Connect with us

Metrum

Pesan Fabel

Pesan Fabel

Sejak dini dikenalkan pada imajinasi. Fiksi lama yang tersebar luas secara lisan. Hewan berperilaku seperti manusia. Bergaul. Lintas spesies. Kura-kura dan monyet seringkali jadi tokoh. Kadang intim kadang bertengkar. Mereka pernah punya urusan dengan petani.

Suatu waktu, kura-kura bermasalah dengan monyet. Curhat kepada kepiting. Suling milik kura-kura dipinjam monyet, namun tidak dikembalikan. Perbincangan di tepi sungai berlangsung. Kura-kura dan kepiting bersepakat. Mereka menyusun rencana, agar suling bisa kembali.

Tentu saja tiga gratis. Kepiting minta seekor kerbau, jika berhasil membantu kura-kura. Sepakat. Keduanya bergegas. Monyet sedang asyik meniup suling di atas pohon. Diam-diam kepiting naik, kemudian menjepit ekor monyet sampai buntung. Suling jatuh. Kembali ke tangan kura-kura.

Monyet yang membawa kabur suling itu malu, karena ekornya buntung. Tubuhnya menjadi kecil. Sampai saat ini masih suka merintih. Suaranya yang berbeda dengan jenis monyet lain, konon sebagai ungkapan rasa sakit. Memori lama saat ekornya dijepit kepiting. Rintihan menjadi nyanyian.

Ekspresi siswa saat mendongeng

Suaranya melengking. Karakter owa itu persis seperti dalam dongeng. Namun fakta dalam dongeng tak bisa ditelan bulat. Realitas subjektif dan realitas objektif hal berbeda. Dunia dongeng dunia imajinatif. Boleh jadi ada tautan dengan realitas. Bisa direka dalam cerita. Fiksional.

Fabel selalu menyampaikan pesan moral melalui rangkaian imajinasi dalam alur cerita. Ayam bersayap tapi tak bisa terbang karena dikutuk. Ayam dihukum karena sombong. Seperti halnya owa. Setelah dipermalukan kehilangan ekor akhirnya menebus dosa. Seumur hidup setia pada pasangan.

Sedikitnya 40 siswa SD se-Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya dijajal mendongeng dalam ajang Apresiasi Bahasa dan Sastra Daerah (ABSD), Kamis (14/2/2019). Ikhtiar konkret menuai nilai sastra lama berbahasa Sunda. Menghayati pesan moral yang disampaikan cerita rakyat.

Bersama peserta Apresiasi Bahasa dan Sastra Daerah (ABSD)

Pesan moral dalam fabel disampaikan secara implisit. Adegan demi adegan. Dari monolog sampai dialog tokoh-tokohnya. Amanat cerita mudah dicerna dengan gaya personifikasi. Hewan bahkan benda bertingkah bak manusia. Pendidikan karakter disampaikan dengan jitu. Tiruan sifat manusia.

Fabel memulihkan pikiran. Personifikasi hewan. Tidak aneh jika ada asosiasi sebaliknya. Menautkan manusia dengan sifat hewan. Semacam sindiran radikal. Fenomena itu sedang berlangsung. Mereka saling hujat. Satu kecebong lainnya kampret. Keduanya sama-sama berimajinasi. Kreatif.

Disadari atau tidak, majas melekat dengan keseharian. Saat ngobrol di kedai kopi, lahir perbandingan untuk menjelaskan gagasan. Kiasan mengalir, mempertegas efek. Menghidupkan imajinasi. Bukan saja dalam dongeng yang disuguhkan dalam ajang ABSD tempo hari. Indah. Bersyukurlah. ūüôā

Diskusi di Facebook
Continue Reading
Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Tinggalkan Balasan

Advertisement WordPress.com

Sedang menunaikan metode analisis sosial. Merumuskan akar masalah. Menjawab pertanyaan, apa, siapa, di mana, kenapa, kapan, dan mengapa masalah itu sampai terjadi. Mengapa swafoto atau groufie mesti terjadi, seusai‚Ķ instagram.com/p/B5GjWTKHX7w/…

Yesterday from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Instagram

To Top