Connect with us

Kliping

Menyimpan dan Mengolah Data

 

 

nuruhhasanah

Pengajian jurnalistik di Ponpes Nurul Hasanah, Cipasung

Kang, lagi ngapain? Malam mingguan bete nih. Ngomong-ngomong, Akang punya jurus nggak, supaya nulis semangat terus?

Lho, kenapa emang. Putus sama pacar, ya?

 

Aduh kok jadi bawa-bawa pacar sih…

Itu… barusan bilang, malam mingguan bete.

 

Nggak ada hubungannya Kang. Saya kan, nanya soal semangat menulis, gimana supaya nggak luntur. Akang punya jurus jitu, nggak? 


Oke deh kalo begitu. Ada jurus sederhana, yang bisa digunakan di mana pun dan kapan pun. Pertama, kalo ingin menjaga semangat menulis, harus rajin membaca. Karena membaca dan menulis, seperti saudara kandung. Malah lebih pas kalo dibilang saudara kembar. Sering membaca, bisa membuka cakrawala. Apalagi kalo membacanya dibarengi kesadaran, bukan karena disuruh atau dipaksa orang. Beda, antara membaca karena besoknya mau ulangan sejarah — misalnya — dengan membaca karena niat yang tulus. Membaca dalam kondisi di bawah tekanan, hasilnya paling cuma menyimpan data yang bisa lupa seketika. Tapi kalo membaca dengang tulus, tidak hanya sekadar menyimpan data tapi juga mengolahnya. Hasilnya bisa mengejutkan.

Menyimpan dan mengolah data? Maksudnya, Kang?Undecided

Menyimpan data, tidak jelek. Bagus juga tuh. Menyimpan data dalam otak boleh diartikan hapalan. Cuma, acapkali kita samasekali nggak mengerti intisari data yang kita hapal itu, bukan? Hapal belum tentu mengerti isinya. Beda hal dengan mengolah. Usai membaca data-data, tidak hanya disimpan di otak. Tapi juga diproses, dipilah, diidentifikasi. Dari rasa bahasanya juga berbeda banget, antara menyimpan dan mengolah. Seperti halnya kita menaruh uang didompet tanpa memanfaatkannya. Ditaruh seumur hidup pun, duit itu nggak bakalan membelah diri. Duit jadi banyak, gara-gara disimpan di dompet bertahun-tahun. Kalo di dunia dongeng sih bisa terjadi. Tapi jika uang itu kita perlakukan lain, pasti akan berbuah sesuatu. Coba aja, tengah hari kamu lapar, terus merogoh dompet. Jajan bakso. Lain ceritanya, jika uang itu terus disimpan. Kamu tidak berbuat apa-apa. Perut tetap keroncongan. Bisa-bisa kamu pingsan.

Kok jadi jajan bakso sih? Sampe pingsan segala lagi…
Iya lah, cuma nyimpan data aja sama artinya membiarkan data-data itu pingsan juga.

Bener juga sih. Jadi hapal saja nggak cukup, ya?
Selain menghapal, kita harus barengi dengan menghayati, mencermati, hingga mengerti betul saripatinya.

Itu jurus pertama. Terus jurus kedua, bagaimana?
Nanti aja deh, mau nonton Ipin dan Upin dulu. Nanti kita sambung lagi ngobrolnya.Cool

Diskusi di Facebook
Continue Reading
Baca juga...

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RT @kapoltv Kapan Saja Kekerasan Bisa Terjadi di Mana Saja ift.tt/3AjmcLv

About a month ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Twitter for Android

Advertisement
Advertisement WordPress.com
To Top