Connect with us

Buku

Memotret Peristiwa dengan Puisi


TIBA-TIBA  nama Anna Stepanovna Politkovskaya muncul dalam kumpulan puisi Mendaki Kantung Matamu (MKM) karya Bode Riswandi. Jurnalis lulusan Moskwa itu tentunya menyimpan kesan mendalam di mata penyair. Menarik.

BODE berpuisi.

BODE berpuisi.

Penyair yang tumbuh di kota kecil, Tasikmalaya, ternyata merambah ke mana-mana, melahirkan puisi impresif yang menerobos ruang geografis. Dari Tasik, penyair memandang Anna Politkovskaya, seorang wartawati Novaya Gazeta, sekaligus seorang aktivis yang giat menegosiasikan pembebasan para sandera di gedung teater Moskwa. Sosok Anna dihadirkan dalam puisi “Buat Anna Politkovskaya”.

 Salju yang runtuh dari rambut kelabumu
Semacam peluru makarov yang dilempar
Seseorang ke dada dan kepalamu.

Proses kreatif melahirkan puisi, selain menghayati kenyataan di sekitar, lingkungan paling dekat, pada saatnya akan keluar dari kungkungan ruang. Seperti yang dilakukan penyair Bode Riswandi. Ia memotret aktivis Rusia Anna, yang nasibnya mirip Munir.

Saat terjadi krisis penyanderaan di sebuah sekolah di Beslan pada 2004, Politkovskaya secara misterius mengalami keracunan setelah meminum teh dalam penerbangan menuju Beslan untuk membantu para negosiator. Politkovskaya ditemukan telah mati ditembak di apartemennya 7 Oktober 2006. Kisah tragis itu digambarkan dalam larik-larik: … Lantas / Orang-orang bernyanyi untukmu, tentang / Nasib serta takdir mereka yang bermukim / Di lobang senjata.

Memotret peristiwa galau di Chechnya, saat kematian mudah tumbuh bagaikan rumput. Saar berlapis-lapis ketakutan menjalar di dinding dan di kanal. Ada puisi yang punya peran melaporkan peristiwa. Tentu saja, peristiwa yang telah diendapkan kemudian disuguhkan ke khalayak dengan diksi atau pilihan kata imajinatif.

Kumpulan puisi MKM pun masih tetap ingin menunjukkan suasana lokal Tasikmalaya, meskipun ada latar tempat yang di beberapa puisi yang melompat ke kawasan Danga Bay, Chechnya, Moskwa, sungai Malacca, Vietnam Camp, Harbour Bay, Paris, dan Amerika.  Ada tiga puisi  bertajuk “Tasikmalaya”, termasuk beberapa kawasan regional Jawa Barat pun sempat menjadi perhatian penyair seperti Situ Gintung dan Pelabuhan Cirebon.

Lokalitas puisi Bode, tidak saja ditandai dengan penulisan latar tempat yang terang benderang, namun konten yang disuguhkan dalam beberapa puisi, bisa dilacak di manakah gerangan. Simak saja puisi “Membayangkan Pasar Lama”. Delapan bait di puisi itu, menghadirkan suasana Pasar Lama tempo dulu, sebelum bermunculan mal di jantung kota. Kejayaan para pedagang tradisional dan kehangatan orang-orang saat bertransaksi di sana. Bahkan, sekaligus jatuh cinta.

 Aku ingin memuaskan diri berjalan bersamamu sebelum magrib
Melewati jalanan becek di setiap tikungan jongko dan kaki lima
Menghitung benang keringat yang turun dari jidat sampai pelipis
Mata. Mendengar suara-suara riuh dari ujung ke ujung, menyapa
Bocah dengan kaos tanpa kerah, juga menerima doa dari seorang
Perempuan tua yang kakinya pecah-pecah…

Boleh jadi suasana itu, kini tak ditemukan lagi. Seperti yang diungkapkan di bait terakhir “Membayangkan Pasar Lama”. “…. Kita tak mungkin menikah lagi sayang, ketika senyum alamiah seorang / Bocah dengan kaos tanpa kerah, lalu doa perempuan renta yang kakinya / Pecah-pecah, juga urat betis abang becak yang menggunduk di satu arah / Sudah hangus terpanggang. Selain tubuh disiapkan jadi arang.

Dari puisi itu, kita bisa ikut membayangkan suasana pasar tradisional yang intim. Pertanda, penyair berhasil mengelola pilihan kata. Rancang bangun puisi yang digunakan masih sedikit dibayangi  gaya tulis penyair senior  – Acep Zamzam Noor — yang banyak membidani lahirnya penyair angkatan muda yang lahir di Tasikmalaya.

Dari 63 judul puisi dalam buku bersampul merah itu, tidak saja mengungkap soal cinta, impresi kampung halaman, politik, dan kritik sosial. Penyair juga membicarakan perkara Tuhan dan maut. Kesaksian penyair  tentang kecenderungan manusia yang merindukan sesuatu yang agung, saat maut akan menjemput.

 Antarkan Mayatku
Sampai Rumah Sepi, Kekasih

Kematian meninggalkan darah di kelopak matamu
Bunga-bunga waktunya kau tabur
Di batu nisan — di dadamu

Musim jadi guguran daun, bulan berkubur
dan matari seonggok cuaca yang diamiskan

Ini setubuh tanahku, setubuh batu-batu
Ada yang melambai di pohon
Ada yang menanti riang di akar

Antar mayatku sampai rumah sepi, Kekasih
Kubur tumbuh jadi akar kamar yang syahdu

Kehadiran kumpulan puisi MKM karya Bode Riswandi, sangat penting untuk menumbuhkan gairah penulisan puisi di Tasikmalaya. Tampaknya momentum yang tepat, bila buku ini disebarkan di sekolah, kemudian dibedah saat jam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Indihiang, 17 Pebruari 2010


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buku

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: