Connect with us

Buku

Peristiwa Imajinatif Istri tanpa Clurit


MENJADI pelaku sastra harus ditopang kesungguhan. Menghayati proses dengan hidmat. Paling tidak, semangat itu yang hendak disampaikan Bode Riswandi, dalam antologi cerita pendek Istri tanpa Clurit.

Tidak semata-mata melahirkan karya, tetapi juga seolah menjadi ajakan kepada komunitas sastra di Tasikmalaya, agar terus berdenyut. Melahirkan buku adalah pengalaman batin yang paling memukau.

Pembuktian esensi sekaligus eksistensi pelaku sastra di mana pun berkiprah. Tidak berlebihan, bila novelis ternama Ahmad Tohari, memandang Tasikmalaya sebagai rahim bumi yang melahirkan sastrawan berkelas.

Acep Zamzam Noor, sastrawan kelas dunia, tentu tidak diam. Sastrawan pituin Tasikmalaya yang tidak pernah berhenti menjadi mahaguru bagi generasi berikutnya. Sanggar Sastra Tasik (SST) yang digelorakan Acep Zamzam Noor bersama Saeful Badar, secara konsisten membangun dan mengembangkan sastra Tasikmalaya sebagai kawah candradimuka calon sastrawan berkelas. Sekaligus mendampingi penikmat sastra agar memiliki dasar untuk menjadi apresiator yang berkelas pula.

Menurut catatan Ketua Pondok Media Tasikmalaya, D. Dudu Ar, SST sedikitnya, telah menerbitkan sepuluh buku antologi puisi dalam rentang tahun 1997 hingga 2003. Khazanah kesusastraan Tasikmalaya yang membanggakan telah lahir, mulai dari Antologi Puisi Nafas Gunung. Editor Acep Zamzam Noor. Terbit tahun 1997 bekerjasama dengan Penerbit Biduk Bandung. Berisi puisi-puisi yang lolos seleksi ketat pada acara Cakrawala Sastra Kita (CS-KITA) di Radio RSPD FM Tasikmalaya yang diasuh oleh Sanggar Sastra Tasik (SST).

Antologi Puisi Datang dari Masa Depan. Editor Toto Sudarto Bachtiar, Acep Zamzam Noor, Hikmat Gumelar & Karno Kartadibrata. Terbit tahun 1999, berisi 37 puisi dari 37 Penyair Indonesia yang masuk nominasi Lomba Cipta Puisi Nasional, Pesta Sastra Tasikmalaya 1999.

Antologi Puisi Orasi Kue Serabi. Editor Drs. Jojo Nuryanto M.Hum. Terbit tahun 2001 bekerja sama dengan Gedung Kesenian Tasikmalaya. Berisi puisi-puisi para penyair Tasikmalaya, Garut, Bandung dan Ciamis yang aktif bersosialisasi di Sanggar Sastra Tasik (SST).

Antologi Puisi Enam Penyair Menembus Udara. Editor Irvan Mulyadie. Terbit tahun 2001. Berisi puisi-puisi dari penyari peserta ‘Program Tradisi Enam’ tahap ke-1.

Antologi Puisi Epigram buat Suharto, karya Saeful Badar. Terbit tahun 2001. Berisi 36 puisi sosial karya penyair Saeful Badar.

Antologi Puisi Enam Membentur Dinding. Editor Nizar Kobani. Terbit tahun 2002. Berisi puisi-puisi dari penyari peserta ‘Program Tradisi Enam’ tahap ke-2.

Antologi Puisi Enam Penyair Meminum Aspal. Editor Sarabunis Mubarok. Terbit tahun 2002. Berisi puisi-puisi dari penyari peserta ‘Program Tradisi Enam’ tahap ke-3.

Antologi Puisi Muktamar. Editor Acep Zamzam Noor. Terbit tahun 2003. Berisi puisi-puisi dari 30 Penyair peserta Muktamar Penyair Jawa Barat 2003 yang diselenggarakan oleh Sanggar Sastra Tasik bekerjasama dengan Forum Komunikasi Sastra Jawa Barat di Tasikmalaya.

Antologi Puisi Enam Penyair Menghisap Knalpot. Editor Ashman Syah Timutiah. Terbit tahun 2003. Berisi puisi-puisi dari penyari peserta ‘Program Tradisi Enam’ tahap ke 4.

Antologi Puisi Poligami. Editor Acep Zamzam Noor. Terbit tahun 2003. Berisi puisi-puisi dari para Penyair Tasikmalaya yang lolos ‘Program Tradisi Enam’, sebuah program dengan mengupayakan uji publik dan telaah karya (kritik) bagi para penyair Sanggar Sastra Tasik (SST).

Bode Riswandi pun termasuk pelaku yang bergiat bersama SST. Tradisi penerbitan itu tidak berhenti. Kini Bodelah salah seorang yang melanjutkan estafeta itu. Menjelang akhir tahun 2011, sepuluh cerita pendeknya dirangkum dalam antologi cerita pendek Istri tanpa Clurit. Pertanda yang sangat menggembirakan.

Bode dengan cerdas memanfaatkan kekuatan ekspresi berbahasa untuk memotret peristiwa di sekitarnya. Berbagai latar tempat dan waktu dalam kumpulan cerpennya diimajinasikan dengan pilihan kata lentur. Rangkaian peristiwa menjadi utuh membangun struktur cerita. Simak cerita pendek Istri tanpa Clurit yang menjadi tajuk antologi cerpennya. Jalan pikiran tokoh-tokoh yang liar dan tidak masuk akal dalam cerpen itu bisa dinikmati. Saat membacanya, boleh jadi, bakal banyak orang tergoda untuk menuntaskannya sampai kalimat terakhir. Berbagai tafsir bisa muncul, lantaran ketaksaan atau ambiguitas yang dibangun pengarang dengan sadar diciptakan. Istri tanpa Clurit, boleh dibilang puisi yang diprosakan. Kekuatan imajinasi Bode sangat membuka ruang pembaca untuk kreatif menafsirkan intisari cerita.

Peristiwa yang diangkat dalam kumpulan cerita pendek Bode yang diterbitkan Ultimus (Bandung) itu, sangat intim dengan keseharian. Para Pembunuh, Riwayat Penyemir Lars, Tamu Asing Ibu Menteri, Menangisi Anjing, Pelacur yang Mati di Kali, Menjadi Teman Baik Pelacur, dan Pelacur yang Disekap Sehari Menjelang Pilkada, mengisahkan penggalan perjalanan hidup yang sesungguhnya bisa dialami tokoh-tokoh di dunia nyata dan menjadi kritik sosial yang mencerdaskan.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Buku

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: