Connect with us

Kliping

Pasanggiri Batik Digelar di Asia Plaza


SIAPA  yang nyangka jika Tasikmalaya merupakan tempat lahirnya koperasi batik yang pertama di Indonesia. Pendiriannya pun bertepatan dengan lahirnya koperasi. Bahkan Mohamad Hatta, Wakil Presiden Pertama RI, menyempatkan diri datang ke Tasikmalaya menghadiri pendirian koperasi tersebut.

Sayang, ternyata masyarakat Kota Tasikmalaya banyak yang tidak mengetahui batik asli atau batik khas Tasikmalaya. Para pedagang banyak yang kelimpungan saat ditanya yang bagaimana batik khas Tasikmalaya.
“Tasik itu merupakan salah satu kota kelahiran batik di Indonesia. Koperasi batik terbesar di Indonesia ternyata lahir di Tasikmalaya yakni Koperasi Mitra Batik,” ungkap Kapolwil Priangan Kombes Anton Charlian MPKn usai membuka Pasanggiri Pinton Raksukan Batik se-Priangan Timur di Asia Plaza, Senin (28/12) kemarin.
Pagelaran pasanggiri akan berlangsung hingga 3 hari ke depan dengan diikuti 214 peserta dari wilayah Priangan Timur. Para peserta didominasi anak-anak dan remaja. Karena bernama pasanggiri batik, maka seluruh peserta tentu saja diwajibkan mengenakan pakaian batik.
Anton menambahkan, masyarakat Tasikmalaya khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya harus merasa memiliki terhadap batik karena batik merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan.
Anton juga meminta agar pemerintah dan masyarakat Tasikmalaya menggali kembali batik asli Tasikmalaya sehingga Tasikmalaya memiliki batik khas yang diakui oleh daerah lain. “Dengan kata lain Tasikmalaya memiliki ikon batik tersendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi UKM dan Industri Perdagangan (KUKM Perindag) Kota Tasikmalaya Tantan Rustandi, mengaku pihaknya terus berupaya keras menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mau memakai batik.
“Kita pun mencanangkan tahun 2010 menjadi trend batik, dan langkah ke arah sana terus kita galakan dengan menumbuhkan kesadaran berbatik kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia mengatakan, untuk langkah awal tidak terpaku harus memakai batik khas Tasik, tetapi asal memakai batik saja baik itu Garutan, Ciamisan atau Pekalongan. “Yang penting pakai batik saja, dan batik Tasik tidak punah,” tegasnya.
Tantan juga mengatakan, jumlah pengrajin batik di Kota Tasikmalaya saat ini sudah mendekati 30 pengrajin sehingga ada peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya 20-an.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kliping

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: