, tepatnya tanggal 8 Januari 1983.

Peristiwa bisa menjadi sebuah ayat. Kemasyhuran Galunggung tidak semata karena gunung itu menjadi destinasi wisata. Tetapi dalam sebuah teks kuno, Galunggung disebut-sebut sebagai sumber ajaran hidup. Mengajarkan pandangan hidup yang tetap aktual.

Amanat Galunggung atau disebut Naskah Ciburuy atau Kropak No.632 merekam pesan Prabu Guru Darmasiksa tentang kehidupan secara lengkap. Bila pesan-pesan Darmasiksa dilaksanakan akan berbuah ketentraman.

Tokoh masyarakat (Rama) bertanggungjawab memakmurkan kehidupan. Kaum intelektual (Resi) akan menyejahterakan. Sedangkan kalangan birokrat (Prabu) akan menjalani pemerintahan menuju good government dan good governance. Politisi tidak akan berebut kedudukan. Pengusaha tidak pula berebut penghasilan.

Rama, Resi, dan Prabu adalah penentu di dunia. Dalam naskah itu disebut dengan Tri Tangtu Di Buana. Bila ketiganya berfungsi dengan baik, kehidupan akan sejahtera. Tugas pokok dan fungsi setiap warga dalam negara bukan perkara baru. Soal itu sudah dipahami dengan baik sejak lama.

Peristiwa letusan Galunggung bukan untuk dirayakan, tetapi untuk direnungkan. Berwisata ke gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut itu bisa menuai makna spiritual mendalam. Sambil mandi air panas, menuai makna bernas. ***


Continue Reading
Advertisement
1 Comment

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Metrum

  • Metrum

    Pesan Fabel

    Sejak dini dikenalkan pada imajinasi. Fiksi lama yang tersebar luas secara lisan. Hewan berperilaku seperti manusia....

  • Metrum

    Persimpangan Jalan Media

    Menjelang Hari Pers Nasional Ada dua pandangan saling menghampiri. Karena semakin dekat, keduanya bisa saling mempengaruhi....

  • Metrum

    Puisi di Ruang Publik

    Bayangkan, hidup kita tanpa kesenian. Tanpa musik, nyanyian, dan tarian. Bayangkan, jika hidup tanpa tontonan, tanpa...

  • DIARY

    Soempah Pemoeda Milenial

    Diskusi terfokus ikhwal relevansi Soempah Pemoeda era milenial, digelar di Redaksi H.U. Kabar Priangan, Senin (29/10/2018)....

  • DIARY

    Menyambungkan Rasa

    Menyambungkan rasa itu penting. Butuh totalitas. Apalagi saat kita bergerak di dunia yang harus dihayati dan...

Advertisement WordPress.com

Disadari atau tidak, majas melekat dengan keseharian. Saat ngobrol di kedai kopi, lahir perbandingan untuk menjelaskan gagasan. Kiasan mengalir, mempertegas efek. Menghidupkan imajinasi.… instagram.com/p/Bt8eGDDBe9l/…

Yesterday from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Instagram

To Top