Connect with us

Metrum

Pokok dan Tokoh

image

SETIAP orang memiliki hak untuk meloloskan diri dari segala bentuk tekanan. Faktanya hak itu tidak selalu mulus mendapat ruang. Kendati kebebasan berkehendak yang semula dilaungkan di forum khusus, sudah merebak menjadi perbincangan sederhana di warung yang menyentuh segala kalangan.

Isu sentral sejak awal pemikiran para filosof itu kini sudah membumi. Siapa pun sepakat, kehendak bebas adalah anugrah yang patut disyukuri. Keistimewaan yang dimiliki makhluk untuk membuat pilihan secara sukarela.

Termasuk seseorang menentukan eksistensi diri, tidak perlu disikapi berlebihan. Sekalipun caranya mematut-matut diri dianggap sekadar drama. Biarlah ruang ekspresi bermekaran di banyak tempat. Kembalikan kepada hak yang paling dasar.

Toh, pertunjukan drama bisa berlangsung di mana saja. Drama konkret. Tanpa naskah. Berkumpul di suatu tempat. Ngobrol ngalor-ngidul, membahas ini dan itu. Tanpa disadari dialog yang terjadi sudah membangun unsur dramatik.

Bisa dipastikan di sana ada tokoh dan latar tempat. Persoalannya, tidak setiap tokoh memiliki pikiran yang bisa dibanggakan. Dialog pun alakadarnya saja. Sekadar untuk mencari kesenangan. Artifisial pun biarkan saja.

Pemilihan umum kepala daerah (pilkada) pun tidak terlepas dari unsur dramatik. Bahkan lebih serius. Berbagai langkah dilakukan agar melahirkan kesan megah dan berpengaruh.
Menciptakan tokoh. Digadang-gadang dan dielu-elukan.

Panggung drama demokrasi bukan kali pertama. Sejak pascareformasi sudah cukup disuguhi pesta demokrasi, baik lokal, regional, mau pun yang Indonesia. Tokoh-tokoh memang banyak tercipta. Tak bisa dibantah.

Namun rupanya sampai saat ini belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Masyarakat terjebak kecenderungan lama yang khas. Paternalistik. Masih terpaku pada figur atau siapa yang menjadi pemimpin. Belum bergeser pada pokok, panggilan jiwa untuk apa dan siapa memimpin.

Kepada siapakah harus berpihak? Apakah yang mendasari keputusan perumusan kebijakan didominasi oleh kepentingan politis ataukah didasari analisa objektif yang bisa dipertanggungjawabkan?

Lanjutkan
Komentari

Tinggalkan Balasan

Metrum

  • DIARY

    Soempah Pemoeda Milenial

    Diskusi terfokus ikhwal relevansi Soempah Pemoeda era milenial, digelar di Redaksi H.U. Kabar Priangan, Senin (29/10/2018)....

  • DIARY

    Menyambungkan Rasa

    Menyambungkan rasa itu penting. Butuh totalitas. Apalagi saat kita bergerak di dunia yang harus dihayati dan...

  • DIARY

    Gerakan Membaca Koran

    Serikat Perusahaan Pers (SPS) Jawa Barat langsung ancang-ancang menggelorakan kampanye gerakan membaca koran seusai menggelar Musyawarah...

  • Metrum

    Deja Vu Tasikmalaya

    Beberapa hari seusai Kota Tasikmalaya merayakan sweet seventeen, saya berkunjung ke Singaparna, ibu kota Kabupaten Tasikmalaya....

  • Metrum

    I will be missing You #TerimakasihPath

    KECERIAAN Friendster dan kehangatan Multiply telah berlalu. Layanan mikroblog dan blog dalam jaringan itu sudah bubar...

  • Lorong

    Pulitik Daun Hanjuang

    NGARANNA ogé hajat. Satutas lekasan mah layar-layar diturunkeun. Keun urang teundeun di handeuleum sieum, tunda di...

Terhangat

Ke Atas