Connect with us

Sosbud

Nyiar Lumar, Menyemai Cahaya Bulan


nyiar lumarSEHARI sebelum Soeharto lengser. Sabtu 20 Mei 1998 silam, di Situs Surawisesa Astana Gede Kawali, bulan menyemai cahaya.

Spiritnya terus bergelora hingga kini. Saat itulah “Nyiar Lumar” pertama kali digelar. Lahir dari gagasan seniman Ciamis, yang melibatkan sekelompok pelajar dari SMAN 1 Kawali di Teater Jagat.

Pertanda, regenerasi berkesenian terus terjaga. Karena di sana pun penyair Godi Suwarna melalui Kulawargi Galuh Budaya (KGB) terus mengawal dan menggelorakan bersama Paguyuban Seniman Budayawan (Paseban) Jagat Malaka, yang digawangi Kang Daday alias Abah Peteng.

Ketika itu, Godi Suwarna dan beberapa seniman Ciamis — di antaranya Dadang Q-Mos, Edi Rusyana Noer, dan Pandu Radea — tidak hanya asyik berdiskusi, tetapi menindaklanjuti dengan aksi. Lahirlah “Nyiar Lumar“. Perjalanan mencari jamur cahaya, yang menyiratkan pengembaraan batin demi mendekatkan diri dengan alam, merenungi akar-akar kehidupan, mencari jatining diri menuju masa depan.

Nyiar Lumar hadir sebagai terapi psikologis bagi orang-orang yang sekarang dililit kehidupan modern. Dunia yang hiruk pikuk serba elektrik dan digital, ditenggarai telah mengikis kearifan alam. Paling tidak, 5434kecenderungan serba instan harus dikembalikan kepada kesadaran untuk menghargai sebuah proses. Salah satu jalannya dengan menghayati alam sekitar, terapi psikologis yang dikandung “Nyiar Lumar“.

Ajang itu pun selanjutnya rutin digelar setiap dua tahun sekali. Meskipun sempat tersendat, taun 2006, karena persoalan klise. Seret dana. Namun, akhirnya persoalan itu bisa ditanggulangi, walaupun sempat mengganggu ritme penyelenggaraan dua tahunan.

Kini, Nyiar Lumar kembali digelar. Sabtu (7/6/2012), dengan menyuguhkan berbagai kesenian tradisi dan kontemporer, dari mulai tarian, teater, puisi, dan fiksimini.

Fiksimini, tampaknya akan menjadi agenda spesial. Setelah diapungkan di grup facebook oleh penyair Nazarudin Azhar, sambutannya sangat menggembirakan. Selain pembacaan puisi, pembacaan fiksi mini pun akan dihidangkan para fikminer dari berbagai penjuru kota.

Sayang jika dilewatkan, seperti yang diwanti-wanti Godi Suwarna yang baru saja melanglang ke Australia itu. “Puuun! Sing saha nu ngarasa urang Sunda, seuweu-siwi kami nu digjaya, mangka arinyana dianti ku kami dina tanggal 7 Juli-2012, dina acara NYIAR LUMAR, di situs Astanagede Kawali. Sing saha nu hayang tereh meunang jodo, nu hayang beres huntu tanpa behel, nu hayang lunas kiriditan motor, dianti ku kami dina waktuna. Sing saha nu teu bisa datang, kami teu tanggung jawab mun arinyana arateul saawak-awak! Puuuun! Sakitu wangsit ti Kami!” katanya dalam sebuah kiriman di dinding facebooknya.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosbud

  • Sosbud

    BBM Ampuh

    PENGARUH naiknya harga bakar minyak (BBM) ternyata ampuh. Mengatrol harga-harga komoditas lain. Tetapi tidak bila harga...

  • Sosbud

    Sekadar Hari Antikorupsi

    HARI Antikorupsi Dunia, Selasa (9/12/2014), jadi momentum refleksi semua pihak. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota...

  • Sosbud

    Media Sunda Lawas ti Tasikmalaya

    KABEUNGHARAN inteléktual urang Tasikmalaya, di antarana ngaréngkol dina ngokolakeun média. Lian ti koran Sipatahoenan anu gumelar...

  • Sosbud

    Bupati jeung Puisi

    GEDONG Kasenian Tasikmalaya (GKT) diadegkeun taun 1998 kalawan istiméwa. Minangka pangbagéa pamaréntah pikeun para seniman. Sanajan...

  • Sosbud

    Wan Orlet: Soal Becak

    WAWAN Rudiat atau lebih dikenal dengan Wan Orlet, hatinya tak sekeras dunianya. Sehari-hari bergelut dengan dunia...

  • Sosbud

    Tradisi "Enam" Penyair Tasikmalaya

    BERGELUT dengan kata, tidak lantas membuat seseorang dinobatkan menjadi pu­jangga. Setiap saat orang menggunakan bahasa untuk...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: