Connect with us

Metrum

Percakapan Kebudayaan

kapol-300X250-KARTUNBANYAK persoalan bisa diselesaikan di sebuah tempat yang menyenangkan. Berdialog santai, sambil mendengar musik. Minum kopi.

Kontes politik sepanas apa pun, pada akhirnya akan meredup. Tarik-menarik kepentingan, biasanya akan mencari irisan. Perbedaan justru saling menguatkan untuk saling menguji kompetensi.

“Percakapan Kebudayaan” yang digelar Lembaga Seni dan Budaya Nahdlatul Ulama (Lesbumi) Kota Tasikmalaya, membuktikan.
Para politisi dari berbagai haluan bisa duduk satu panggung. Berbincang saling terus terang. Dibumbui gurauan segar yang menukik. Serius tapi santai.

Sekalipun yang hadir dalam ajang itu tidak lengkap, tetapi saripati perbincangan sangat lezat. Ketua PBNU Kota Tasikmalaya, Didi Hudaya langsung melancarkan seloroh politik yang cerdas. “Budaya bukan singkatan dari
Budi Budiman-Didi Hudaya,” katanya.
Wali Kota Tasikmalaya yang hadir dalam

“Percakapan Kebudayaan” itu langsung menyambut ungkapan itu dengan gembira.
Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Tasikmalaya, Miftah Fauzi pun tampak ceria, walaupun disindir Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Denny Romdoni. Mereka bergembira. Termasuk Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Agus Setiawan.

Tak ketinggalan Atang Setiawan (Partai Nasional Demokrat) dan Abun Sulaeman (Partai Kebangkitan Bangsa). Mereka berbinar-binar.

“Percakapan Kebudayaan” melecut suasana riang. Menandaskan kebudayaan merepresentasikan segala macam praktik, seperti seni penggambaran, komunikasi yang menyentuh bidang-bidang ekonomi, sosial, dan politik dan sering muncul dalam bentuk-bentuk estetis, yang salah satu tujuan utamanya adalah kesenangan.
Kebudayaan, sebuah konsep yang mencakup suatu unsur penyaring dan pengangkat, gudang terbaik yang dimiliki setiap masyarakat yang telah dikenal dan dipikirkan.

Kebudayaan meredakan atau menetralkan kerusakan-kerusakan eksistensi urban yang modern, agresif, berbau dagang, dan kejam.

Kebudayaan akan dikaitkan dengan bangsa atau negara, membedakan kita dari mereka. Sumber jati diri yang harus diperjuangkan.
Kebudayaan adalah panggung tempat berbagai kausa politik dan ideologi saling terkait.

Kesantunan warga Tasikmalaya akan terwujud melalui pembentukan konsensus terus menerus. Kompromi pun bisa melahirkan ketukan yang harmonis, seperti suguhan musik Aswaja fil Harmony bertajuk “Kami Tidak Takut” di Jalan dr. Sukardjo malam tempo hari.

Lanjutkan
Komentari

Tinggalkan Balasan

Metrum

  • DIARY

    Soempah Pemoeda Milenial

    Diskusi terfokus ikhwal relevansi Soempah Pemoeda era milenial, digelar di Redaksi H.U. Kabar Priangan, Senin (29/10/2018)....

  • DIARY

    Menyambungkan Rasa

    Menyambungkan rasa itu penting. Butuh totalitas. Apalagi saat kita bergerak di dunia yang harus dihayati dan...

  • DIARY

    Gerakan Membaca Koran

    Serikat Perusahaan Pers (SPS) Jawa Barat langsung ancang-ancang menggelorakan kampanye gerakan membaca koran seusai menggelar Musyawarah...

  • Metrum

    Deja Vu Tasikmalaya

    Beberapa hari seusai Kota Tasikmalaya merayakan sweet seventeen, saya berkunjung ke Singaparna, ibu kota Kabupaten Tasikmalaya....

  • Metrum

    I will be missing You #TerimakasihPath

    KECERIAAN Friendster dan kehangatan Multiply telah berlalu. Layanan mikroblog dan blog dalam jaringan itu sudah bubar...

  • Lorong

    Pulitik Daun Hanjuang

    NGARANNA ogé hajat. Satutas lekasan mah layar-layar diturunkeun. Keun urang teundeun di handeuleum sieum, tunda di...

Terhangat

Ke Atas