Connect with us

Metrum

Pemulihan Psikologis

SWAFOTO bersama para pemimpin redaksi. Searah jarum jam, Ajip Rosidi (Kiblat Buku Utama), Cecep Burdansyah (Tribun Jabar), Eddy D. Iskandar (Galura), Tatang Sumarsono (Mangle) — di sela acara Gelar Buku: Tapak Lacak Duduh Durahman — Bandung, Sabtu (28/5/2016). Ajang yang digelar Tim Tujuh Paguyuban Pangarang Sastra Sunda (PP-SS) dan Kiblat Buku Utama di Aula Perpustakaan Ajip Rosidi itu selain menjadi ruang refleksi, sekaligus reuni yang mencerahkan.


GEBYAR pemilihan kepala daerah (pilkada), selalu menarik perhatian. Lebih kuat ketimbang ajang mencari bintang dunia hiburan. Lebih menguras emosi ketimbang menonton film-film drama. Sebab Pilkada — diakui atau tidak — menyentuh segala penanda kehidupan.

Kisah paling lengkap terangkum dalam perhelatan demokrasi itu. Kolosal. Banyak orang yang terlibat. Mulai dari tokoh ternama sampai rakyat jelata. Banyak sektor yang tersentuh. Bukan semata politik, tetapi semua aspek kehidupan mengikuti arusnya yang deras.

Saat pilkada berlangsung di mana pun, seluruh warga terlibat. Sekalipun tidak menggunakan hak pilihnya, tetap menjadi bagian yang masuk hitungan. Dikolomkan ke dalam golongan putih. Menjadi faktor yang disebut-sebut sangat berpengaruh terhadap tingkat partisipasi berpolitik.

Ajang pilkada memberi kesempatan kepada warga untuk menentukan sikap. Menentukan pilihan. Hak untuk mengungkapkan kebebasan berkehendak. Kekuasaan untuk berbuat sesuatu yang dilindungi undang-undang.

Pilihan tidak harus sama. Bila seragam, namanya bukan pilihan, tapi persetujuan. Artinya tidak memerlukan pemungutan suara lagi.

Kandidat yang terpilih tentu memaklumi kondisi itu. Pilkada tercipta demi memenuhi hasrat warga menyalurkan harapan. Semua kandidat sebelumnya sudah bekerja keras menawarkan konsep dalam kontes sepanjang tahapan proses menuju hari pemungutan suara.

Pemenang kontes artinya menjadi orang yang paling diharapkan. Tetapi bukan berarti mengabaikan warga lain yang menitipkan harapan kepada kandidat yang kalah kontes. Harapan pemilih tentu menginginkan yang terbaik. Semua kandidat menawarkan program yang ideal.

Siapa pun yang terpilih mesti mengakomodir harapan-harapan warga yang dititipkan kepada kandidat lain. Siapa pun yang tidak terpilih, ada baiknya menyerahkan konsep dan program yang ditawarkan kepada warga yang mendukungnya kepada pemenang kontes.

Harapan adalah gejala psikologis atau kejiwaan. Artinya, seusai pilkada pemulihan psikologis, langkah pertama yang sangat mendesak. Rekonsiliasi.***

Komentari

Tinggalkan Balasan

Metrum

  • Lorong

    Pulitik Daun Hanjuang

    NGARANNA ogé hajat. Satutas lekasan mah layar-layar diturunkeun. Keun urang teundeun di handeuleum sieum, tunda di...

  • Metrum

    Perihal Kabar Pilkada

    GRUP Kabar Pilkada (KP) diluncurkan 8 Februari 2012, lima bulan menjelang Pemilihan Umum Kepala Daerah Kota...

  • Metrum

    Hijrah Kala

    PERAYAAN tahun baru dari masa ke masa selalu disambut dengan hangat. Fakta itu tak bisa dibantah....

  • Metrum

    Orasi dan Puisi

    TAK ada angin tak ada hujan perbincangan para aktivis mahasiswa menukik tajam pada naluri paling dasar....

  • Metrum

    Rekognisi Desa

    LARIK-LARIK nyanyian Desaku karya Liberty Manik masih terngiang hingga kini. Lagu itu jadi andalan saat disuruh...

  • Metrum

    Berkarya dan Mengabdi

    PERJALANAN tak cuma menempuh jarak, tetapi juga menata gerak dan waktu yang menentukan titik balik eksistensi....

Terhangat

LITERASI digital, kesatuan utuh dari enam literasi dasar (baca tulis, numerasi, finansial, sain, budaya dan kewargaan). youtu.be/LXufW7urHx8

About 2 days ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Twitter for Android

Ke Atas