Connect with us

Metrum

Pawai Obor dan Pesta Kembang Api

TASIKMALAYA kini tanpa sekat. Tasikmalaya bukan lagi sebuah lokasi. Pergulatan pemikiran berbaur dari berbagai arah belahan dunia.

Sekalipun induk Kabupaten Tasikmalaya sudah melahirkan daerah otonom baru Kota Tasikmalaya, tetapi secara kultural keduanya masih menyatu. Atribut Kota Santri sudah melekat dan merasuk. Termasuk mewarnai wacana perayaan tahun baru. Kerapkali menjadi pemantik diskusi yang tak pernah basi.

Ada kalangan yang menyayangkan, perayaan Tahun Baru Islam kalah pamor oleh Tahun Baru Masehi. Antara pawai obor dan pesta kembang api.

Perayaan Tahun Baru Hijriah tempo hari, sebetulnya sudah lebih bergelora ketimbang sebelumnya. Ditandai dengan Tasikmalaya Muharam Festival (Tasmufest). Zikir on The Street, mengena pada bingkai Kota Santri.

Seperti yang sudah-sudah. Tahun Baru Masehi pun tak kalah gebyar. Pesta kembang api selalu menjadi ciri. Tak tampak pawai obor, detik-detik menjelang Januari. Di Kabupaten Tasikmalaya, Gedung Bupati Tasikmalaya menjadi perhatian. Rangkaian acara menjelang tahun baru bertajuk Tasikmalaya Motekart digeber selama dua pekan, dikaitkan dengan Hajat Mulud. Namun replika Menara Eiffel dari bambu yang dibangun di kawasan itu sempat mengundang pertanyaan. Apa hubungannya Tasikmalaya dengan Paris?

Di pusat Kota Tasikmalaya, Tugu Asmaulhusna diresmikan bertepatan dengan perayaan tahun baru Masehi. Lagi-lagi soal itu pun mengundang komentar. Di antaranya ada yang memandang, alangkah lebih baik bila peresmian Tugu Asmaulhusna dilaksanakan menjelang Tahun Baru Hijriah, 1 Muharam.

Replika Menara Eiffel bambu di Singaparna dan Tugu Asmaulhusna di jantung Jl. HZ. Mustofa tak dipungkiri menjadi pusat perhatian warga. Terlepas dari silang paham yang menyertainya, fenomena itu menenggarai meleburnya batas wilayah tradisi dan modern. Antara penampilan dan kenyataan. Walau bagaimana pun Eiffel bambu dan Tugu Asmaulhusna hasil proses peleburan di segala bidang.

Kedua proses kreatif itu, melahirkan penafsiran relasi antara pengetahuan dan kekuasaan. Filsuf Perancis, Michel Foucault memandang antara pengetahuan dan kuasa terdapat relasi yang saling berkembang. Tidak ada praktek pelaksanaan kuasa yang tidak memunculkan pengetahuan dan tidak ada pengetahuan yang di dalamnya tidak mengandung relasi kuasa. Relasi saling mempengaruhi itu terjadi dalam berbagai lini kehidupan.***

Lanjutkan
Terkait...
Komentari

Tinggalkan Balasan

Metrum

  • DIARY

    Soempah Pemoeda Milenial

    Diskusi terfokus ikhwal relevansi Soempah Pemoeda era milenial, digelar di Redaksi H.U. Kabar Priangan, Senin (29/10/2018)....

  • DIARY

    Menyambungkan Rasa

    Menyambungkan rasa itu penting. Butuh totalitas. Apalagi saat kita bergerak di dunia yang harus dihayati dan...

  • DIARY

    Gerakan Membaca Koran

    Serikat Perusahaan Pers (SPS) Jawa Barat langsung ancang-ancang menggelorakan kampanye gerakan membaca koran seusai menggelar Musyawarah...

  • Metrum

    Deja Vu Tasikmalaya

    Beberapa hari seusai Kota Tasikmalaya merayakan sweet seventeen, saya berkunjung ke Singaparna, ibu kota Kabupaten Tasikmalaya....

  • Metrum

    I will be missing You #TerimakasihPath

    KECERIAAN Friendster dan kehangatan Multiply telah berlalu. Layanan mikroblog dan blog dalam jaringan itu sudah bubar...

  • Lorong

    Pulitik Daun Hanjuang

    NGARANNA ogé hajat. Satutas lekasan mah layar-layar diturunkeun. Keun urang teundeun di handeuleum sieum, tunda di...

Terhangat

Ke Atas