Connect with us

DIARY

Meneroka Lapis Puisi


KUMPULAN Puisi Ahmad Rosid, kelas XII IPA 1 SMAN 9 Tasikmalaya

Menukam yang Tadi Hidup

Aku sering diserbu pasukan pertanyaan
Dari seribu pasukan bayangan
Ihwal antrean yang akan kebagian
Tak tahu waktu
Namun semua antrean akan merasakan
Indahnya tubuh dalam kehampaan
Ringan dari ribuan ton pertikaian

Aku menukam yang tadi hidup
Matanya melotot mulutnya menganga
Entah tahu kenapa
Antrean tanpa tujuan
Triliunan orang mengantre berdesakkan
Membeli tiket masuk terasa berabad silam

Yang lain saling berteriak
Menyuruh cepat duluan
Tapi ada petugas yang menunjuk perorangan
Yang ia kehendaki dari Tuhan
Entah tahu kenapa

Selagi mengantre banyak orang yang saling sibuk
Dengan urusan yang tak memenuhi syarat masuk
Pertikaian, perselingkuhan, perjudian, hingga pembunuhan
Tiada yang halal untuk membeli tiket masuk itu
“Lantas apa yang bisa memenuhi semua itu, Tuan?” mereka heran

Syahadat, jawabnya singkat

 

ADA efek suara dalam puisi Menukam yang Tadi Hidup karya Ahmad Rosid. Pola suara yang bersifat khusus dan menimbulkan daya tarik. Pada larik pertama saja langsung ditunjukkan dengan pilihan kata pasukan pertanyaan. Ada aliterasi p selain asonansi a sekaligus. Lapis bunyi (sound stratum) salah satu pisau bedah paling dasar untuk memahami puisi. Efek puitis yang dilahirkan unsur bunyi bisa ditemukan dalam satu larik, antar larik, dan bait. Syahadat, jawabnya singkat. Melahirkan kesan mendalam. Singkat tapi padat.

Rangkaian bunyi bukan tanpa arah, tetapi mengacu pada lapis arti (unit of meaning) berupa rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya membangun kesatuan arti. Larik aku sering diserbu pasukan pertanyaan, melukiskan aku lirik yang gelisah. Kegamangan bertubi-tubi memaknai kehidupan. Kemudian berikhtiar untuk menemukan jawaban. Lantaran selama ini acapkali merasa dihantui bayangan sendiri.

Dari seribu pasukan bayangan
Ihwal antrean yang akan kebagian
Tak tahu waktu

Sang tokoh, aku lirik menjadi penanda ada lapis ketiga yang membangun sebuah cerita. Selain ada penokohan, lahir pula latar tempat dan waktu. Tiket sebagai syarat masuk bisa merujuk pada sebuah tempat. Di manakah? Triliunan orang mengantre berdesakkan / Membeli tiket masuk terasa berabad silam

Kendatipun tidak diungkap secara terang benderang, namun aku lirik sudah menggiring sudut pandang pembaca ke sebuah tujuan. Ada lapis dunia yang dipandang dari sisi tertentu yang tak perlu dinyatakan secara gamblang tetapi terkandung di dalamnya.

Aku menukam yang tadi hidup
Matanya melotot mulutnya menganga
Entah tahu kenapa
Antrean tanpa tujuan
Triliunan orang mengantre berdesakkan
Membeli tiket masuk terasa berabad silam

Kekuatan puisi tidak cuma sekadar bisa dinikmati sebagai hiburan, tetapi sekaligus menjadi ajaran. Lapis kelima adalah strata metafisis. Pembaca secara mengejutkan diajak berkontemplasi. Selagi mengantre banyak orang yang saling sibuk. Dengan urusan yang tak memenuhi syarat masuk. Pertikaian, perselingkuhan, perjudian, hingga pembunuhan. Tiada yang halal untuk membeli tiket masuk itu. “Lantas apa yang bisa memenuhi semua itu, Tuan?” mereka heran.

Syahadat, jawabnya singkat

 

Pengantar diskusi di SMAN 9 Tasikmalaya, 11 November 2017


Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DIARY

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: