Connect with us

Kliping

Neng Syarifah, Sinden Cantik Penguasa Gentong


Benarkah Tronton Terbalik Ulah Neng Syarifah?

TANJAKAN Gentong dikenal sebagai jalur tengkorak atau jalur maut. Menyeramkan memang. sesuai fakta, di jalur jalan yang berliku dengan tebing yang curam di pinggirnya tersebut hampir setiap hari terjadi kecelakaan, kebanyakan truk.

Nah, banyak orang yang percaya bahwa kecelakaan-kecelakaan tersebut bukan semata-mata karena kesalahan teknis pengemudi atau gangguan pada kendaraan yang bersangkutan, melainkan juga akibat ulah sinden beken nan cantik bernama Neng Syarifah.

Menurut cerita, Neng Syarifah merupakan sinden panggung. Sayang ia bernasib tragis. Si cantik yang banyak penggemar itu konon dibunuh dan dijadikan tumbal atau parepeh untuk pembangunan jembatan yang dikenal sebagai Jembatan Sarongge di Kp. Gentong, Ds. Buniasih, Kec. Kadipaten, Kab. Tasikmalaya sekitar tahun 1940-an.
Karena kematiannya tidak wajar itulah, arwah Neng Syarifah kini mengganggu para pengendara hingga menyebabkan terjadinya kecelakaan di jalur itu.

Tak jarang sinden nan jelita tersebut mengganggu pengendara dengan menampakkan wujud aslinya untuk meminta tumpangan. Dan kemudian ia minta berhenti di tempat gelap yang sunyi.
“Kendaraan yang ditumpangi Neng Syarifah pun akan terasa sangat berat,” kata Encon (60) Kepala Desa Buniasih, Kec. Kadipaten, Kab. Tasikmalaya.

Menurut Encon, hingga kini masih banyak warga yang mempercayai keberadaan Neng Syarifah sebagai penguasa jalur Gentong. Bahkan Encon mengaku dirinya kerap menerima laporan warga yang menyatakan melihat Neng Syarifah sedang berdiri atau berjalan di pinggir jalan. “Adapun ciri-cirinya, dia selalu disanggul, membawa tas hitam kecil dengan menggunakan baju kebaya dan selendang berwarna serba merah jambu serta ada renda berwarna kuning.” jelasnya.

Encon menambahkan, tak jarang warga pun melaporkan sering mendengar suara ramai tetabuhan musik sesaat setelah adanya kecelakaan di jalur Gentong. Suara tetabuhan itu muncul terutama jika kecelakaan itu menyebabkan kematian.

Dulu, lanjut Encon, beberapa pengemudi yang sudah mengenal bahayanya jalur Gentong, selalu melemparkan rokok atau ikan mas merah jika lewat ke Gentong. Hal tersebut dilakukan agar Neng Syarifah jadi bageur sehingga dia tak berulah.

Masih dikatakan Encon, untuk menghindari kecelakaan lebih banyak lagi sekitar tahun 1970-an warga sempat menggelar selamatan untuk mengantar arwah Neng Syarifah ke tempat yang layak. “Sejak itu memang kejadian kecelakaan menjadi berkurang,” jelasnya.

Berbeda dengan yang dikatakan Encon, Kapolsekta Kadipaten AKP. Syamsudaya mengatakan, kecelakaan di jalur Gentong terkait kondisi medan jalan yang rawan serta fasilitas penunjang kurang lengkap seperti  rambu-rambu, penerangan jalan umum (PJU), bibir jalan tinggi dan sebagainya. “Selain itu, kecelakaan juga diakibatkan banyaknya pengendara yang belum paham medan serta banyak kendaraan yang melebihi tonase, terutama angkutan barang,” jelasnya.

Ironis memang, lanjut AKP Syamsudaya, karena sebelum memasuki tanjakan Gentong kendaraan barang terlebih dahulu memasuki jembatan timbang. Namun fakta di lapangan sebagian besar kecelakaan akibat kendaraan melebihi tonase.

“Saya sering mendengar tentang Neng Syarifah dari masyarakat, namun itu merupakan cerita rakyat. Kecelakaan lalu lintas bukan disebabkan dia (Syarifah), namun akibat kondisi kendaraan, kondisi medan jalan dan kehati-hatian pengendara,” ungkapnya.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kliping

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: