Connect with us

Jurnalisme

Menyongsong Media Baru


mang-ohle

Setengah Abad Pikiran Rakyat

SETENGAH abad Harian Umum Pikiran Rakyat, beriringan dengan peristiwa heroik Bandung Lautan Api. Berbeda tahun namun menyiratkan titik balik spirit yang sama. Peristiwa yang menggetarkan Bandung itu terjadi pada 23 Maret 1946. Sedangkan edisi perdana Pikiran Rakyat, terbit pada tanggal 24 Maret 1966.

Ketika itu masih berafiliasi dengan harian umum Angkatan Bersenjata. Dimotori Atang Ruswita dan Sakti Alamsyah dengan dukungan Pangdam Siliwangi, Ibrahim Adjie. Setahun kemudian, 24 Maret 1967 harian Angkatan Bersenjata edisi Jawa Barat melepas afiliasi dan berganti nama menjadi Pikiran Rakyat, kemudian populer dengan sebutan “PR”.

Mengelola media bukan pekerjaan enteng. Namun duet maut Atang Ruswita dan Sakti Alamsyah berhasil melalui masa sulit. “PR” melenggang menjadi media cetak ternama di Jawa Barat. Menyebar dan mengakar. Berhasil memikat hati para pembaca. Bahkan, sempat menembus wilayah Nusantara sampai menyentuh Kualalumpur dan Brunai Darussalam.

Era kejayaan “PR” yang tak terbantahkan itu masih menyimpan jejak sampai saat ini. Sejak melahirkan percetakan PT Granesia, koran milik warga Jawa Barat itu semakin mengukuhkan diri.

Sebut saja Mitra Bisnis (semula bernama Mitra Desa), tabloid berbahasa Sunda Galura dan surat kabar Mitra Dialog di Cirebon. Manajemen yang cerdas, jeli menangkap peluang. Pascareformasi era otonomi daerah, “PR” mengukuhkan langkah mengambil alih Harian Umum Galamedia yang ketika itu menjadi denyut utama di Kota Bandung. Lantas mengembangkan sayap.

Lahirlah Pakuan di Bogor, Kabar Priangan di Tasikmalaya, dan Fajar Banten di Serang. Tak cuma itu, Radio Pahyangan disulap menjadi PRFM yang kian berpengaruh menyaput frekwensi Bandung dan sekitarnya. Lengkap sudah bila televisi juga masuk ke dalam lingkaran pengelolaan grup “PR”. Konvergensi media sudah dalam genggaman.

Apalagi kecenderungan media digital sejak internet dikenal awal 1990-an semakin menggurita. Cara pandang masyarakat turut berubah. Perlahan tapi pasti, media cetak memasuki senjakala.

Interaksi media dengan masyarakat sekarang sudah berbeda. Jurnalisme partisipatif dalam jaringan harus diberi ruang. Pembaca, penyimak, pendengar, dan penonton kini bukan sekadar penikmat. Tetapi sekaligus bisa memproduksi konten melalui gawai dalam genggaman. Kehadiran media baru yang tidak bisa ditolak.

Pikiran Rakyat Online musti bisa menjawab tantangan itu. Potensi jejaring media lokal di bawah naungan “PR” bisa diberdayakan dengan optimal. Agregasi media-media lokal, salah satu langkah yang efektif. Mengumpulkan kekuatan lokal dalam satu kanal. Lahan itu sangat subur dan berbuah segar. Betapa indah, saat memetik buah segar yang tumbuh di kebun sendiri.

Dirgahayu Pikiran Rakyat.


Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jurnalisme

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: